
Saat ke Vellfire Mansion, Alice sama sekali tidak membawa pakaiannya karena Mom Sye bilang semua pakaian Alice sudah tersedia. Mom Sye membelikan pakaian baru untuk menantunya itu.
Sesampainya di ruang ganti, benar saja Max sudah menyiapkan pakaian beserta pakaian dalam untuknya. Tapi yang anehnya pakaian yang Max siapkan itu bukan pakaian Alice melainkan pakaian Max. Kaos oblong Max yang sudah kekecilan untuk Max tapi masih oversize jika Alice pakai serta celana boxer Max.
"Pakailah kaos dan celana boxer itu." ucap Max dari pintu ruang ganti.
"Ini semua kan pakaian mu! Bukannya Mom bilang sudah menyiapkan pakaian untuk ku?" tanya Alice.
"Iya memang, tapi semua pakaian yang Mommy siapkan untuk mu pakaian yang kurang bahan semua! Kalau kamu tidak percaya lihat saja di lemari itu. Isi lemari itu semua pakaian mu." jawab Max sambil menunjuk lemari yang ada disisi kanan.
Alice pun membuka lemari itu dan benar saja yang di katakan Max kalau pakaian yang Mom Sye siapkan untuknya adalah pakaian yang kurang bahan alias baju dinas pengguncangan ranjang. Kalau begitu, mau tidak mau Alice memakai pakaian yang sudah disiapkan Max.
"Mau ganti disini atau di kamar mandi?" tanya Max.
"Di kamar mandi saja! Aku tidak percaya kalau kamu tidak menyembunyikan kamera disini!" jawab Alice.
Alice pun keluar dari dalam ruang ganti sambil membawa pakaian yang sudah disiapkan oleh Max.
"Jangan lama-lama, aku juga ingin membersihkan tubuh ku." ucap Max begitu Alice masuk ke kamar mandi.
Setelah mendengar bunyi pintu tertutup, Max pun melakukan selebrasi karena merasa sudah berhasil memberikan perhatian kecil untuk Alice.
Sementara di dalam kamar mandi, sambil memakai bajunya, Alice bertanya-tanya dalam hati kenapa tiba-tiba Max berubah menjadi baik dan perhatian padanya.
"Ada yang tidak beres! Pasti dia sedang merencanakan sesuatu pada ku! Aku tidak boleh terbuai oleh kebaikan si buaya purba itu." Gumam Alice dalam hati.
Setelah lima menit berada di dalam kamar mandi, Alice pun keluar dari dalam kamar mandi. Ia melihat Max sedang menyatukan dua single sofa.
"Sedang apa kamu?" tanya Alice sambil berjalan menuju ranjang.
"Sedang menyiapkan tempat untuk ku tidur." jawab Max.
Gumam Alice dalam hati.
"Kamu tidur lah, pasti kamu sudah sangat lelah." ucap Max.
Alice pun naik ke atas ranjang, sedangkan Max setelah menyiapkan tempat untuknya tidur, Max pun berjalan menuju balkon.
"Kamu tidak mandi?" tanya Alice saat melihat Max malah membuka jendela balkon.
"Aku merokok dulu. Satu hari ini aku baru dua kali merokok, mulut ku sepat sekali." jawab Max.
"Tutup jendela balkonnya, agar asapnya tidak masuk ke sini." balas Alice.
Max pun membuka jendela itu lalu menutupnya lagi dari balkon. Max pun duduk di kursi lalu mulai menikmati sebatang rokok.
"Sabar yah Jalu, Abang janji tidak lama lagi kamu akan menikmati bermain di gorong-gorong Alice." lirih Max sambil tangan kirinya mengusap kepala Jalu yang sedang bobok ganteng dan matanya menatap ke langit yang sudah bertabur bintang itu.
"Pokoknya sebelum tiga bulan, aku harus bisa membuat pasukan cebong-nya Jalu berenang-renang dan berkompetisi di dalam rahim Alice. Dan saat salah satu pasukan cebong sudah berhasil menduduki pabrik reproduksi dan anak ku lahir, maka aku akan bersiap mencari wanita lain untuk membantu ku bercerai dengan Alice." gumam Max lagi.
Sedangkan dari atas ranjang, Alice hanya bisa melihat punggung Max, melihat kepala Max yang sedang mendongak keatas, Alice yakin saat ini Max sedang menatap langit.
Apa yang sedang dia pikirkan? Apa sekarang dia sedang berpikir untuk pasrah dengan pernikahan ini?
Gumam Alice dalam hati. Karena menurut Alice jika laki-laki sedang menyenderkan punggungnya dan mendongakkan wajahnya sambil menatap langit, itu berarti laki-laki itu sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat untuk hidupnya.
Memang benar pemikiran Alice, saat ini Max sedang memikirkan sesuatu, tapi sayangnya yang Max pikirkan adalah cara untuk segera berkembang biak agar dia bisa secepatnya juga terbebas dari ikatan pernikahan dengan Alice.
💋 💋 💋
Bersambung...