Need You

Need You
Empat Puluh Tiga




Putri memeluk Damar begitu erat membuat Damar terkejut dan melepas pelukan Putri.


“Kamu siapa?” tanya Damar membuat Putri seakan di buat tak percaya.


Putri mengusap air matanya dengan kasar, “Ini gue Kak, Putri. Pacar Kakak,” ucap Putri dengan lirik.


Damar tak menjawab, ia hanya diam dan menatap Putri dengan datar. Seakan ia tak pernah mengenali Putri sebelumnya. Betapa sakitnya saat orang yang kita sayangi tak lagi mengenali kita.


Lagi-lagi Putri memeluk Damar dengan begitu erat. Namun kali ini Damar tak melepas pelukan Putri. Ia biarkan Putri memeluknya. Meskipun ia tak tahu siapa sebenarnya Putri. Mengapa Putri mengaku sebagai pacarnya.


Anita masuk di ikuti oleh surya, Cakra dan Bella. Mereka berdua ikut sedih melihatnya. Sebelumnya mereka sudah melihat dari balik pintu jika Damar tak kenal siapa Putri. Mereka juga bisa merasa apa yang Putri rasakan. Dan itu pastinya amat sakit.


“Putri,” panggil Anita membuat Putri melepas pelukannya. “Boleh tante bicara sama kamu?” tanyanya.


Putri mengangguk dan mengikuti langkah Anita keluar dari ruangan Damar.


Kini Anita dan Putri sudah berada di luar. Tiba-tiba Anita menitihkan air mata dan memeluk Putri. “Maafin Damar ya Put. Inilah keadaan Damar sekarang. Dia amnesia dan juga lumpuh. Kalau kamu pengen ninggalin Damar, tante gak papa kok. Kamu berhak bahagia Put. Masa depan kamu masih panjang. Sekarang kamu bisa lupain Damar.”


Putri menggeleng tak percaya dan melepas pelukan Anita, “Maksud tante apa?” tanya Putri dengan air mata di wajahnya.


“Tante gak bermaksud nyakitin kamu ataupun gimana Put. Tante Cuma kasian sama kamu. Liatlah, banyak kebahagiaan yang menanti kamu sekarang.”


“Tapi kebahagiaan Putri Cuma Kak Damar, tante. Bukan yang lain. Putri gak masalah dengan Kak Damar yang amnesia dan lumpuh. Karena mau bagaimanapun, Kak Damar sumber kebahagiaan Putri. Putri gak bisa bayangin kalau hidup Putri gak ada Kak Damar.” ucap Putri dengan tulus dan tenang.


“Apa kamu gak masalah dengan kekurangan Damar sekarang?” tanya Anita meyakinkan.


Putri mengangguk mantap, “Putru tulus mencintai Kak Damar, dan Putri gak mandang kekurangan Kak Damar.”


“Iya, tan.”



Putri menatap dari belakang seseorang yang tengah duduk di kursi roda. Orang itu tengah duduk di taman Rumah Sakit setelah Dua hari sadar dari komanya. Putri menatap nanar dan berjalan mendekat.


“Hai,”


Hanya itulah kata pertama yang mengawali perjumpaan Putri dan Damar kali ini. Putri yang baru pulang dari sekolahnya pun menyisahkan waktu untuk melihat keadaan Damar yang makin hari makin pulih. Meskipun kaki dan ingatannya masih tetap sama. Tak ada perubahan.


Damar yang di temani oleh Anita pun menoleh ke sumber suara. Ia membalas sapaan Putri dengan sebuah senyuman.


“Gimana keadaan Kak Damar sekarang?” Putri tersenyum dan berjongkok tepat hadapan Damar. Anita yang tengah berdiri di belakang Damar pun menatap Putri dengan rasa iba. Ia melihat jelas ada tatapan terluka di mata Putri setelah ia tahu jika orang yang ia sayangi tak ingat dengannya. Sebenarnya Anita juga sedih karena Damar tak ingat juga dengannya. Namun karena adanya ikatan batin dari seorang Ibu dan anak, Damar ingat jika Anita adalah Ibunya.


Karena Putri sudah ada di sini, Anita pun pamit untuk kembali ke kamar rawat Damar, karena Dokter sudah memberi tahu kalau nanti sore Damar boleh kembali ke rumah. Namun dengan syarat, Damar harus sering cek up ke Dokter agar Dokter bisa melihat perkembangan Damar. Terutama dengan ingatan dan kelumpuhan kakinya.


Setelah kepergian Anita, kini tinggalah Damar dan Putri berdua di taman Rumah Sakit. Putri mendorong kursi roda Damar dan mengajak Damar berkeliling taman.


Damar menoleh ke belakang dan menatap Putri. Seakan ada yang ingin Damar ucapkan. Putri pun menghentikan aktivitasnya dan berjalan ke hadapan Damar.


“Ada yang mau Kakak omongin?” tanya Putri dan di angguki oleh Damar. “Kakak mau nanya apa?”


Damar tampak berfikir dan akhirnya bicara, “Apa kamu bener pacar aku?”