Need You

Need You
Tiga Puluh Delapan




Kini Putri tengah menunggu Bella di parkiran. Namun sampai saat ini Bella belum juga menampakan dirinya. Putri terlihat jenuh, akhirnya ia pun meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Laras jika ia akan pulang terlambat.


Setelah mengirimkan pesan kepada Laras, rupanya Bella sudah berada di sampingnya. Putri segera memasukan kembali ponselnya dan mengikuti langkah Bella menuju mobil.


Selama perjalan menuju dimana keberadaan Damar, Putri tampak bingung. Karena jalan yang mereka lalui begitu jauh, dan ini bukanlah jalan menuju rumah Damar.


“Kita sebenarnya mau kemana? Dimana Kak Damar?” tanya Putri.


Bella hanya melirik sekilas ke arah Putri, “Udah lo diem aja.” ucap Bella membuat Putri hanya bisa diam.


“Damar ada di sini,” ucap Bella saat mereka telah sampai.


Putri hanya bisa mengernyit bingung saat mereka telah berdiri di depan sebuah Rumah Sakit. Apa itu artimya Damar ada di Rumah Sakit? Apa yang terjadi dengan Damar sampai ia berada di Rumah Sakit?


Putri menatap bangunan itu dengan tatapan hampa. Kakinya melemas. Ia tak bisa membayangkan saat Damar terbaring rapuh. “Maksud lo Kak Damar sakit?” tanya Putri.


Bella menggeleng pelan. Setidaknya ia sudah bisa membuat Putri bernapas lega.


Putri mengikuti langkah Bella menyusuri koridor Rumah Sakit. Meskipun Putri bisa bernapas lega saat tahu jika Damar tidak sakit, namun di hati Putri tetap mengatakan yang lain. Ia masih menghawatirkan keadaan Damar saat ini.


Kini mereka telah berdiri di depan ruangan VIP. Putri menatap Bella dengan tatapan sulit terbaca.


Bella menghela napas dan mengajak Putri untuk masuk, “Ayo masuk,” ucapnya dan di angguki oleh Putri.


Alangkah terkejutnya Putri saat melihat Damar terbaring tak berdaya. Air mata Putri seketika jatuh begitu saja. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Damar? Mengapa keadaan Damar begitu menghawatirkan?


“Lo bilang Kak Damar gak sakit, tapi ini apa?” ucap Putri pada Bella dengan air mata yang tak bisa tertahan.


Bella hanya bisa diam, ia pun tak mampu berkata-kata lagi. Ia juga sedih melihat Damar seperti ini. Bukan hanya Putri yang mencintai Damar, tapi ia juga. Dan ia tak sanggup melihat Damar terbaring tak berdaya seperti ini.


“Bell, lo bilang, Kak Damar kenapa? Kenapa dia gak sadar?!” tanya Putri menahan emosi.


“Apa lo bilang? Koma?” tanya Putri dan Bella mengangguk membenarkan. “Kenapa Kak Damar bisa koma? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Putri frustasi.


“Sehabis berantem sama Darel, Damar pergi dari sekolah. Sebelumnya gue udah nahan dia supaya jangan pergi, tapi dia kekeh mau pergi. Damar bawa motor dengan keadaan kacau, sampai akhirnya ia tabrakan sama truk. Dan ini jadinya, Damar koma sampai sekarang. Kata dokter, waktu dia di bawa ke sini, Damar sempet manggilin nama lo.” ucap Bella membuat Putri semakin terisak.


“Maafin gue Put, gara-gara gue kalian jadi bertengkar. Ini semua salah gue, gue yang udah berusaha ngancurin hubungan kalian.” ucap Bella dengan penuh penyesalan. Ya, kali ini ia benar-benar menyesal. Karena perbuatannya, semua menjadi fatal.


Putri melepas pelukan Bella, ia menatap Bella dengan tatapan kecewa. “Kenapa lo lakuin itu sih Bell, selama ini gue salah apa sama lo? Kenapa lo pengen banget bikin hubungan gue sama Kak Damar hancur?” tanya Putri membuat Bella semakin menyesal.


Bella menitihkan air matanya kembali, “Gue iri sama lo Put, lo dengan mudahnya ngambil hati Damar. Sedangkan gue, gue bertahun-tahun kenal Damar, gue selalu ngejar-ngejar dia, gue selalu cari perhatian dia, tapi apa? Damar gak pernah nengok ke gue.”


Bella menghela napas, “Gue yang terlalu terobsesi buat dapetin Damar sampai gue gak mandang lo yang jelas-jelas pacarnya. Gue bego Put, gue bego!” Putri menatap Bella dengan rasa iba. Sebenarnya Putri kasihan dengan Bella.


“Dulu, demi dapetin Damar, gue rela nyakitin orang yang bener-bener sayang sama gue. Lo tau siapa?” Putri mengangguk, “Dia Darrel Put. Lo pasti udah di ceritain sama dia.” lagi-lagi Putri mengangguk.


“Demi Damar yang jelas-jelas nggak ada rasa sama gue, gue rela ninggalin Darrel. Gara-gara gue, Darrel berubah jadi kaya gini. Dulu Darrel orang baik Put, tapi setelah apa yang gue lakuin sama dia, dia jadi kaya gini. Gak terurus, apa-apa semaunya dia. Dia berubah jadi bad boy. Gue nyesel Put, maafin gue Put,”


Putri mengangguk mengerti dan memeluk Bella erat, “Iya, Bell. Gue ngerti gimana perasaan lo saat ini. Gue maafin lo Bell. Gue juga minta maaf karena udah buat lo iri.”


Bella tersenyum dan membalas pelukan Bella, “Makasih Put, Makasih. Lo emang cewek yang baik, Damar gak salah milih lo.” Bella melepas pelukannya dan mengajak Putri mendekat ke Damar.


Bella mempersilahkan Putri bicara dengan Damar, meskipun Damar sedang terbaring koma. Bella sengaja keluar agar Putri dapat lebih leluasa bicara dengan Damar.


Setelah kepergian Bella, Putri mendekat dan meraih tangan Damar. “Kak, lo kenapa?” tanya Putri lirih seakan Damar bisa menjawab. “Gue minta maaf Kak, gara-gara gue lo jadi kaya gini.” Putri mencium punggung tangan Damar. Ia begitu hancur melihat Damar seperti ini. “Andai aja waktu bisa di putar, mungkin gue bakal dengerin semua penjelasan lo. Maafin gue Kak.” Putri mengusap air matanya yang terus mengalir.


Putri menoleh begitu ada seseorang yang berdiri di ambang pintu dengan senyum di wajahnya. Putri tersentak kaget saat melihat orang tersebut mirip sekali dengan Damar. Bahkan Putri hampir berfikir jika itu adalah Damar. Namun sepertinya tidak mungkin, karena Damar tengah terbaring di sampingnya.


Orang itu terus tersenyum seraya berjalan mendekat ke arah Putri. Putri seakan di buat bingung dengan kehadiran orang tersebut. Siapakah sebenarnya orang itu? Mengapa ia mirip sekali dengan Damar?