
Putri menyusuri koridor dengan headset yang menyumpal di telinganya dan sebuah buku yang terbuka rapi di atas kedua tangannya, mulutnya seakan membaca mantra yang terdapat pada buku tersebut.
Rupanya Putri sedang tidak menghafalkan mantra, melainkan sedang mencoba menghafal puluhan bahkan ratusan rumus-rumus fisika yang tertulis rapih dalam bukunya. Dari semalam Putri sudah mencoba menghafalkan rumus-rumus tersebut, namun tetap saja tidak ada yang ia ingat.
"Putri!" teriak seseorang yang Putri yakini adalah Susan. Putri menghentikan langkahnya guna menunggu Susan sampai di hadapannya.
Susan berhenti tepat di hadapan Putri dan mulai mengatur nafasnya, "Put gue tadi liat mobil kak Putra di sebrang jalan. Lo tadi anterin sama kak Putra?"
"Iya." jawab Putri dengan entengnya.
Susan mengerutkan keningnya, "Kok lo nggak bilang-bilang sih kalau kak Putra pulang ke Indonesia?"
“Emang gue mesti bikin pengumuman gitu ke elo kalo Kak Putra pulang? Gue risih aja liat lo di gombalin sama dia. Mana gombalannya receh lagi. Jijik gue liatnya,” ucap Putri acuh.
“Ah lo mah gak bisa liat Kakak sama temennya bahagia,” ucap Susan.
“Bukannya gitu Susan. Kak Putra tuh Cuma maen-maen doang sama lo. Dia gak pernah serius. Mending sekarang lo buka hati dan liat orang yang sekarang serius sama lo.” saran Putri membuat Susan mengerutkan dahinya tidak mengerti.
“Siapa?”
“Ntar lo juga tau siapa orangnya.” jawab Putri sekenanya.
Tak terasa bel masuk telah di bunyikan, Putri dan Susan segera melanjutkan langkahnya. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Putri. Ia adalah Darel.
Susan yang melihat kehadiran Darel segera berjalan lebih dulu menuju kelasnya.
Darel berjalan menghampiri Putri, "Nanti pulang sekolah kita jalan bentar yuk." ajak Darel.
"Kemana?" tanya Putri penasaran.
"Gimana kalo kita ke kafe biasanya?" tawar Darel yang di sambut antusias oleh Putri.
"Oke-oke, kalau gitu nanti lo tungguin gue di parkiran aja ya." ucap Putri dan di balas anggukan setuju oleh Darel. Putri pun melanjutkan langkahnya menuju kelas.
"Ganggu aja lo. Oh ya tadi Darel ngomong apa aja sama lo?" tanya Susan mengintrogasi Putri.
"Dia ngajak gue ke kafe pulang sekolah nanti." jawab Putri.
"Dan lo mau?" Putri mengangguk membenarkan perkataan Susan. "Mau aja lo di permainin sama Darel. Sampai kapan Put lo di giniin terus tanpa di kasih kepastian sama dia. Lo sadar dong Put kalau dia selama ini cuma PHPin lo doang." tegas Susan.
Susan sebenarnya kasihan kepada Putri. Namun sifat keras kepala Putri yang tidak mau mendengarkan Susan membuat Susan lelah dan lebih memilih diam sampai waktu yang akan membuktikan.
"Dia nggak PHPin gue San. Mungkin dia belum siap aja buat pacaran setelah apa yang udah mantannya lakuin ke dia." ucap Putri mencoba membela Darel.
"Put lo itu bego atau lugu sih? Gini ya gue jelasin, lo tau kan kalau Darel itu terkenal bad boy? sekarang gini aja, mana ada sih yang namanya bad boy trauma buat pacaran? Mana ada Put. Lo tau kan Cecep? Cowok paling cupu di kelas kita. Tapi meskipun dia cupu dan selalu di ejek sama temen-temennya, dia nggak pernah malu buat macarin Titin. Karena dia cinta mati sama Titin. Kenapa Darel yang terkenal bad boy bisa kalah sama Cecep yang terkenal cupu?" tanya Susan dengan nada menantang yang membuat Putri tidak dapat berkata-kata.
Saat Putri sedang terjebak dengan ucapan Susan, tiba-tiba Pak Acep yang merupakan guru fisika paling killer sepanjang abad datang dengan membawa ribuan tugas dan contoh soal di dalam buku tebalnya.
"Selamat pagi anak-anak!" ucap Pak Acep memberi salam kepada anak-anak.
"Pagiii pakkk," jawab seluruh siswa dengan serentak.
"Sekarang bapak minta kalian kerjakan tugas halaman 121 samapi halaman 128. Bapak minta di kumpulkan hari ini juga." seluruh siswa berasa ingin pingsan berjamaah ketika mendengar perintah dari Pak Acep.
"Kok gitu pak? kan kita belum ngerti materinya.” ucap salah satu siswa.
“Kan kemarin Bapak sudah minta kalian hafalkan rumus-rumus yang sudah Bapak berikan. Makanya kalau Bapak jelasin di depan tuh di dengerin, jangan sibuk sendiri!” jawab Pak Acep.
“Huuu,, Auuooooo,,," sorak seluruh siswa membuat Pak Acep geram.
"Jangan berisik! Apa kalian mau saya tambah lagi tugasnya?" ancam Pak Acep yang membuat seluruh siswa diam seketika.
"Gila nih guru, niat banget nyiksa muridnya." bisik Susan membuat Putri terkekeh saat mendengarnya.