Need You

Need You
Tiga Puluh Satu




“Siang, tante.” ucap Damar begitu memasuki rumah Putri dan mendapati Laras sedang menunggunya di sana.


“Eh, Damar. Sini masuk. Baru pulang sekolah?” tanya Laras menyambut kedatangan Damar.


“Iya, tante.” jawab Damar tersenyum ramah.


“Jadi Kak Damar doang nih yang di tanyain? Putri enggak?” tanya Putri pura-pura mengambek.


“Kamu ini iri aja. Udah sana tanyain Damar mau minum apa.” ucap Laras dan di angguki oleh Putri.


“Mau minum apa Kak? Jus Mangga, Jeruk, Stroberi, Apel, Buah Naga, Leci, Nanas? Atau makannya Mie rebus, Seblak ceker, Roti bakar—“


“Kamu mau nawarin Damar minum atau mau buka warteg?” tanya Laras membuat Damar terkekeh geli.


Putri tersenyum malu, “Tunggu bentar ya kak, aku ambilin minum dulu.” ucap Putri lalu berjalan menuju dapur.


Laras berdeham membuat suasana menjadi tegang. “Kamu pacaran sama Putri?” tanyanya membuat Damar sedikit takut. Ia takut Laras tak menyukai hubungan mereka berdua.


“Iya tante.” jawab Damar.


“Kamu sayang sama anak tante?”


“Sayang tan,”


“Kamu gak main-main kan sama anak tante?”


“Demi Allah enggak tan. Saya beneran sayang dan cinta sama Putri. Saya gak ada niatan buat ngecewain ataupun nyakitin Putri.” ucap Damar membuat Putri tersenyum dan bersorak ria. Ya, Putri memang tidak benar-benar ke dapur. Ia hanya bersembunyi di balik pintu dan mendengarkan pembicaraan antara Laras dan Damar.


“Dari awal tante emang udah percaya sama kamu, kamu gak mungkin nyakitin anak tante. Karena itu tante nyuruh kamu ke sini untuk ngeyakin tante kalau kamu emang pacar yang terbaik buat Putri.” ucap Laras membuat Damar mengangguk mengerti.


Laras mengangguk, “Tapi kamu jangan senang dulu. Kamu harus berjanji sama tante dan papa-nya Putri kalau kamu gak akan nyakitin hati Putri.”


Damar mengangguk, “Iya tan, saya janji.” ucapnya mantap.


Laras mengangguk dan tersenyum.


Putri bersorak ria dalam hati, ia senang bisa mendengar itu dari mulut Damar sendiri. Ia juga berjanji tidak akan melukai atau mengecewakan Damar. Karena ia sadar, cintanya hanya satu yaitu untuk Damar seorang.



“Tadi Mama bilang apa aja?” tanya Putri saat mengantarkan Damar sampai luar. Putri pura-pura tidak tahu dengan apa yang di bicarakan antara Damar dan Laras.


“Katanya gue ini ganteng.” jawab Damar membuat Putri memutar bola matanya malas.


“Lo deket sama Kak Putra baru beberapa hari kok udah nular aja sih penyakit pede-nya?” tanya Putri heran membuat Damar tertawa.


“Namanya juga calon ipar, pasti ada aja yang di tularin.” ucap Damar membuat pipi Putri memerah. Itu semua akibat ucapan Damar yang pertama, apalagi kalau ‘calon ipar’. “Ciee, pipinya merah tuh!” ucap Damar membuat Putri memalingkan wajahnya.


“Enggak, gak merah kok.” ucap Putri tanpa berani manatap Damar.


“Mana, coba liat.” ucap Damar membuat Putri semakin malu.


“Ih, udah sana pulang.” ucap Putri seraya mendorong tubuh Damar supaya cepat pergi.


Laras yang melihat dari jendela pun hanya bisa menahan tawa. Tiba-tiba ia teringat akan kisah cintanya semasa SMA bersama Wijaya dulu, persis seperti Putri dan Damar. Selalu bahagia karena penuh canda dan tawa. Sehingga semua orang pun mejadi iri melihatnya.