Oh... My Sexy Girl

Oh... My Sexy Girl
Sabar, Masih Flashback (Membuat Rencana)



"Apa Papa mu tidak tahu tentang Attar?" tanya Nico heran. Rasanya mustahil kalau Papa-nya Namee tidak mengetahui latar belakang Attar. Sedangkan teman-teman Namee saja tahu.


"Entah lah, aku juga tidak tahu. Tapi aku rasa Papa ku tidak tahu, karena kalau dia tahu tidak mungkin dia memaksa ku menikah dengan Attar." jawab Namee.


"Apa kamu itu bodoh atau bagaimana! Bisa saja kan ada perjanjian di balik perjodohan itu!" balas Nico.


"Perjanjian? Maksud mu?" tanya Namee.


"Apa pekerjaan Papa mu?" tanya Nico.


"Dia seorang dokter." jawab Namee.


"Apa Papa mu memiliki klinik atau mungkin usaha sampingan lainnya?" tanya Nico.


"Papa ku hanya memiliki sepuluh klinik." jawab Namee.


"Apa mungkin Papa mu pernah meminjam uang pada Attar untuk membangun klinik?" tebak Nico.


"Aku tidak tahu. Karena tamat SMA aku langsung ke New Zeland karena aku mendapat beasiswa disana." jawab Namee.


"Memangnya sebelum kamu pergi, klinik Papa mu ada berapa?" tanya Nico dengan tatapan curiga. Satu kecurigaan Nico, kalau Papa-nya Namee memiliki hutang budi atau hutang uang pada Attar.


"Hanya ada tiga." jawab Namee.


"Berarti dalam kurun waktu tiga tahun Papa mu bisa membuka klinik lagi?"


Namee mengangguk.


"Rasanya mustahil! Fix, ketujuh klinik Papa itu ada sangkut pautnya dengan Attar, makanya Papa mu ngotot ingin menikahkan mu dengan Attar." ucap Nico.


"Tapi kenapa? Kenapa Papa ku tega menikahkan ku dengan Attar? Kalau memang Papa ku punya hutang dengan Attar, aku bisa mencicil-nya!"


"Tidak semudah itu Namee! Aku yakin Papa mu orang yang sangat ambisius, makanya saat dia bekerja sama dengan Attar dia tidak memikirkan kedepannya! Padahal orang yang diajak bekerja sama adalah orang yang sangat licik!" jawab Nico.


Namee tertunduk sedih. Benar kata Nico, Papa Nadeem adalah orang yang sangat ambisius.


"Lalu aku harus bagaimana sekarang? Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu!" lirih Namee.


"Bukannya kamu bilang sedang kuliah di New Zeland? Bilang saja pada Papa mu untuk menunggu sampai kamu selesai kuliah. Setidaknya untuk mengulur waktu, karena bisa saja dalam kurun waktu itu Attar bisa melupakan obsesinya pada mu." jawab Nico.


"Beasiswa ku dicabut. Entah apa salah ku sampai beasiswa ku dicabut pun aku tidak tahu." jawab Namee.


"Mungkin beasiswa mu juga ada peran Attar. Kalau memang itu benar, itu berarti Attar memang sudah lama mengincar diri mu." balas Nico.


"Lalu aku harus bagaimana sekarang? Huwaaaa..." tangis Namee pecah seketika.


"Hei jangan menangis! Itu sangat berisik!" ucap Nico.


"Kamu bilang tadi ingin meminta bantuan ku, katakan apa yang perlu aku bantu." tanya Nico.


"Aku rasa cara ku tidak akan berhasil kalau memang laki-laki itu terobsesi pada ku." jawab Namee.


"Beritahu aku apa rencana mu? Mana tahu saja memang bisa." balas Nico.


"Tadinya aku mau minta bantuan mu untuk berpura-pura menjadi kekasih ku dan melamar ku, ya setidaknya Papa ku tahu kalau aku punya kekasih jadi aku tidak perlu di jodohkan oleh laki-laki itu. Tapi karena kamu bilang Papa ku dan Attar memiliki perjanjian, aku rasa Papa ku tidak akan mengubah keputusannya." jawab Namee.


Nico terdiam sesaat, otaknya yang tidak pernah ia ajak berpikir pagi itu terpaksa ia harus ajak berpikir.


Lima menit kemudian.


"Aku punya ide." ucap Nico saat ide cemerlang terpikirkan di otaknya.


"Apa?" tanya Namee.


"Daripada kamu berusaha mengubah keputusan Papa mu karena aku yakin Papa mu pasti berada di bawah tekanan Attar, jadi lebih baik kamu membuat Attar yang menyerah untuk mendapatkan mu." jawab Nico.


"Caranya?"


"Laki-laki seperti Attar pasti tidak akan suka kalau wanita incarannya di dekati oleh laki-laki lain, jadi bagaimana kalau kamu menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Lalu perkenalkan laki-laki itu di depan Attar dan kalau perlu bermesra-mesraan sekalian di depan Attar." ucap Nico.


"Bukannya itu nanti akan membahayakan laki-laki itu dan juga membahayakan keselamatan Papa ku?" tanya Namee.


"Ya, mau tidak mau. Daripada membahayakan diri mu." jawab Nico.


"Makanya kalau perlu, laki-laki yang menjadi pasangan mu itu harus laki-laki yang lebih kuat dari Attar. Ya kuat dalam segi kekuasaan atau fisik atau apalah, yang jelas lebih di atas Attar." lanjut Nico.


"Kalau begitu, kamu saja yang menjadi pasangan ku, bagaimana?" usul Namee. Toh dari awal memang Namee ingin meminta bantuan Nico.


"Aku? Ah.. tidak.. tidak.. tidak! Aku laki-laki lembek! Aku hanya keras saat diranjang." tolak Nico tanpa pikir panjang. Ia sama sekali tidak mau berada dalam hubungan yang rumit apalagi berurusan dengan seorang psikopat.


"Ayolah, kan ini ide mu. Jadi hanya kamu yang tahu bagaimana alurnya. Please." Mohon Namee.


"Tidak! Pokoknya aku tidak mau. Kamu yang lain! Aku hanya memberi ide. Dan asal kamu tahu ide yang keluar dari kepala ku itu sangat mahal karena otak ku ini jarang aku pakai untuk berpikir!" Nico keukeuh menolak usul Namee.


Tapi Namee tidak hilang akal. Dia berdiri dari tempat duduknya lalu tanpa Nico sangka Namee langsung duduk pangkuannya.


Segala bujuk rayu pun Namee keluarkan untuk merayu Nico agar mau berpura-pura menjadi kekasihnya untuk membuat Attar menyerah padanya.


Nico yang awalnya keukeuh tidak mau berpura-pura menjadi pasangan Namee, akhirnya pun luluh dengan permintaan Namee karena wajah Namee yang polos dan memelas. Rasanya ia tidak sanggup jika harus membiarkan gadis sepolos Namee jatuh ke tangan seorang psikopat dan masokis.


💋 💋 💋


Bersambung...