Need You

Need You
Empat Puluh Empat




Damar tampak berfikir dan akhirnya bicara, “Apa kamu bener pacar aku?”


Putri tersenyum tipis, “Iya, aku pacar Kak Damar.” ada rasa sedih di hati Putri saat Damar bertanya seperti itu. Seakan-akan Damar tak percaya jika Putri adalah pacarnya.


“Kenapa kamu masih mau sama aku? Bukankah aku lumpuh? Bahkan aku juga gak ingat siapa kamu? Kenapa masih bertahan?”


Pertanyaan Damar barusan sukses membuat mata Putri memanas, ingin sekali ia jatuhkan air mata yang telah ia bendung.


“Aku cinta sama Kak Damar. Aku gak peduli dengankondisi Kakak sekarang, mau kaki Kakak lumpuh, Kakak lupa sama aku, aku gak peduli. Aku cinta sama Kak Damar.”


“Meskipun aku gak ingat siapa kamu?”


Putri mengangguk, “Aku akan selalu tunggu Kakak inget sama aku. Kakak harus percaya, kalau cinta aku gak ada berkurang sedikit pun.”


Damar tersenyum, “Aku masih gak percaya aja kalau aku bisa punya pacar secantik dan sebaik kamu.” Bahkan saat seperti ini pun bisa-bisanya Damar membuat pipi Putri merona. Andai saja kecelakaan itu tak terjadi, mungkin semuanya tak akan seperti ini.


Putri menghela napas dan mengingat semua kenangan yang pernah ia lalui dengan Damar. “Nanti, kalau Kak Damar udah sehat, kita pergi ke danau ya,”


Damar mengernyit, “Danau?”


Putri tersenyum membayangkan saat Damar memintanya untuk menjadi pacarnya. Saat itu Damar tak bisa romantis, jadi ia hanya bisa bilang ‘Jadian yuk,’. Namun hal tersebut lah yang membuat Damar begitu berarti untuknya.


Damar tak seperti laki-laki lain yang pintar memanipulasi isi hatinya dengan sebuah gombalan yang membuat hati wanita seakan terbang karena terbawa perasaan. Pribadi Damar yang hangat dan tegaslah yang membuat Putri tak bisa jauh darinya. Yang jelas, Damar lain dari yang lain. Dan Damar akan selalu mencintai Damar. Selamanya!



Sesuai janji Putri beberapa hari yang lalu. Kini ia mengajak Damar ke danau. Putri dan Damar yang di antarkan oleh supir pribadi Putri pun tampak duduk di belakang. Sedangkan Mang Sugi yang menjabat sebagai supir pribadi Putri pun duduk di depan.


Sesampai di danau, Putri pun membantu Damar untuk turun. Sedangkan Mang Sugi mempersiapkan kursi roda untuk Damar yang sudah mereka siapkan sebelum berangkat.


“Hati-hati, Den,” ucap Mang Udin sewaktu Putri membantu Damar turun.


Putri mendorong kursi roda itu sampai di tepi danau. Putri berdiri di belakang Damar dengan senyum bahagia. Ia senang bisa membawa Damar kembali ke sini. Ia berharap dengan ia membawa Damar kemari, ingatan Damar dapat kembali.


Damar menatap pemandangan di depan matanya dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Damar merasa ada sesuatu yang pernah terjadi di sini. Tapi apa? Damar tidak bisa mengingatnya. Semakin Damar ingat, semakin sakit kepalanya. Tapi Damar penasaran, mengapa Putri membawanya kemari. Apa yang sebenarnya ingin Putri tunjukan.


“Kakak inget tempat ini?”


Damar menggeleng frustasi membuat senyum Putri sirna. Ia berusaha tetap tegar meskipun hatinya terasa sakit.


“Maaf,” Damar mengucapkan kata maaf dengan tatapan bersalah.


Putri tersenyum tipis, “Gak papa kok,” jawabnya berusaha baik-baik saja.


Putri mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mengajak Damar berfoto. Awalnya Damar menolak, namun karena paksaan Putri, akhirnya ia pun menuruti.


Di foto itu semua terlihat baik-baik saja, tak ada luka, dan tak ada beban. Seakan semuanya berjalan dengan baik dan sempurna. Putri menitihkan air mata menatap foto itu. Putri ingin semuanya berjalan seperti semula. Damar yang selalu menjemputnya ke sekolah, Damar yang selalu membuatnya tertawa, Damar yang selalu mengajaknya jalan-jalan keliling taman meskipun hanya untuk membeli es krim, Damar yang menolongnya saat pingsan karena terkena bola voli, Damar yang selalu membuatnya iri karena lebih asik dengan Putra, yang jelas Putri amat rindu dengan Damar yang dulu, yang selalu siap menjaganya.


Damar menatap Putri dengan rasa bersalah, ia tahu apa yang sedang Putri pikirkan. Ia pun menggenggam tangan Putri berharap dengan cara itu ia dapat menguatkan Putri.


Sadar akan genggaman tangan Damar, Putri pun tersenyum.


“Maafin aku ya, aku janji aku bakal berusaha mengingat semuanya secepat mungkin.”


Putri tersenyum, “Pelan-pelan aja Kak, aku siap berada di samping Kakak ngebantu Kakak mengingat semuanya. Aku janji,”


Damar tersenyum dan mengecup punggung tangan Putri. Ada kehangatan yang Putri rasakan sekarang.