
Putri dan Susan berjalan menuju ruang ganti untuk mengantai seragam putih abu-abunya dengan seragam olahraga. Hari ini jadwal kelas mereka olahraga.
Sebenarnya Putri sangat malas untuk mengikuti jam olahraga, karena olahraga yang sudah di tentukan untuk hari ini adalah bola voli dan Putri tidak suka voli. Sebenarnya bukan tidak suka, tapi tidak bisa.
Saat Putri berjalan menuju ruang ganti, ia berpapasan dengan Bella. Bella menatapnya tajam seakan menatap musuh. Putri yang sadar akan hal tersebut hanya mampu mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Gausah sok cantik! Dasar perebut cowok orang!” bisik Bella di telinga Putri lalu berjalan pergi.
Putri tak mengerti dengan apa yang Bella ucapkan. Ia menatap Susan bingung, sebenanya apa yang terjadi sampai-sampai Bella bicara seperti itu pada Putri. Apakah Putri sok cantik di sekolah ini? Dan siapa yang sudah Putri rebut? Damar?
“Udah gak usah di pikirin, tuh cewek emang agak gila,” ucap Susan membuat Putri terkekeh lalu melanjutkan langkahnya.
Setelah mengganti pakaian, kini mereka semua telah berkumpul di lapangan untuk olahraga.
Sesekali mata Putri mengarah pada kelas Damar yang tak jauh dari ia berdiri. Ia takut nanti Damar melihatnya saat ia sedang bermain voli. Ia takut Damar menertawainya karena tidak bisa bermain voli. Putri sangat menyesal karena dulu ia tidak mau belajar voli. Andai saja ia handal, pasti ia tidak akan minder seperti ini.
Pak Oka pun membagi tim dalam permainan ini. Bersyukurnya, Putri satu tim dengan orang-orang yang jago dalam bermain voli. Tuhan memang adil dengan umatnya.
Putri pun berjalan untuk menempati posisinya. Ia terlihat sangat gugub saat ini.
Pritt!
Suara pluit Pak Oka telah berbunyi. Menandakan permainan telah di mulai.
Putri sangat tidak fokus. Ia terus memastikan jika Damar tidak ada di luar kelas.
“Fokus ke bola, jangan ke doi,” bisik Susan.
“Apaan sih San?” ucap Putri membuat Susan terkekeh.
Ya Susan memang satu tim dengan Putri dan Susan sangat jago bermain voli. Beda dengan Putri, karena selama ini Putri tidak suka ekskul yang berada di luar ruangan. Ia lebih suka ekskul seperti mading, tari, musik ataupun sesuatu yang berbau kreativitas.
Kaki Putri menjadi gemetar saat Damar keluar dari kelasnya dan melihat ia sedang bermain voli. Bukannya pergi, Damar malah berjalan mendekat untuk menonton Putri membuat Putri menjadi gugub.
Saat bola itu mendekat ke arah Putri. Bukannya melakukan gerakan passing, Putri malah menghindar sampai akhirnya ia jatuh tersungkur.
Melihat hal tersebut, Damar pun berlari dan menghampiri Putri. Ia terlihat begitu panik saat melihat lutut Putri berdarah. Ia pun segera menggendong Putri dan membawanya ke UKS.
Sesampainya di UKS, Damar pun mendudukkan Putri di atas ranjang UKS dan ia pun berjalan untuk mencari obat merah dan alkohol.
Damar kembali dengan kotak P3K di tangannya. Dengan sigap, ia pun segera membersihkan luka Putri.
“Aww!” teriak Putri begitu alkohol mengenai lukanya.
“Tenang ya Put, nanti juga sembuh kok.” ucap Damar tenang sembari membersihkan luka Putri.
“Tapi pedih banget kak,” ucap Putri dengan mata terpejam.
"Iya, tapi luka lo harus di bersihin. Kalo gak, bisa infeksi nanti,” ucap Damar dengan lembut.
Putri memperhatikan wajah Damar yang sedang membersihkan lukanya. Ia terus menatap wajah Damar dengan lekat.
“Ternyata bener yang di bilang Susan dulu, lo emang ganteng Kak.” umpat Putri dalam hati lalu tersenyum.
Damar menoleh ke arahnya membuat Putri tak mampu bernapas, jantungnya berdetak kencang. Ia tak tahu perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
“Lain kali kalo gak bisa, jangan di paksain ya.” ucap Damar lembut dan Putri pun hanya mengangguk dan tersenyum.