Need You

Need You
Sembilan Belas




“Makasih ya Kak udah ajak aku ke sini.” ucap Putri begitu mereka berjalan menuju motor Damar untuk pulang karena cuaca sudah mulai gelap yang menandakan akan turun hujan.


“Gak perlu makasih kali Put. Gue seneng kok bisa ajak lo ke sini. Lain kali kita ke sini lagi ya. Lo mau 'kan?”


“Ya mau banget lah Kak. Lagian nyesel kali kalo aku nolak di ajak ke tempat sebagus ini.” ucap Putri membuat Damar terkekeh.


Damar meraih helm yang ada di motornya dan di berikan kepada Putri, “Pake yang bener ya, biar aman.”


“Siap, Pak Polisi!” ucap Putri membuat Damar tertawa.


“Lo kaya anak kecil ya,”


“Biarin, daripada sok dewasa.” ucap Putri membuat Damar terkekeh.


“Iya-iya Ibu pengacara yang mau ngalah.”


“Kok pengacara sih,” ucap Putri dengan nada sedih.


“Emang cita-cita lo pengen jadi apa coba?” tanya Damar.


Putri tampak berpikir lalu tersenyum, “Jadi istri yang perhatian sama suaminya.” jawab Putri membuat Damar tertawa. “Kalo lo?”


“Jadi suami yang sayang sama istrinya.” jawab Damar dan mereka berdua pun tertawa bersama.


“Ternyata lo orangnya asik juga ya.” ucap Putri membuat Damar terkekeh, “Gue pikir yang namanya ketua OSIS tuh ya dingin, cuek, terlalu serius dan gak bisa di ajak bercanda.”


Damar menghela napas, “Yang namanya ketua OSIS juga harus tau waktu dan tempat. Kapan waktunya buat serius dan kapan waktunya buat bercanda.” ucap Damar dan membuat Putri mengangguk mengerti.


“Yaudah yuk jalan. Ntar keburu ujan.” ucap Putri dan di balas anggukan oleh Damar.


Putri naik ke motor Damar dan Damar pun mulai melajukan motornya untuk pulang ke rumah. Soal mobil Putri, tadi Putra telah menelpon Putra untuk mengambil mobilnya dan di bawa ke bengkel. Jadi Putri tak perlu repot-repot kembali ke tempat tadi.



“Lain kali aja kayanya deh Put. Titip salam aja ya buat nyokap lo.”


“Buat gue enggak?” tanya suara membuat Damar dan Putri menoleh.


Putri menghela napas panjang begitu melihat Putra yang tengah berdiri seraya melipatkan kedua tangannya di depan dada.


“Kak, kenalin ini Kakak gue, Kak Putra.” ucap Putri pada Damar memperkenalkan Putra.


“Putra,” ucap Putra seraya mengulurkan tangannya ke arah Damar.


“Damar,” balas Damar seraya membalas jabatan tangan Putra.


“Gak mau mampir dulu nih lo? Minum dulu kek atau main PS gitu sama gue? Gue gak ada lawan nih.” ucap Putra seraya membujuk Damar.


Karena merasa tak enak, akhirnya Damar menyanggupi tawaran Putra. Kini Putra dan dan Damar tengah berjalan menuju kamar Putra untuk bermain PS bersama. Sedangkan Putri berjalan menuju dapur untuk menyiapkan minum untuk Damar dan Putra.


Setelah selesai membuat minum, kini Putri berjalan menuju kamar Putra dengan membawakan minum tersebut untuk Damar dan Putra.


Putri memperhatikan Damar yang sedang bermain PS bersama dengan Putra. Mereka berdua terlihat begitu akrab. Pantas saja Putra cepat-cepat meminta Putri agak jadian dengan Damar, rupanya agar memiliki lawan untuk bermain PS bersama.


“Bawa sini Put minumnya. Gue aus nih.” ucap Putra pada Putri dengan pandangan masih ke layar monitor.


Mau tak mau Putri pun menuruti permintaan Putra. Putri saat ini sangat terlihat seperti pembantu Putra. Ia di minta harus menuruti kemauan Putra. Mulai dari memberikannya minum, mengambilkannya makanan, bahkan sampai menyuapkan ke dalam mulutnya.


Damar yang melihat hal tersebut pun hanya bisa tertawa.