Need You

Need You
Lima Belas




Mengetahui jika selama ini hanya di permainkan, membuat Putri malas untuk mengenal cinta lagi. Ia menyesal karena sudah percaya dengan orang yang salah.


Andai saja selama ini ia mendengarkan ucapan sahabatnya, mungkin ia tidak akan seperti ini. Ia memang benar-benar sudah di butakan oleh cinta. Tapi kini ia menyesal.


Putri menghela napasnya gusar seraya menatap langit-langit kamarnya. Tak ada yang membuatnya semangat hari ini.


“Galau ya?” ucap suara mengagetkan Putri.


Putri menoleh menatapnya malas, “Enggak.”


Putra berdecak, “Muka lo tu gak pantes buat bohong,”


Putri menghela napas panjang, “Ya jelas, gue kan bukan lo yang tukang bohong.” ucap Putri dengan raut wajah datar.


“Serah lo deh,” ucap Putra seraya menjatuhkan tubuhnya di kasur.


“Kak, gue mau nanya.” ucap Putri membuat Putra menoleh. “Kalo lo di sakitin, lo bakal ngapain?” tanya Putri.


“Cari yang baru.” jawab Putra mantap membuat Putri menatapnya malas.


“Serius,”


Putra menghela napas dan menatap Putri, “Ya gue serius. Emang kenapa sih lo nanya gitu, lo di sakitin?” tanya Putra.


Putri menganggung pelan.


“Siapa yang berani nyakitin lo?!” tanya Putra yang sepertinya tak suka jika adik kesayangannya di sakiti.


“Darel,” jawab Putri seraya menundukkan kepala.


“Darel yang tengil itu?!” tanya Darel dengan sedikit emosi.


"Gini deh Put, mending lo lupain Darel terus deketin cowok yang waktu itu anter lo pulang.” ucap Putra memberi saran membuat Putri mengerutkan keningnya.


“Maksud lo Kak Damar?”


“Namanya Damar?” tanya Putra dan di balas anggukan oleh Putri. “Nah, yaudah sana lo pacarin dia aja biar Darel tau kalo lo udah ngelupain dia.”


Putri menggelengkan kepala mendengar ucapan Putra, “Terus gue suruh jadiin Kak Damar sebagai pelampiasan? Gak mau ah!”


“Ya terserah lo sih kalo lo gak mau. Tapi emang lo mau terkesan lemah di depan Darel? Kalo gue jadi lo sih, ogah! Mending gue buktiin kalo gue bisa hidup tanpa dia dan cari yang lebih baik dari dia.” ucap Putra lalu bangkit dan berjalan keluar.


“Emang gak papa ya kalo gue lakuin itu?” tanya Putri membuat Putra menghentikan langkahnya dan tersenyum puas.


“Mulai kepancing juga kan lo?” tanya Putra membuat Putri menatapnya malas. “Udah coba aja. Kalo lo takut ngerasa bersalah, mending lo bilang yang sejujurnya sama Damar biar dia tau dan gak baper ke elo. Ya mudah-mudahan sih kalian saling baper dan akhirnya jadian deh.”


“Ih ya enggaklah, dia bukan tipe gue kok.” ucap Putri.


“Terus tipe lo yang kaya mana? Yang kaya Darel?”


“Udah ah, jangan ngomongin Darel.” ucap Putri kesal.


Putra terkekeh dan berjalan keluar. Ia senang akhirnya adiknya sudah terpancing oleh hasutannya. Ia berharap Putri dapat segera melupakan Darel dan jadian dengan Damar. Tak tahu mengapa Putra ingin sekali Putri jadian dengan Damar, meskipun ia belum tahu seperti apa Damar sebenarnya.


"Masa iya aku lupain Kak Darel dan deketin Kak Damar?" ucap Putri lirih seraya menatap dirinya melalui cermin.


Putri memejamkan matanya dan mengusap wajahnya gusar, "Gak! Gak! Gue gak boleh mudah kehasut omongan Kak Putra!"