
“Gimana? Udah sadar?” tanya seorang wanita pada puteranya.
Puteranya menggeleng dan masih menatap gadis yang kini tengah terbaring pingsan di hadapannya.
“Kamu tau alamat rumahnya?” tanya Wanita tersebut yang bernama Anita.
Anita adalah Mama Damar. Kini ia menyandang status sebagai single parents setelah perceraiannya dengan suaminya.
“Damar tau Ma.” jawab Damar yang masih terlihat khawatir dengan keadaan Putri yang belum sadarkan diri.
Putri membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa berat. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling. Ia tak tahu dimana sekarang ia berada. Yang jelas tempat ini begitu asing untuknya. Sepertinya ia sedang di sebuah kamar. Tapi kamar siapa?
“Udah sadar?” tanya suara membuat Putri menoleh.
“Lo?” ucap Putri begitu melihat Damar ada di sini. “Kok gue di sini?” tanya Putri yang masih tidak ingat apa yang terjadi dengannya.
“Tadi kamu pingsan di jalan dan anak tante yang bawa kamu kesini.” ucap seorang wanita yang kini berjalan mendekat ke arah Putri.
Putri tersenyum ke arah wanita tersebut.
“Kamu udah mendingan? atau masih ada yang sakit?” tanya Anita yang terlihat khawatir dengan Putri.
“Udah mendingan kok tante.” jawab Putri membuat Anita dan Damar tersenyum mendengarnya.
“Yaudah kalau gitu tante keluar dulu ya. Kalau ada apa-apa kamu bilang aja sama Damar atau gak panggil aja tante.” ucap Anita.
“Iya, tante.”
Anita pun berjalan pergi meninggalkan Putri dan Damar berdua.
Setelah kepergian Anita, suasana menjadi canggung. Putri tampak mencari sesuatu, tangannya meraba ke sekeliling, rupanya ia sedang mencari ponselnya.
“Lo cari ini?” tanya Damar seraya menunjukkan ponsel milik Putri. Putri mengangguk dan meraihnya dari tangan Damar.
Putri pun mencoba men-dial nomor Laras untuk mengabari keberadaannya.
“Assalamualaikum Ma.”
“Wallaikumsalam. Sayang kamu dimana? Mama khawatir, tadi Darel ke sini nanyain keberadaan kamu.” tanya Laras di seberang sana yang terlihat begitu khawatir kepada Putri.
“Mama gak usah khawatir, aku gak kenapa-napa kok. Aku ada di rumah temen. Bentar lagi juga Putri pulang kok Ma.” ucap Putri menjelaskan kepada Laras.
“Yaudah kalau gitu, Mama takut aja kamu kenapa-napa.”
“Wallaikumsalam,”
Setelah menghubungi Laras, Putri menaruh ponselnya ke dalam saku.
Damar menatap Putri dengan tatapan yang sulit di artikan. Putri yang sadar jika Damar menatapnya pun hanya bisa mengerutkan keningnya.
“Gitu amat liatnya,” ucap Putri membuat Damar tersadar dan menjadi salah tingkah.
Putri kembali fokus pada ponselnya.
“Oh ya, mau gue anterin pulang?” tawar Damar.
Putri menoleh dan akhirnya mengangguk.
Damar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia menoleh ke arah Putri yang terlihat sedang melamun.
“Lo ngelamunin apa sih?” tanya Damar mencoba bertanya.
Putri tidak menjawabnya. Ia masih tetap melamun. Sepertinya ada yang sedang ia pikirkan.
Damar menghela napas dan menyunggingkan senyumnya, "Put,” panggil Damar namun tetap saja tidak membuat Putri tersadar.
“Putri!” panggil Damar sedikit berteriak membuat Putri tersentak kaget.
“Apa sih?”
“Gue nanya, lo ngelamunin apa?” tanya Damar mengulangi pertanyaannya.
“Gue gak ngelamun kok,” jawab Putri singkat lalu menatap lurus ke depan.
“Yang bener?”
Putri menghela napas dan menatap Damar tajam, “Kok lo kepo banget sih!” ucap Putri yang mulai kesal.
“Karena gue peduli sama lo,” ucap Damar tanpa sadar membuat Putri terdiam.