
"Alice, turun! Mami mu melihat kita!" ucap Max menggeram.
Alice menggelengkan kepalanya.
"Justru aku mau menunjukkan pada Mami kalau kamu adalah laki-laki yang kuat dan perkasa, makanya aku mau kamu menggendong ku sampai ke Mami." jawab Alice.
Max menarik nafasnya dalam-dalam, selain menahan emosi, dia juga bersusah menekan gejolak hasrat yang hampir membangunkan si Jalu. Kan tidak lucu kalau saat menggendong Alice, dari arah depan Mami Lucy melihat ada yang mancung-mancung dari celana Max.
Mau tidak mau Max pun berjalan dengan dua tangan yang penuh dengan belanjaan, ditambah Mama-nya koala yang minta di gendong oleh Max.
Setelah bersusah payah, akhirnya Max pun sampai juga di tempat duduk Mami Lucy. Alice pun turun dari gendongan Max. Setelah Alice turun, barulah Max meletakkan barang belanjaannya ke atas meja.
"Alice, kamu ini seperti anak kecil saja. Kasihan itu suami mu sampai muka-nya merah dan berkeringat seperti itu." ucap Mami Lucy.
"Tidak pa-pa Mami mertua, namanya juga saya cinta, jadi apapun yang membuat Alice senang pasti akan saya lakukan. Kalau pun Alice meminta saya menggendongnya dari kaki gunung sampai ke puncak gunung pun saya rela dan ikhlas kok Mami." jawab Max.
Entah gunung yang mana yang Max maksud.
Mami Lucy hanya tersenyum tipis mendengar kata-kata Max, sedangkan Alice, ia memutar bola matanya malas karena tahu itu hanya bualan seorang Max saja.
"Ngomong-ngomong apa yang kamu bawa itu, kenapa banyak sekali?" tanya Mami Lucy.
"Oh ini, ini semua barang-barang aku belikan khusus untuk Mami mertua. Kan tidak enak kalau datang kerumah mertua dengan tangan kosong." jawab Max.
"Iya tapi tidak dengan tangan yang kepenuhan juga. Kamu datang membawa Alice dengan wajah kalian yang bahagia saja itu sudah cukup bagi Mami." jawab Mami Lucy.
"Tidak pa-pa Mam, ini kan wujud sayang Max untuk Mami juga." balas Max.
Max pun mulai mengeluarkan belanjaannya mulai dari bunga, lalu kue, bukan hanya satu kue melainkan sepuluh jenis kue yang Max beli. Ada brownies, bolu gulung, pie susu, puff pastry, croissant, roti sobek, cookies, kue sus dan roti sobek.
"Kenapa kamu banyak sekali membeli kue-kue ini? Kamu kan tahu Mami tidak makan yang manis-manis." ucap Mami Lucy.
"Ya jangan Mami makan semuanya, makan saja sedikit-sedikit. Sisanya Mami bisa berikan pada pelayan." jawab Max santai.
"Untuk apa kamu membeli semua buah ini Max? Dan ini buah mengkudu, kamu tahu ini buah untuk apa?" tanya Mami Lucy.
"Entah lah Mam, Max hanya memborong semua buah-buah yang di jual pedagang buah tadi." jawab Max masih santai.
Mami Lucy menggeleng-gelengkan kepalanya, ia heran dengan jalan pikiran menantunya itu.
Sedangkan Alice, ingin sekali dia tertawa terbahak-bahak melihat belanjaan Max. Karena sewaktu Max belanja, Alice hanya menunggu di mobil.
Setelah mengeluarkan buah-buahan, sekarang Max mengeluarkan satu set perhiasan yang tadi dia beli untuk Mami Lucy.
"Nah, ini yang paling spesial untuk Mami mertua ku." ucap Max sambil menyodorkan kotak beludru merah berbentuk hati ke hadapan Mami Lucy.
"Apalagi ini?" tanya Mami Lucy basa-basi, ia tidak bodoh, ia tahu kalau itu adalah kotak perhiasan.
"Buka saja Mam." jawab Max.
Mami Lucy pun membuka kotak itu. Matanya langsung berbinar-binar melihat satu set perhiasan berlian di dalam kotak.
"I-ini..." suara Mami Lucy bergetar melihat perhiasan berlian itu. Karena semua perhiasannya sudah habis di jual demi membayar hutang.
Max mengambil kalung yang ada di dalam kotak.
"Max tahu, semua perhiasan Mami sudah Mami jual untuk bisa membayar hutang dan menyambung hidup, jadi Max janji akan mengganti semua perhiasan yang sudah Mami jual. Yah, meskipun perhiasan yang Max berikan pada Mami tidak seberapa besar nilainya dibanding perhiasan milik Mami karena pasti perhiasan Mami adalah pemberian dari Papi." ucap Max sambil mengalungkan kalung berlian yang di tafsir harganya hampir mencapai sepuluh miliar itu.
"Ini terlalu berlebihan untuk Mami, Max." ucap Mami Lucy, matanya sudah berkaca-kaca karena haru dengan perkataan Max.
Bukan hanya Mami Lucy, bahkan Alice pun juga terharu mendengar kata-kata Max.
💋 💋 💋
Bersambung...