Need You

Need You
Dua Puluh Enam




Hari ini Putri sedang sakit. Ini disebabkan karena semalam ia terlalu lama bermain air. Sehingga Putri tidak bisa berangkat ke sekolah dan harus istirahat di rumah.


Mungkin ini kali pertama ia absen dari sekolah. Karena meskipun ia anak dari pemilik sekolah, ia tidak pernah memperlihatkan kekuasaannya di depan anak-anak lain. Itulah yang membuat Damar kagum dengannya.


Putri sudah menelpon Damar jika hari ini ia sedang sakit dan tidak dapat berangkat ke sekolah. Damar yang mendengar kabar tersebut sangat panik dan ingin segera menjenguk Putri. Namun Putri melarangnya, Putri tidak ingin menggangu sekolah Damar. Menurutnya selama ini ia sudah banyak merepotkan Damar.


Suasana di rumah Putri sangat sepi, hanya ada Putri dan pembantunya saja saat ini. Karena mamanya yang sedang membantu papanya di kantor. sedangkan Putra ada acara dengan teman-teman SMA-nya.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu.


Putri menarik nafas dengan perlahan. "Masuk aja mbak, nggak di kunci kok." Putri sangat yakin jika yang mengetok pintu adalah mba Tuti, pembantunya.


"Ini non minumnya." Putri terperangah saat mendengar suara tersebut. Ternyata itu bukan mba Tuti, melainkan Damar.


Putri menaikkan sebelah alisnya, "Kak Damar? Kan gue udah bilang, lo nggak perlu kesini. lo sekolah aja, gue nggak mau cuma gara-gara gue—“


“Shutt!” Damar menutup bibir Putri dengan jarinya membuat Putri diam. "Lo kan lagi sakit, gue sengaja buatin teh ini buat lo biar lo ngerasa enakan. Inget, ini buatnya pake cinta."


Putri meraih teh tersebut, "Makasih ya kak lo udah perhatian sama gue."


"Lo nggak perlu berterima kasih, kan emang udah seharusnya gue perhatiin lo." ucap Damar sambil mengelus kepala Putri.


"Gue sayang lo kak." ucap Putri kemudian meminum teh tersebut.


Damar tersenyum tulus, "Iya, gue tahu itu. Yaudah cepet abisin tehnya, abis itu kita ke dokter."


Putri menaikkan sebelah alisnya, "Ngapain ke dokter?"


Damar mendengus, "Kan lo lagi sakit Putriiiii."


"Gak perlu ke dokter, dengan ada lo di sini di samping gue, gue bisa sembuh kok.”


Damar yang mendengar perkataan Putri pun terkekeh sambil mengacak rambut Putri. "Yaudah abisin tehnya terus minun obat."


Putri mengangguk patuh dan menghabiskan tehnya.



Saat ini Putri dan Damar sudah berada di taman yang letaknya tak jauh dari rumah Putri. Damar sengaja mengajak Putri ke taman agar Putri merasa lebih sehat.


"Kak gue mau es krim." ucap Putri sambil menunjuk kedai es krim.


Damar menggeleng, "Lo lagi sakit, jangan makan yang aneh-aneh deh."


Putri yang mendegar ucapan Damar hanya mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena Damar tidak mau menuruti. Padahal setiap ia sakit, mamanya selalu menuruti permintaannya.


"Lo jelek kalo lagi ngambek. Mending lo senyum, biar cantik." Putri pun tersenyum malu, "Na.. gitu kan cantik." lanjut Damar ketika melihat senyum tercipta di wajah Putri.


Putri menarik tangan Damar, "Gue mau es krim kak. Kalo lo nggak beliin gue es krim, gue pulang aja." ancam Putri yang mau tak mau akhirnya Damar turuti.


Wajah Putri berubah sumringah ketika melihat Damar kembali dengan membawa tiga mangkok es krim.


"Kok tiga? Itu buat gue semua?" tanya Putri antusias.


"Enak aja. Nih, satu buat lo dan dua buat gue." ucap Damar memberikan es krim pada Putri.


Putri menaikkan sebelah alisnya, "Kok lo dua, gue cuma satu?"


"Kan lo lagi sakit Putriii.. kalo lo nggak mau, sini buat gue semua." Damar mencoba meraih es krim milik Putri.


"Ehhh enak aja." Putri pun segera memakan es krimnya sebelum di ambil oleh Damar.


Damar terkekeh melihat tingkah Putri.


Damar menghela nafas, "Lo tahu nggak apa persamaan lo sama upil gue?"


Putri menaikkan sebelah alisnya "Apa kata lo, persamaan gue sama upil lo? Jahat banget sih, masa gue di samain sama upil lo itu." ucap Putri sambil memukul Damar.


"Udah cepet jawab. Jangan-jangan lo nggak bisa jawab"


"Oke gue jawab! Persamaannya itu..... sama-sama imut." jawab Putri dengan cengiran yang tanpa dosa.


"Apa?" tanya Putri dengan ketus.


"Lo sama upil gue persamaannya itu.. butuh perjuangan buat meraihnya. Tapi bedanya, kalau upil setelah di raih harus di buang. Kalau lo, setelah di raih harus di jaga."


Putri yang mendengar jawaban Damar tertawa terbahak-bahak.


"Basi lo kak! Oke, sekarang gue. Kalo lo nggak bisa jawab, lo harus gendong gue keliling taman." tawar Putri.


"Oke, siapa takut?!" jawab Damar menyanggupi.


Putri terlihat memikirkan pertanyaan apa untuk Damar, "Pertanyaannya, apa persamaan lo sama gorila?"


"Persamaan gue sama gorila?"


Putri mengangguk membenarkan.


"Persamaannya sama-sama cool!" jawab Damar dengan pede-nya membuat Putri tertawa sampai sakit perut.


"Cool?" Damar mengangguk sambil menaikkan kerah bajunya. "Hahahahaha... lo cool apanya kak? Lo salah banget! Jadi lo harus gendong gue ya." ucap Putri memastikan Damar mau menggendongnya.


"Iya iya, emang apa jawabannya?" tanya Damar penasaran.


Putri tersenyum penuh arti membuat Damar semakin penasaran, "Persamaan lo sama gorila adalah..... sama-sama satu keturunan. Alias kakak beradek, Hahhahahhaa..." jawab Putri membuat Damar kesal.


"Sumpah, pertanyaan lo garing banget Put!" pekik Damar.


"Bodo amat!! Gue nggak mau tahu pokoknya sekarang lo harus gendong gue keliling taman." perintah Putri kemudian ia naik ke punggung Damar.


Damar menggendong Putri begitu pelan membuat Putri tidak sabar, "Kak cepetan dikit dong!" pekik Putri di telinga Damar.


"Bawel! Gue cepetin baru tahu rasa lo." Damar kemudian berlari sekencang mungkin.


"Kak stop kak!! Gue pusing, gue pengen muntah." keluh Putri membuat Damar menghentikan langkahnya dan menurunkan Putri.


"Lo gak papa kan Put?" tanya Damar khawatir ketika melihat Putri begitu lemas.


"Gue... gue pengen muntah. Hueekkkhh!" Putri tak sengaja muntah di baju Damar. Damar tidak marah ataupun jijik. Ia dengan sigap membersihkan muntahan Putri.


"Lo nggak papa kan Put, atau masih Pusing?" tanya Damar sangat khawatir.


"Kepala gue pusing banget kak." ucap Putri sambil memegang kepalanya yang terasa pusing. Dengan sigap, Damar pun memijat kepala Putri dengan penuh kasih sayang.


"Yaudah kalau gitu kita pulang aja, lo gue gendong ya." kemudian Damar mengangkat tubuh Putri dan berjalan pulang.


Sesampainya di rumah Putri, Damar berlari ke dapur untuk mengambil air hangat dan handuk kecil. Mba Tuti yang melihat baju Damar terkena muntahan Putri segera mengambil baju Putra untuk di pakai Damar.


Setelah mengenakan baju Putra, Damar segera menemui Putri dengan membawa segelas air hangat dan handuk kecil.


"Ini Put, lo minum dulu." ucap Damar sambil memberikan air hangat tersebut. Damar mulai membersihkan bekas muntahan yang masih ada di baju Putri. Ia begitu telaten membuat Putri tersenyum kearahnya.


"Makasih kak." ucap Putri sambil terus tersenyum penuh arti.


Damar membalas dengan senyuman, "Gimana, lo udah enakan kan?" Putri mengangguk pelan, "Maafin gue ya Put, gara-gara gue lo jadi kaya gini."


Putri menggenggam tangan Damar dan berkata, "Ini bukan salah lo kak, ini salah gue. Gue yang udah maksa lo buat kebut. Seharusnya gue yang minta maaf sama lo karena udah muntahin baju lo dan buat lo jijik." ucapnya sambil menundukkan kepala karena merasa tak enak dengan Damar.


Damar memegang pundak Putri dengan kedua tangannya agar Putri menatap kearahnya. "Lo itu pacar gue, gue nggak mungkin marah ataupun jijik karena hal sepele. Gue seneng bisa ada di saat lo butuh gue. Jadi lo jangan ngerasa nggak enak atau gimana."


Putri meneteskan air mata ketika mendengar ucapan Damar, ia sangat terharu atas apa yang sudah Damar lakukan untuknya. Baginya ia adalah satu-satunya orang yang beruntung memiliki pacar yang sayang dan perhatian seperti Damar.


"Lo jangan nangis, Gue kan udah pernah bilang kalau gue nggak suka liat lo nangis. Lo jelek kalo lagi nangis dan gue nggak suka itu. Gue lebih suka lo tersenyum." ucapnya sambil mengelus kepala Putri dengan sangat lembut.


"Gue nggak nangis, gue seneng punya pacar kaya lo kak." ucap Putri sambil membersihkan air matanya.


Damar menarik tubuh Putri kepelukannya dan mengelus rambut Putri, "Gue juga seneng punya pacar kaya lo Put, lo itu istimewa."


Putri merasakan pelukan hangat yang Damar berikan, baginya Damar adalah sosok yang perhatian. Meskipun kadang sangat menyebalkan, Putri sangat sayang dan tidak ingin kehilangannya.