Need You

Need You
Empat Puluh Satu




Untunglah hari ini hari minggu. Jadi Putri bisa menjenguk Damar di Rumah Sakit. Tak terasa sudah 5 bulan Damar tak juga sadar dari komanya. Putri begitu kehilangan sosok Damar yang tegas dan hangat. Putri rindu senyuman Damar yang selalu menguatkan Putri. Putri rindu semua itu. Putri ingin Damar kembali dan mereka akan melanjutkan semuanya tanpa adanya kesalahpahaman.


Ternyata memang benar, kunci dari sebuah hubungan adalah kepercayaan. Tanpa adanya kepercayaan itu, sebuah hubungan tak akan berarti.


Putri menyusuri koridor dengan langkah terburu-buru. Tadi ia di telpon oleh Cakra kalau Cakra meminta tolong Putri untuk menunggu Damar. Karena Cakra ada urusan sebentar.


Begitu Putri sampai di depan kamar rawat Damar, Putri melihat seorang laki-laki yang tengah melihat Damar dari balik pintu yang terbuat dari kaca. Jadi lelaki itu bisa melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu.


Putri tampak aneh dengan lelaki itu. Karena sikapnya yang mencurigakan.


“Pak,” panggil Putri membuat lelaki itu tersentak kaget. “Bapak ngapain ngintip-ngintip kaya tadi?” tanya Putri dengan suara lantangnya membuat Cakra yang ada di dalam pun berjalan menghampiri.


Lelaki itu meminta Putri agar diam. Namun Putri tak mengerti dengan maksud lelaki itu.


“Papa?” ucap Cakra pada lelaki itu.


Ternyata lelaki itu adalah Surya. Orang yang waktu itu Putri cari-cari.


“Papa jengukin Kak Damar?” Cakra tersenyum melihat Surya ternyata datang kemari untuk melihat keadaan Damar. Dan dugaan Cakra selama ini memang benar, jika Surya memang menyayangi Damar.


“Maaf, Papa harus pulang.” Surya tampak gugub dan akhirnya berjalan pergi. Namun dengan cepat di tahan oleh Putri.


“Om mau kemana? Om gak mau liat Kak Damar langsung?”


“Saya malu sama diri saya sendiri. Saya gak pantes jadi Papanya Damar.”


Surya tampak berfikir dan akhirnya mengangguk membuat Putri tersenyum puas.


Surya berjalan menghampiri Damar yang tengah terbaring. Air matanya tak henti-hentinya turun. Ia mencium puncak kepala Damar dan berkata, “Maafkan Papa, nak. Papa belum bisa jadi Papa yang baik buat kamu. Papa selalu marahin kamu, mukulin kamu, Papa udah jahat sama kamu nak,” ucapnya yang terlihat begitu menyesal. Ia telah menyesali perbuatannya dulu. Kini ia berusaha akan memperbaiki semuanya dan memulai semuanya dari awal.


Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok wanita di sana. Surya menoleh, ia menatap wanita itu dengan penuh rasa bersalah. Wanita itu adalah Anita. Ia adalah Mama Damar dan Cakra, sekaligus mantan istri Surya.


“Kamu? Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu udah lupa sama anakku?” tanya Anita pada Surya.


Surya berjalan menghampiri Anita dan bersujud di hadapan Anita. Anita merasa risih dengan hal itu.


“Maafin aku Nit. Aku menyesal udah ninggalin kamu dan anakku Damar. Maafin aku Nit,” ucap Surya seraya memegang tanga Anita dengan begitu erat.


Dengan refleks Anita pun melepas tangan Surya dari tangannya. Ia sudah muak dengan Surya. Ya walaupun sebenarnya ia amat merindukan Surya.


“Kamu bilang, maaf? Apa maaf bisa menyembuhkan rasa sakit hati aku dan Damar? Dengan enaknya kamu bilang maaf.”


Surya berdiri dan langsung memeluk tubuh Anita membuat Anita tak mampu bergerak. Ia tak bisa melepas pelukan Surya, karena memang ini yang sebenarnya Anita inginkan.


“Aku mau ngomong,” ucap Anita membuat Surya melepas pelukannya dan menatap Anita penuh tanya. Anita mengisyaratkan Surya agar bicara di depan. Ada yang ingin mereka berdua bicaran. Dan itu hanya berdua.


Jadilah kini tinggal Putri dan Cakra yang berada di ruangan Damar. Cakra lupa jika ia ada janji dengan Bella. Ya, urusan Cakra tadi ada untuk bertemu Bella. Entah sejak kapan kini Cakra dan Bella sering pergi bersama. Bahkan sekolahpun kini Bella lebih sering bersama Cakra. Karena kini Cakra telah sekolah di sekolah mereka. Niatnya memang Cakra ingin tinggal bersama Anita seterusnya.