Need You

Need You
Empat




Akhirnya kegiatan MOS telah selesai, hari yang di tunggu pun tiba. Hari di mana seluruh siswa SMA MERDEKA menjalani kegiatan belajar mengajar tanpa ada kegiatan MOS.


Putri yang berangkat di antar oleh Laras, terlihat berlari kecil menuju ruang tata usaha untuk melihat di mana kelas yang akan ia tempati nanti.


"Putri!" teriak suara yang sudah tak asing bagi Putri.


Putri mengarahkan pandangannya ke sumber suara, "Susan? Lo baru berangkat? Tumben, biasanya lo kalo sekolah berangkatnya pagi banget. Apalagi sekarang pembagian kelas, emangnya lo nggak takut tuh nggak kebagian bangku?" ucap Putri dengan nada meledek kepada gadis yang bernama Susan.


Susan mendengkus, "Eh lo ngeledek ya? Itu kan dulu Put waktu masih SD. Udah yuk kita langsung ke ruang TU, udah siang nih." ucapnya sembari menarik tangan Putri.


"Iya-iya, santai aja kali San," ucap Putri sambil mengikuti langkah Susan.


Sesampainya di ruang tata usaha, Putri dan Susan langsung mencari namanya dan ternyata Putri dan Susan satu kelas, tepatnya kelas X3.


"Yah males deh gue sekelas lagi sama lo, perasaan dari TK lo sama gue satu kelas mulu. Bosen deh gue liat batang idung lo terus Put," ledek Susan membuat Putri terkekeh.


Tak terasa bel masuk sekolah pun di bunyikan. Seluruh siswa-siswi SMA MERDEKA langsung menuju ke kelasnya masing-masing.


Saat mereka melangkahkan kakinya menuju kelas, wajah Putri tiba-tiba pucat.


"Waduh San gue mules banget nih, gue ke toilet dulu ya. Lo langsung ke kelas nggak papa deh, entar gue nyusul."


"Oke deh Put, kalo gitu gue duluan ya."


"Iya. Eh San, jangan lupa milih meja nomor satu ya!" teriak Putri lalu segera menuju ke toilet dengan terburu-buru.


Bugh!


"Awww," rintih Putri.


Ternyata tanpa Putri sadari, ia telah menabrak seseorang.


Putri bangkit dan menaikkan pandangannya, ia sedikit menaikkan sebelah alisnya. Rupanya ia telah menabrak Damar, orang yang telah menghukumnya kemarin.


"Lo lagi, lo lagi. Kenapa sih lo selalu cari gara-gara sama gue. Lo sengaja nabrak gue biar bisa ngomong sama gue kan? Dasar cewe mesum! Nggak ada hal lain apa, selain cari gara-gara sama gue?" ucap orang tersebut.


"Kok lo malah nyalahin gue sih? Lo itu yang jalan nggak liat-liat. Makanya mata tu di pake!"


"Seharusnya elo tuh yang matanya di pake!" balas Damar tak mau kalah.


Damar membulatkan matanya mendengar ucapan Putri. "Nggak ada yang lucu!" bentak Damar membuat Putri diam seketika.


Tiba-tiba suasana menjadi hening.


"Putri," terdengar suara yang membuat Putri dan Damar menoleh ke sumber suara.


"Kak Darel?" ucap Putri.


Ya! Itu adalah Darel, orang yang selama ini dekat dengan Putri. Putri pun memiliki rasa yang besar kepada Darel, namun sayangnya sampai saat ini Darel belum juga meminta Putri untuk menjadi pacarnya.


"Lo ngapain di sini? Kan bel udah bunyi. Lo gak di apa-apain kan sama Damar?” tanya Darel.


Belum sempat Putri menjawab, Darel menatap Damar dengan tatapan tajam, “Lo apain Putri?”


“Lo pikir gue mau ngapain? Gak usah sok jadi pahlawan deh lo.” ucap Damar yang tak suka dengan tuduhan Darel. Sebenarnya ia memang sudah lama tidak suka dengan Darel. Karena menurutnya Darel tipikal orang yang tidak suka mematuhi aturan. Dan Damar tidak suka dengan orang seperti itu.


Saat ini Darel dan Damar duduk di kelas 12. Dan itu artinya masa jabatan Damar sebagai ketua OSIS sebentar lagi akan ia lepas.


“Udah Put, lo balik aja ke kelas. Gue takut lo di apa-apain sama ketua OSIS sok suci macem dia.” ucap Darel menyindir Damar.


Damar yang mendengar ucapan Dareel pun tidak terima dan menarik kerah Darel membuat Putri takut.


“Udah, udah. Kak Damar please gue mohon, lepasin Kak Darel!” ucap Putri tegas pada Damar. Damar pun akhirnya melepaskannya.


Kini Putri beralih ke Darel, “Kak Darel, gue gak di apa-apain kok sama Kak Damar, jadi lo gak perlu khawatir. Tadi gue yang salah, gue gak sengaja nabrak Kak Damar.” ucap Putri menjelaskan kepada Darel.


“Akhirnya lo ngaku juga kan kalau lo yang salah?” tanya Damar dengan senyum sinisnya.


“Lo beraninya sama cewek ya?” ucap Darel kesal yang hampir saja memukul wajah Damar.


“Daripada lo, lo beraninya nyakitin cewek. Seharusnya lo hati-hati Put sama buaya macem Darel!” ucap Damar yang mulai kesal dengan Darel.


Plakk!


Putri menatap nanar orang yang kini berada di hadapannya.