
Max pun merangkul pundak Alice dan mereka pun berjalan menuju pintu klub.
"Om, saya tunggu di luar saja, saya mohon." mohon Alice.
"Diam kau! Bukannya kau juga sering ke klub malam? Jadi jangan sok-sok suci!" balas Max.
"Saya memang sering ke klub malam, tapi tidak pernah memakai pakaian seperti ini. Memangnya waktu kita bertemu, pakaian saya terbuka seperti ini, tidak kan? Ayo lah Om, saya mohon." mohon Alice.
"Sekali aku bilang tidak yah tidak! Di dalam sana banyak wanita yang berpakaian lebih seksi dari ini, jadi tidak akan ada yang tertarik memperhatikan mu! Ayo cepat masuk, jangan sok cantik dan akan menjadi pusat perhatian laki-laki!" tolak Max sekali lagi.
"Dan satu lagi, jangan memanggil ku Om! Ku gigit bibir mu kalau kau memanggil ku Om lagi!" ancam Max.
Max pun menarik tangan Alice dan masuk kedalam klub malam.
Bunyi dentuman musik yang sangat keras langsung menyambut mereka begitu mereka berada di dalam klub malam.
Max pun berjalan menuju table-table untuk menyapa teman-temannya, bukan karena ramah tapi karena ingin memarkan Alice.
"Hai bro, apa kabar long time no see." sapa Max pada temannya yang ada di table satu. Padahal sebelum-sebelumnya kalau Max datang ke klub dan melihat temannya itu, Max tidak pernah menyapanya, jangankan menyapa, menoleh ke arah table-table di lantai satu itu saja tidak.
"Hai Max, kau rapih sekali. Apa kau baru dari sebuah acara?" Tanya pria itu.
"Ya, aku baru bertunangan. Kenalkan ini tunangan ku." jawab Max bangga sambil memperkenalkan Alice.
Pria itu menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Alice, tapi saat Alice ingin menyambut uluran tangan pria itu, cepat-cepat Max menepis tangan Alice.
"Tidak usah bersalaman. Aku tidak ingin ada yang menyentuh barang milik ku!" ucap Max penuh penekanan.
Pria itu hanya tersenyum sambil menarik lagi tangannya yang menjulur.
"Baiklah. Selamat atas pertunangan kalian kalau begitu." ucap pria itu.
Max pun beralih ke table yang lainnya.
Sama seperti di table pertama, di table kedua ini Max juga dengan bangga memperkenalkan Alice sebagai tunangannya dan Max melarang teman Max itu untuk bersalaman dengan Alice.
Ada empat meja yang Max datangi.
Dirasa sudah cukup memperkenalkan Alice pada teman-temannya, Max pun mengajak Alice ke lantai dua, tempat table-nya dan kedua sahabatnya berada.
Saat hampir sampai di tangga, Max bertemu dengan salah seorang temannya lagi bersama seorang wanita penjual tempe, sepertinya pria tidak bermodal itu baru mengajak wanita itu bercinta di belakang klub atau di kamar mandi, karena kelihatan lipstik si wanita yang sudah tidak merah lagi.
"Hai Ray." balas Max.
"Apa ini wanita mu?" tanya Ray dengan tatapan nakal menatap tubuh Alice.
Max bukan orang bodoh yang tidak mengerti arti tatapan mata Ray. Ia tahu kalau saat ini Ray pasti sedang berfantasi liar saat melihat tubuh Alice.
Sama seperti Max, Alice juga mengerti arti tatapan Ray pada-nya. Alice yang risih dengan tatapan Ray pun langsung bersembunyi di balik tubuh Max dan menempelkan tubuhnya di punggung Max, agar Ray tidak melihat bagian dada-nya.
"Ya, ini tunangan ku! Jadi aku harap jaga mata mu!" jawab Max tidak suka dengan cara Ray menatap Alice.
Ray hanya terkekeh mendengar teguran Max lalu mendekati Max.
"Kalau kau sudah bosan, beritahu aku, oke. Aku juga ingin mencicipinya." bisik Ray. Dari aroma nafas Ray, ketahuan sekali kalau Ray sedang mabuk karena nafasnya bau alkohol.
Mendengar itu jelas saja Max emosi. Max langsung mendorong tubuh Ray hingga Ray jatuh ke lantai.
"Hei kau kenapa! Kenapa mendorong ku!" teriak Ray. Mendengar teriakan Ray, semua mata yang ada di sekitaran situ langsung menoleh ke arah Ray dan Max.
Max mendekati Ray yang tersungkur di lantai, lalu menendang wajah Ray kemudian menginjak dada Ray.
"Sudah ku bilang dia adalah tunangan ku, berani-beraninya kau berbicara seperti itu pada ku! Ingat, berani kau mendekati tunangan ku, ku tebas burung mu itu!" ancam Max.
Setelah mengatakan itu Max pun menarik tangan Alice dan berjalan menuju tangga.
Saat menaiki anak tangga, Max melepas jas-nya lalu memberikannya pada Alice.
"Pakai itu." perintah Max.
Alice pun memakai jas yang di berikan Max.
Niat ingin memamerkan tubuh Alice yang seksi malah berujung pada Max yang emosi. Bagaimana tidak emosi kalau semua teman Max yang Max datangi tadi semua menatap Alice dengan tatapan liar.
Dan saat emosinya belum reda, datang si Ray makin memanas-manasi hati Max dengan berkata ingin mencicipi tubuh Alice. Jelas saja Ray langsung menjadi tempat melampiaskan emosi Max.
💋 💋 💋
Bersambung...