
Langkah Putri terhenti tepat di depan ruang OSIS. Ruangan tersebut terlihat cukup sepi, di tambah pintunya yang tertutup.
Kemana Kak Damar? batin Putri.
Karena penasaran dengan keberadaan Damar, Putri mencoba memutar knop pintu tersebut. Hingga akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Damar.
Kaki Putri melemas, tubuhnya menegang begitu melihat pemandangan yang kini tengah ia saksikam.
Damar tengah memeluk Bella. Tanpa Putri sadari air matanya lolos begitu saja.
Tatapan mata Damar melebar ketika ia sadar bahwa Putri tengah berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan sebuah kotak makan di genggamannya.
Damar melepas pelukannya dan berjalan menghampiri Putri.
"Put,"
Putri mengusap air matanya kasar dan mencoba tersenyum, “Sorry gue ganggu. Gue cuma mau ngasih ini.” Putri menaruh nasi goreng tersebut lalu berlari meninggalkan mereka berdua.
Damar yang sedang sibuk dengan tugasnya sebagai ketua osis pun terganggu saat kehadiran Bella yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Bell, lepasin.” ucap Damar yang terlihat risih dengan Bella.
Bukannya melepas pelukannya, Bella malah semakin mengeratkan pelukannya.
Damar kesal dan memutar tubuhnya. “GUE BILANG LEPAS—“
Damar terkejut saat melihat Bella yang tengah menangis di pelukannya. Tangisnya semakin menjadi saat Damar menatapnya heran.
“Dam,” ucap Bella dengan tangis terisak.
Damar mencoba melepas pelukan Bella dengan hati-hati. Namun Bela semakin mengeratkannya.
“Bell, gue minta lepasin.” ucap Damar sepelan mungkin.
“Enggak Dam, gue gak mau.”
“Lo kenapa?” tanya Damar.
“Darel kenapa?” tanya Damar tak mengerti.
“Darel-nampar-gue . .” ucapnya sambil terus mengeratkan pelukannya semakin kuat membuat Damar terasa sesak.
Damar bingung, ia sebenarnya risih dengan pelukan Bella yang seperti ini. Tapi ia juga kasihan dengan Bella. Karena ia tak tega jika melihat perempuan menangis. Dengan hati-hati ia kembali mencoba melepas pelukan Bella.
“Please Dam, biarin gue nangis di pelukan lo. Sekali ini aja,” ucapnya membuat Damar semakin tak tega dan akhirnya membalas pelukan Bella meskipun dengan berat hati.
"Kenapa Darel tega sama gue Dam? Apa salah gue?"
Damar sebenarnya risih dengan perlakuan Bella, namun ia bingung harus berbuat apa. Ia mencoba melepas Bella dengan perlahan, namun pelukan Bella semakin erat.
Tanpa Damar sadari, ada sepasang mata yang tengah menatapnya dengan tatapan terluka.
Mata Damar melebar ketika ia melihat Putri tengah berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan sebuah kotak makan di genggamannya. Damar melepas pelukannya Bella dan berjalan menghampiri Putri.
"Put," Damar mencoba menjelaskan semuanya.
Putri mengusap air matanya kasar dan mencoba tersenyum, “Sorry gue ganggu. Gue cuma mau ngasih ini.” Putri menaruh nasi goreng tersebut lalu berlari meninggalkan mereka berdua.
Damar mencoba mengejar Putri, namun tangannya di tahan oleh Bella. Ia menatap Bella tajam dan berusaha melepas cekalan Bella.
"GUE BILANG, LEPAS!"
Bella semakin memperkuatnya, “Dam, biarin Putri nenangin hatinya dulu.” ucap Bella menahan.
Damar menggeleng, “Enggak, gue harus jelasin semuanya ke Putri.”
“Kalau lo jelasin sekarang, yang ada dia gak bakal mau dengerin lo.” ucap Bella mencoba mempengaruhi Damar.
"Tapi dia harus tau semuanya!"
"Iya, gue tau. Tapi gak sekarang! Dia perlu nenangin diri dia dulu."
Damar mengangguk mengerti, “Iya, lo bener.” ucap Damar membuat senyum licik keluar dari wajah Bella.