Need You

Need You
Delapan Belas




Waktu telah menunjukkan pukul 07:20 WIB. Putri yang baru keluar dari kamarnya terlihat buru-buru saat menuruni anak tangga.


"Sayang, Mama nggak bisa anter kamu ke sekolah. Kak Putra juga udah pergi dari tadi pagi, katanya mau reunian sama temen-temen SMAnya. Kamu berangkat sendiri nggak papa 'kan?" tanya Laras memastikan.


Putri mengangguk "Yaudah deh Ma aku bawa mobil sendiri aja. Lagian sekarang udah siang, aku takut telat."


Putri mengambil sepotong roti yang tertata di atas meja makan kemudian berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil yang berada diatas nakas.


Selama perjalanan menuju sekolah, Putri merasa ada yang aneh dengan ban mobilnya. Ia memutuskan turun untuk mengecek kondisi ban-nya. Ternyata seperti dugaan, bahwa ban mobilnya bocor.


Putri melihat ke arah jam yang menempel di tangannya, wajahnya berubah pucat seketika.


"Mati gue, ini udah jam setengah delapan. Gue pasti telat." gerutu Putri sambil melihat ke sekelilingnya guna mencari bengkel terdekat.


Namun percuma, di sini tidak ada bengkel.


Putri mengusap wajahnya gusar. Ini semua terjadi karena ia semalaman memikirkan perkataan Damar kepada Darel jika Damar suka dengannya.


Pada saat yang bersamaan, Damar menghampiri Putri dengan mengendarai motor ninja kesayangannya.


Damar melepaskan helm yang ia kenakan, "Put. Lo ngapain disitu?"


"Ban mobil gue bocor. Elo kenapa belum sampe sekolah?" tanya Putri heran karena tak biasanya Damar berangkat sekolah sampai terlambat.


"Gue telat karena semalaman mikirin lo Put." umpat Damar dalam hati.


Putri menaikkan sebelah alisnya, "Hey kak, kok malah diem aja sih?"


"Ha? Lo tadi nanya apa? Oh itu gue bangunnya kesiangan gara-gara nonton bola sampe larut malem." jawab Damar berbohong. Namun Putri percaya begitu saja dengan alasan Damar.


"Terus sekarang lo mau kemana?" tanya Putri.


Damar pun bingung akan kemana. Karena jika ia tetap berangkat ke sekolah, percuma saja satpam sekolah tak akan membukakan gerbang untuknya.


Hingga satu ide terlintas di pikirannya, "Lo tetep mau berangkat?” Putri menggeleng pelan. “Lo mau ikut gue gak?"


“Kemana?” tanya Putri.


“Udah ikut aja ya?” ajak Damar dan akhirnya Putri mengangguk setuju.


Putri pun segera menyingkirkan mobilnya, lalu naik ke motor Damar. Tanpa menunggu waktu lama, Damar segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Damar tersenyum penuh arti, "Udah lo tenang aja, bentar lagi juga kita sampe." perintah Damar yang membuat Putri tidak bertanya-tanya lagi.


Benar kata Damar akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju. Kini mereka ada di sebuah Danau yang sangat indah. Di tambah pemandangan yang asri dan hijau sehingga membuat orang yang melihat menjadi tenang.


"Ini indah banget kak." ucap Putri sambil tersenyum puas lalu berlari menuju bangku yang terbuat dari kayu yang berada di dekat danau.


Damar berjalan menghampiri Putri, "Gimana lo suka kan?" tanya Damar sambil berjalan mendekati Putri yang sedang menikmati pemandangan yang ada.


Putri mengangguk dan tersenyum, “Gak nyesel gue bolos sekolah.” ucap Putri membuat Damar terkekeh.


Damar mendudukkan dirinya di samping Putri dan ikut menikmati pemandangan yang ada.


Damar menghela napas, "Setiap gue ada masalah, gue selalu nyempatin waktu buat ke sini Put. Gue luapin semua kekesalan gue di sini. Di sini gue baru bisa tenang." ucap Damar menjelaskan kepada Putri. Dan Putri pun mendengarkannya dengan senang hati.


“Oh ya, lo mau liat yang lebih indah lagi gak?” tanya Damar membuat Putri mengangguk dan tersenyum.


Damar mengajak Putri ke tepi danau dan mengajak Putri untuk naik ke perahu yang sudah tersedia di sana.


“Yuk, naik.” ucap Damar seraya membantu Putri untuk naik ke perahu tersebut.


Damar mengajak Putri berkeliling danau tersebut. Putri terlihat begitu bahagia. Dan hal itu membuat Damar tak kalah senang. Ia senang bisa membuat Putri tersenyum bahagia seperti ini.


Damar menatap Putri dengan lekat. Hingga tercipta senyum di sudut bibirnya.


“Cantik banget ya Kak.” ucap Putri yang masih menikmati keindahan danau tersebut.


“Iya, kaya lo.” jawab Damar tanpa sadar.


Mendengar jawaban Damar, Putri hanya bisa **** senyumnya. Tak tahu megapa, tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. Tak biasanya ia seperti ini.


“Kak,” panggil Putri.


Namun Damar tidak mendengar. Damar masih terus menatapnya.


Melihat Damar seperti itu, Putri hanya bisa tersenyum.