
Sudah Tiga minggu setelah kejadian itu, Putri tak pernah bertemu lagi dengan Damar. Putri sempat bertanya kepada Angga. Namun Angga bilang ia tak tahu.
Kemana sebenarnya Damar?
Apakah Damar sengaja pergi agar dapat melupakan Putri?
Atau sebenarnya telah terjadi sesuatu ada Damar?
Putri mengusap wajahnya frustasi. Ia tak tahu lagi harus mencari Damar kemana. Waktu itu, Putri sempat ke rumah Damar. Namun kata pembantu Damar, Damar sudah tidak di rumah lagi. Saat Putri tanya Dimana, pembantunya tak mau menjawab. Putri yakin, ada sesuatu yang sudah di sembunyikan darinya.
“Put,” panggil Susan yang tengah duduk di sampingnya.
Ya kini mereka tengah duduk berdua di kursi taman sekolah.
“Kenapa San?” tanya Putri.
“Lo masih mau di sini?” tanya Susan yang sepertinya ingin pergi.
“Kalau lo mau pergi, pergi aja. Gue gak papa kok di sini sendiri.” ucap Putri membuat Susan mengangguk mengerti.
“Yaudah, kalau gitu gue ke kelas duluan ya.” ucapnya lalu berjalan pergi meninggalkan Putri sendiri.
Lagi-lagi Putri sendiri. Tak ada yang ia lakukan di sini. Ia hanya bisa melamun dan melamun sampai ia tahu dimana kebaradaan Damar. Mustahil memang jika Putri hanya berdiam diri dan menunggu ada seseorang memberitahu keberadaan Damar.
Hingga tiba-tiba Putri teringat dengan Bella. Ya, Putri yakin pasti Bella tahu semua ini. Putri pun bangkit dari duduknya dan berniat menuju kelas Bella.
Suasana riuh khas kelas terlihat jelas di depan mata Putri. Putri mencoba melangkahkan kakinya memasuki kelas tersebut. Itu adalah kelas Bella, sekaligus juga kelas Damar dan Angga. Putri menatap kelas ini dengan tatapan berbeda.
Karena jujur, ada yang berbeda di sini. Kelas ini menjadi riuh dan sulit di kondisikan. Biasanya Damar yang selalu mengkondisikan kelas ini agar tenang. Namun sekarang berbeda, Damar tak ada di sini.
Putri menghampiri meja Bella. Kebetulan Bella ada di sana.
“Ngapain lo?” tanya Bella dingin.
Putri menatap ada yang berbeda dengan Bella. Kantung mata Bella terlihat jelas. Sepertinya Bella kurang tidur. Namun, apa peduli Putri. Itu bukan urusannya.
Putri menghela napas, “Gue pengen nanya sama lo. Apa lo tau dimana Kak Damar?” tanya Putri lirih.
“Gue gak tau.” jawab Bella singkat.
Putri tak puas dengan jawaban Bella. Putri yakin ada yang Bella sembunyikan darinya. “Please, gue mohon. Lo pasti tau 'kan dimana Kak Damar? Gue mohon, kasih tau gue,” ucap Putri memohon.
Bella memutar bola matanya malas, “Gue bilang gue gak tau!” ucap Bella tegas.
“Gue mohon. Gue pengen tau dimana Kak Damar berada.”
Bella menghela napas kasar, “Lo pikir, dengan gue tahu keberadaan Damar, gue bakal kasih tau lo?"
Putri menatap Bella dengan tatapan nanar, ia meraih tangan Bella dan memohon agar Bella mau memberitahu keberadaan Damar saat ini.
"Gue mohon, tolong pertemuin gue dengan Kak Damar," pinta Putri dengan penuh harap.
Susan menghela napas gusar, "Oke, gue bakal anterin lo ketemu sama Damar.” ucap Bella.
Putri tersenyum, “Lo serius?”
Bella mengangguk membenarkan. “Nanti pulang dari sekolah gue bakal anterin lo ke sana.”
Putri tersenyum dan mengangguk setuju. Ia pun kembali ke kelasnya. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Damar.