
“Gue pikir lo nggak bakal mau pulang bareng gue setelah gue nampar lo tadi.” ucap Putri memecahkan keheningan saat di perjalanan menuju rumah Putri.
Damar terkekeh mendengar ucapan Putri, “Gue bukan orang pendendam.” jawab Damar.
“Bagus deh.” balas Putri sekenanya.
Damar menarik nafas dengan perlahan, "Lo pacaran sama Darel?"
Putri menggeleng, "Enggak. Emang kenapa?" tanya Putri balik yang membuat Damar kebingungan menjawabnya.
"Nggak papa, cuma nanya aja.” ucap Damar. “ Lo suka sama dia?" lanjutnya bertanya.
Sebenarnya ia ingin sekali menarik pertanyaannya tersebut, namun sudah terlambat.
Putri menaikan sebelah alisnya, "Emang kenapa kalo gue suka sama kak Darel. Nggak ada salahnya 'kan?"
"Emang nggak ada salahnya, itu kan hak lo suka sama dia." ucap Damar membenarkan perkataan Putri.
Putri mengangguk, "Iya, gue tau itu hak gue. Tunggu, kenapa lo nanyain soal hubungan gue sama kak Darel? Lo suka sama gue?”
Shiittt!
Damar tak sengaja mengeremkan motornya secara tiba-tiba.
"Gila lo ya kak, Kalau kita mati gimana?" pekik Putri di telinga Damar.
"Sorry-sorry, tadi ada kucing." jawab Damar sekenanya.
Putri mengerutkan keningnya, "Kucing? Mana kucingnya? Ada kucing enggak. Sakit lo kak?" cerocos Putri sambil melihat kesekelilingnya.
"Udah diem, berisik aja lo!" bentak Damar.
Putri mendengus, "Apa lo bilang? Dasar cowok aneh." ucap Putri yang tidak terima dirinya di salahkan.
Sesekali Damar menatap wajah Putri dari balik kaca spion, hingga tanpa ia sadari tercipta senyum di sudut bibirnya.
Setelah lima belas menit perjalanan, kini mereka telah sampai di rumah Putri. Putri yang sadar akan itu, segera turun dari motor Damar.
Tanpa basa basi berterimakasih, Putri langsung menyelonong masuk ke rumahnya. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. ia menengok ke belakang dan melihat Damar mulai menstater motornya.
Putri berjalan mendekati Damar, "Kalau gue boleh tau, lo ada hubungan apa sama Bella?" tanya Putri pelan.
"Bukan urusan lo." jawab Damar singkat lalu melajukan motornya.
Putri mendengus mendengar jawaban Damar, "Dasar cowo aneh! Nyesel gue udah nanya sama lo." teriak Putri kesal. Damar yang mendengarnya hanya bisa terkekeh.
"Ciee yang di anter pulang sama cowok baru." goda seseorang di belakang yang membuat Putri terkejut.
Putri menoleh, "Kak Putra?" pekik Putri antusias saat melihat kakaknya sudah berada di belakangnya.
Putra adalah kakak kandung Putri yang hampir satu tahun ini kuliah di Jerman. Ia pulang ke Indonesia karena amat rindu dengan keluarganya. Kebetulan kuliahnya sedang libur, jadi ia putuskan untuk pulang ke Indonesia.
"Iya ini gue. Kenapa? Lo kangen sama kakak lo yang paling ganteng ini?" tanya Putra dengan percaya diri.
Putri memutar bola matanya, "Ih pede banget sih lo jadi orang. Siapa juga yang kangen sama lo?"
"Oh yaudah kalau gitu, gue mau balik lagi ke Jerman."
"Iya iya kakakku yang paling ganteng, Adikmu ini sangat merindukanmu." ucap Putri sambil memeluk Putra.
Putra pun membalas pelukan Putri, "Nah gitu dong. Oh ya tadi itu cowok baru lo?"
Mendengar pertanyaan Putra, Putri segera melepas pelukannya. "Enak aja, ya bukanlah. Males amat gue pacaran sama cowok kaya dia." jawab Putri.
Putra menatap mata Putri untuk menyelidiki jika Putri sedang berbohong atau tidak.
"Keliatannya dia cowok baik-baik. Lo pacarin aja, gue setuju kok." saran Putra membuat Putri kesal.
"Lo aja sono yang pacarin dia. Gue mah ogah pacaran sama cowok belagu kaya dia.”
Putra terkekeh, “Oh jadinya benci nih? Awas lho ntar lama-lama jadi cinta.” goda Putra membuat Putri menatapnya tajam.
“Enak aja. Udah ah gue laper mau makan. Daripada gue ngomongin dia, bisa-bisa gue makan hati." ucap Putri dan berjalan masuk ke rumah di ikuti oleh Putra yang kini sedang tertawa menggoda adiknya tersebut.