
Malam ini Putri sudah merasa sedikit sehat, sehingga ia memutuskan pergi ke Gramedia untuk membeli beberapa novel yang sudah ia incar beberapa hari yang lalu. Kebetulan jarak Gramedia dan rumahnya tidak terlalu jauh untuknya lalui dengan berjalan kaki.
Sesampainya di sana Putri segera memilih beberapa novel untuk ia beli. Senyumnya mengembang begitu ia menemukan novel incarannya. Ia bersyukur masih kebagian novel tersebut. Karena di sana novelnya hanya tersisa satu.
Ia pun berjalan menuju rak buku lainnya untuk mencari novel yang lain.
"Put, lo ada di sini juga?"
Putri menoleh kearah suara tersebut, ia menaikkan sebelah alisnya, "Kak Darel?"
Darel yang melihat Putri membawa beberapa buku berniat ingin membantunya, "Mau gue bantu nggak?" tawar Darel seraya mengambil novel dari tangan Putri.
Putri menarik kembali beberapa novel itu dari tangan Dareen, "Nggak perlu. Gue bisa sendiri," ucap Putri.
"Sini gue bantu aja. Keliatannya lo susah bawanya," ujar Darel.
Melihat hal tersebut Putri semakin risih, "Gue bisa sendiri. Jadi gak usah sok ngasih bantuan. Urus aja pacar lo sana," ucap Putri lalu melangkah pergi meninggalkan Darel.
Darel yang melihat perlakuan Putri merasa geram, "Sekarang lo bisa bersikap acuh sama gue. Tapi kita liat aja nanti." umpatnya dalam hati kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Putri menatap kepergian Darel dengan nafas lega. Jujur, ia sangat malas jika harus berurusan kembali dengan cowok bernama Darel.
Putri juga menyesal pernah mengenal Darel. Memang benar apa kata orang, penyesalan hanya ada di belakang.
"Gak lagi gue urusan sama tuh orang," umpatnya lalu berjalan menghampiri kasir.
"Berapa Mbak semuanya?"
"Totalnya Dua Ratus Delapan Puluh Ribu Lima Ratus Rupiah, Mbak."
Putri mengambil tiga lembar uang seratus ribuan dan ia serahkan kepada kasir.
Sesampainya di rumah, Putri terlihat sangat lesu. Ini semua karena ketidak sengajaannya bertemu dengan Darel. Putri memang sudah mulai melupakan Darel, namun melupakan seorang Darel tak semudah membalikkan telapak tangan. Karena mau bagaimanapun Darel pernah ada di hati Putri. Hingga sampai saat ini bayang-bayang Darel masih ada di hati Putri meskipun mulai tergantikan oleh Damar.
Hingga tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi. Ia segera meraih ponselnya yang berada di dalam tas.
Senyumnya mengembang begitu ia tahu bahwa Damarlah yang menelponnya.
“Halo Kak,” ucap Putri saat tahu jika yang menelponnya adalah Damar.
“Gimana? Udah mendingan?” tanya Damar di seberang sana.
Putri mengangguk refleks, “Iya, Kak. Gue udah sembuh malah.” ucap Putri.
“Kak Putra bilang katanya tadi lo keluar rumah ya Put?” tanya Damar memastikan ucapan Putra.
“Iya Kak. Aku tadi ke toko buku, bete abisnya.”
Damar terkekeh, “Kenapa gak nelpon gue aja Put, jadi kan gue bisa mastiin kalau lo baik-baik aja.”
“Gue gak mau ngerepotin elo kak. Lagipula gue cuma jalan kaki kok kak, jadi lo gak perlu khawatir.” ucap Putri.
“Yaudah kalau gitu sekarang lo istirahat ya, udah malem soalnya.”
“Iya kak, yaudah gue tidur dulu ya. Lo juga kak.” ucap Putri.
“Iya. Semoga mimpi indah ya sayang,”
Putri tersenyum mendengar ucapan Damar, “Iya kak.”
“Sayangnya mana?” tanya Damar membuat Putri terkekeh.
“Iya sayang,” ucap Putri membuat Damar tertawa lalu mematikan sambungannya.
"Gue harap lo laki-laki yang teebaik untuk gue, Kak."