
Setelah lama menyelesaikan misinya di toilet, Putri segera menuju kelasnya. Ia merasa lega ketika melihat kelasnya tidak ada guru. Jadi ia tidak akan tertinggal pelajaran.
"Put, kok lo lama amat sih? Lo tau nggak gue ni kawatir banget sama lo. Gue pikir lo di culik jin tomang." cerocos Susan ketika Putri tiba di kelas.
"Enak aja lo kalo ngomong. Lo aja sono yang di culik jin tomang, gue mah ogah." jawab Putri dengan entengnya.
Susan menaikkan sebelah alisnya "Terus kenapa lo lama amat di toilet doang? Jangan bilang lo ketiduran di sana."
"Ya enggak lah. Lo tau nggak? gue tadi nggak sengaja nabrak ketua OSIS belagu itu. Eh dia malah marah-marah nggak jelas gitu. Mana dia jelekin Kak Darel depan gue, kan gue nggak terima. Gue tampar aja deh dia." ucap Putri enteng.
"What?!" teriak Susan membuat seluruh siswa yang berada di kelas melihat ke arahnya.
"Lo kalo ngomong nggak usah teriak-teriak ngapa!" ucap Putri dengan sarkatis.
"Iya-iya sorry! Tadi lo bilang kalo lo tampar kak Damar? Lo tampar dia cuma gara-gara lo gak terima dia jelekin Darel depan lo?" tanya Susan dan dibalas anggukan oleh Putri.
"Put lo sehat 'kan? Kok lo gitu sih sama dia," lanjut Susan tidak percaya.
"Emangnya kenapa? Wajar dong kalo gue nampar dia, dia udah jelek-jelekin kak Darel depan gue. Dia bilang kalo kak Darel bisanya cuma nyakitin hati perempuan doang. Gue nggak terima lah San." Susan yang mendengarkan cerita Putri hanya bisa menepuk jidatnya.
"Tapi yang di omongin dia itu bener, Darel emang bisanya cuma nyakitin perempuan doang Put. Put lo sadar dong selama ini Darel cuma ngasih harapan doang ke elo, dia nggak serius sama lo." ucap Susan menegaskan kepada Putri.
"Tapi gue cinta San sama dia, begitupun dia. Gue kenal dia udah lama, gue tau semua sifat dia," ucap Putri menyela.
Susan menarik nafas gusar, "Cinta lo ke dia itu buta Put, Dia itu nggak cinta sama lo. Kalo dia emang cinta sama lo kenapa dia nggak nembak lo juga? Inget, lo udah hampir 1 tahun lebih di giniin sama dia. Lo sadar dong Put, jangan mau di permainin."
"Gue nggak peduli soal itu, Intinya gue sayang dan cinta sama dia." Susan hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Putri. "Tapi gue masih kesel San sama ketua OSIS belagu itu." lanjut Putri.
"Namanya kak Damar, bukan ketua OSIS belagu." ucap Susan sarkatis.
"Asal lo tau ya Put dia merupakan most wanted di SMA ini, mungkin karena kepintaran dan ketampanannya yang membuat dia di sukai hampir seluruh siswi di SMA ini."
"Gue enggak!" potong Putri.
"Itu mah urusan lo, tapi emang bener kok dia itu di liat-liat emang ganteng. Hampir semua cewek yang deket dia pasti pengen pingsan di pelukannya." ucap Susan sembari membayangkan wajah Damar.
Putri memutar bola mata mendengar ucapan Susan, "Sebahagia lo aja! udah ah, gue capek denger omongan lo tentang si ketua OSIS belagu itu. Jadi laper gue,"
"Dari pada lo yang di ceritain Darel mulu Darel mulu. Apa sih bagusnya dia? Hmm?" tanya Susan dengan nada menantang.
Belum sempat Putri menjawab, bel istirahat pun berbunyi. Seluruh siswa bersorak ria.
"Yes istirahat! Kantinnn, i'm coming!" teriak Bayu yang merupakan ketua kelas sekaligus biang rusuh di kelas X3.
"Cacing-cacing di perut,, curi semua nutrisi,, tapi tak perlu takut, ada neng Lastri,, yayang Bayu tungguin Lastri!" teriak Lasti.
"Eh Lastri, lo produk pembasmi cacing ya?" celetuk salah satu siswa.
"Iya, lo cacingnya!" jawab Lastri dengan tatapan tajam, "yayang tungguin aku.." lanjutnya sambil mengejar Bayu yang sudah tak terlihat dari pandangannya. Seluruh siswa hanya tertawa melihat kelakuannya. Tak terkecuali Putri dan Susan.
Tak lama dari itu, Darel pun datang menghampiri Putri yang sedang duduk bersama Susan. Susan yang melihat kehadiran Darel, segera pergi entah kemana. Ia malas melihat wajah Darel.
Kemudian Putri dan Darel pun segera berjalan menuju kantin. Karena tujuan Darel menghampiri Putri untuk mengajaknya makan di kantin.