
Setelah kepergian Cakra, Putri tinggal sendiri bersama Damar. Putri berjalan menghampiri ranjang Damar dan mendudukan dirinya di kursi samping ranjang.
Putri menarik tangan Damar dan menggenggamnya erat. Putri yang setiap hari harus bolak balik Rumah Sakit, tetap sabar dan ikhlas. Karena harapannya saat ini adalah kesadaran Damar.
“Hay Kak,” Putri menyapa Damar dengan senyum di wajahnya. Meskipun senyumnya tak pernah sirna, air mata tetap turun membasahi pipinya.
Putri mengusap air matanya dengan kasar, “Kapan Kakak mau sadar? Kak gak kengen apa Kak sama Putri? Kak Damar gak kasian liat Putri sedih karena gak bisa liat senyum Kak Damar?” Putri tetap setia menggenggam tangan Damar berusaha menguatkan Damar. Putri juga berharap Damar bisa mendengar suaranya.
“Kak, Kakak tau gak sih, Darel sama Bella sekarang udah berubah Kak. Darel udah gak playboy lagi. Sekarang Darel udah punya pacar Kak, pacarnya cantik. Putri juga deket sama pacarnya. Dan Kakak tau gak, Bella sekarang lagi deket sama Cakra. Iya Cakra, Cakra adik kembar Kakak. Kenpa sih Kak waktu itu lo gak cerita kalau lo punya kembaran? Padahal gue seneng loh liat orang kembar.”
Putri menghela napas panjang berusaha terlihat baik-baik saja, “Ada satu hal yang perlu Kak Damar tau. Karena sekarang Om Surya, Papa Kakak udah ada di sini. Kakak kangen kan sama Om Surya? Kalau kangen, sadar dong Kak. Kakak pasti pengen kan kalau keluarga Kakak utuh lagi. Kalau gitu sadar Kak, bilang sama mereka kalau Kakak pengen semuanya seperti dulu.”
Putri mengusap punggung tangan Damar dan mengecupnya. “Bentar lagi Kakak mau ujian, Kakak gak mau bangun apa? Ayo Kak, semua yang sayang sama Kakak berharap Kakak cepet sadar. Termasuk gue Kak, gue begitu berharap lo sadar Kak. Gue pengen lo selalu ada untuk gue ngelindungin gue. Kakak inget kan pesan Kak Putra dulu, kalau Kakak harus jagain Putri. Kenapa sekarang Kakak gak mau sadar? Kakak gak mau jagain Putri? Kakak gak mau liat senyum Putri? Kakak gak mau lagi liat Putri yang nyebelin? Kak, gue butuh lo.”
Lagi-lagi air mata Putri turun tanpa mau berhenti. Berkali-kali Putri mencoba untuk tegar. Namun percuma, air matanya terus saja mengalir. Putri begitu rapuh melihat Damar seperti ini, yang terjebak antara hidup dan mati.
Sampai kapan Damar akan seperti ini? Sampai kapan Damar terus memejamkan matanya? Sampai kapan Damar terus membuat orang di sekelilingnya menangis? Sampai kapan Damar terus membuat orang yang ia sayang rapuh? Sampai kapan Damar terus membuat Putri kesepian? Dan sampai kapan Damar tersadar dan mengembalikan senyum Putri yang hilang?
“Gue cuma mau bilang Kak, kalau gue kangen lo.” ucapnya dan memeluk tubuh Damar.
Mata Putri melebar begitu ia merasa jika tangan Damar bergerak. Ia segera melepas pelukannya dan berteriak memanggil Anita, Surya, serta Dokter yang menangani Damar.
Setelah Dokter yang menangani Damar datang. Putri, Anita, serta Surya pun di minta untuk menunggu di luar.
Senyum Putri tak henti-hentinya mengembang. Ia begitu senang melihat Damar sudah sadar. Itu berarti, doanya selama ini telah di dengan oleh Tuhan.
Rasa syukur tak henti-hentinya Anita dan Surya ucapkan. Ia amat bersyukur melihat Putranya telah sadarkan diri. Surya pun memeluk Anita karena rasa bahagia yang tak terkira.
Kini Cakra sudah berada di sini bersama Bella. Tadi Putri lah yang menelponnya dan memberitahu jika Damar telah sadar dari komanya.
Mereka semua begitu bahagia dan merasa lega. Hingga akhirnya Dokter yang menangani Damar pun keluar dengan senyum di wajahnya. Namun senyum itu hanya sebentar, dan berubah menjadi raut wajah sedih.
“Bagaimana Dok keadaan anak saya?” tanya Anita.
“Anak anda telah sadar dan tinggal memulihkan kesehatannya.” ucap Dokter itu membuat semua yang ada di sana tersenyum lega. “Tapi . . “ lanjut Dokter itu membuat suasana menjadi tegang.
“Tapi apa, Dok?” tanya Putri.
Dokter itu menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. “Pasien mengalami gangguan pada ingatannya.”
“Maksud Dokter?” Anita tak mengerti dengan ucapan Dokter itu.
“Pasien mengalami amnesia dan mengalami kelumpuhan pada bagian kakinya.”
Ucapan Dokter itu sukses membuat Putri serta yang lainnya syok. Putri belum bisa menerima semua kenyataan ini. Putri pun berlari masuk ke ruangan Damar.
Putri memeluk Damar begitu erat membuat Damar terkejut dan melepas pelukan Putri.
“Kamu siapa?” tanya Damar membuat Putri seakan di buat tak percaya.