Need You

Need You
Dua Puluh Dua




Bel berbunyi!


Menandakan pelajaran hari ini telah selesai. Pak Acep yang sedang menjelaskan materi kepada siswa siswinya pun menyudahinya dan keluar dari kelas.


“Lo pulang bareng Kak Damar?” tanya Susan pada Putri saat mereka akan berjalan keluar kelas untuk pulang.


“Iya, lo bareng Kak Angga?” tanya Putri balik dan di jawab anggukan oleh Susan.


Mereka menyusuri koridor yang di penuhi oleh siswa siswi yang tak sabar ingin pulang ke rumah masing-masing.


“Entar malem gue ke rumah lo ya, kita belajar fisika bareng. Kan lo liat sendiri tadi kalo nilai kita jelek.” ucap Susan.


Putri mengangguk setuju, “Oke kalo gitu.”


"Kalo gue ajak Kak Angga, gimana?” tanya Susan.


Putri tampak berfikir, “Gue bukannya ngelarang sih, tapi apa reaksi Kak Putra kalo dia liat lo dateng ke rumah sama Kak Angga?”


“Lo bilang Kak Putra cuma main-main sama gue. Terus apa salahnya Put?” tanya Susan yang tak mengerti.


Putri menghela napas, “Yaudah deh lo ajak aja gak papa.”


Susan tersenyum, “Kalo gue ajak Kak Damar?”


“San, kita mau belajar. Bukan mau nge-date.”


“Kan kita bisa minta ajarin Kak Damar, secara dia kan pinter.” jawab Susan membuat Putri menghela napas gusar dan akhirnya mengalah.


“Hai, Put.” sapa Damar yang kini telah berada di samping Putri. Putri tak tahu dari mana datangnya Damar sampai-sampai sudah berada di samping Putri.


“Putri aja nih yang di sapa? Gue enggak?” tanya Susan membuat Putri terkekeh pelan.


“Lo kan udah ada Ang—“


“Hai sayang,” sapa Angga pada Susan. Belum selesai Damar bicara, Angga sudah berada di samping Susan.


Melihat kehadiran Angga, Susan pun tersenyum.


“Yang kita duluan aja yuk, kita kan mau nge-date. Ya gak?” ucap Angga pada Susan seraya mengedipkan matanya.


Susan mengangguk setuju, “Oh iya ya yang, yaudah kalo gitu kita duluan aja ya.” ucap Susan lalu mengajak Angga untuk berjalan lebih dulu meninggalkan Damar dan Putri.


Sebenarnya Susan dan Angga tidak ada janji kemana-mana. Mereka berdua seperti itu agar Damar dan Putri ada waktu untuk berdua. Mereka berdua ingin sekali Damar dan Putri cepat menjalin hubungan.


Susan ingin Putri cepat jadian dengan Damar agar Putri dapat melupakan bayang-bayang Darel. Sedangkan Angga, Angga ingin Damar cepat melepas masa jomblonya agar Bella tak lagi mendekati Damar. Tak tahu mengapa Angga begitu sirih jika melihat Bella mendekati Damar.



Damar menghentikan motornya di pinggir jalan membuat Putri bingung. Karena mereka belum sampai rumah Putri. Dan ini juga jauh dari rumah Damar.


“Kenapa berhenti Kak?” tanya Putri.


“Mau makan es krim dulu gak?” tawar Damar.


Mendengar hal tersebut, senyum pun tercipta di wajah Putri. “Mau banget Kak?” jawab Putri dengan antusias.


Damar pun mengangguk dan mulai melajukan motornya.


Kini mereka telah sampai di sebuah taman, mereka seakan di sambut oleh sekumpulan anak-anak yang sedang asik bermain. Hingga salah satu anak tersebut memberanikan diri untuk mengajak Putri dan Damar ikut bermain.


Tanpa basa basi, Putri dan Damar pun menuruti ajakan anak tersebut.


Mereka asik bermain sampai lupa tujuan utamanya ke taman untuk membeli es krim.


Damar yang sadar akan hal tersebut, segera berjalan pergi untuk membeli es krim.


“Kak, kakak ganteng tadi pacarnya Kakak ya?” tanya gadis kecil yang kini duduk di samping Putri.


Mendengar ucapan gadis kecil tersebut, Putri terkekeh pelan. Pipinya pun memerah. “Adek, kakak yang tadi bukan pacar kakak. Dia temennya kakak.” jawab Putri menjelaskan pada gadis kecil tersebut.


“Iya,” jawab Putri lembut.


“Kenapa kakak gak pacaran aja sama kakak tadi. Kan kakak yang tadi ganteng, terus kakak ini cantik.” ucap gadis kecil tersebut dengan polosnya membuat Putri gemas dan memeluknya.


“Yaudah kamu doain aja ya supaya kakak bisa pacaran sama kakak tadi.” ucap Putri berusaha agar gadis kecil tersebut tersenyum senang.


“Eh-hem,” Damar berdeham membuat Putri dan gadis kecil tersebut menoleh.


Damar menatap Putri dengan tatapan penuh arti membuat Putri menunduk malu. Putri sangat yakin jika Damar telah mendengar ucapannya pada gadis kecil tadi.


“Kenapa pipinya merah gitu?” tanya Damar membuat Putri malu mengarahkan pandangannya ke arah lain.


“Ciee kakak malu,” goda gadis kecil tadi membuat Damar terkekeh.


“Emang tadi kakak ini bilang apa aja dek?” tanya Damar terkekeh pada gadis kecil tersebut.


Gadis kecil tersebut tersenyum ke arah Putri,


“Tadi kakak cantik ini bilang sup—“


“Adek, nih es krim buat kamu. Kamu kasih temen-temen kamu juga ya.” ucap Putri yang menarik paksa es krim dari tangan Damar dan memberikan kepada gadis kecil tersebut.


Putri sengaja melakukan hal tersebut agar gadis kecil tadi tidak menjelaskan semuanya kepada Damar.


Melihat hal tersebut, gadis kecil tersebut pun tersenyum senang dan meraih beberapa es krim itu lalu berjalan menghampiri taman-temannya.


Setelah kepergian gadis kecil tadi, Damar pun mendudukkan dirinya di samping Putri. Putri sedikit gugub saat Damar menatapnya.


“Mereka lucu ya,” ucap Putri supaya Damar mengarahkan pandangan ke arah anak-anak kecil yang sedang asik menikmati es krim.


"Gue jadi inget masa kecil gue Put." ucap Damar seraya memperhatikan anak-anak tersebut.


"Oh ya?" balas Putri antusias.


Damar tersenyum sendu, "Gue inget dimana keluarga gue masih utuh dan hubungan gue dengan adik gue masih erat."


Putri menaikkan sebelah alisnya, "Lo punya adik? Kok gue nggak pernah tahu?"


Damar mengangguk, "Iya, gue punya adik. Kita udah pisah semenjak nyokap dan bokap gue cerai. Gue ikut nyokap, sedangkan dia ikut bokap.”


“Kenapa bokap nyokap lo cerai?” tanya Putri yang terlihat penasaran.


“Bokap sama nyokap gue cerai karena gue.”


Putri mengernyit, “Karena lo?”


Damar mengangguk, “Bokap gue nyesel punya anak kaya gue, mungkin karena gue cuma bisa ngabisin harta mereka doang. Semua itu karena operasi pencangkokan ginjal buat gue yang butuhin dana begitu banyak. Hingga akhirnya perusahaan bokap gue bangkrut buat biayain pengobatan gue.”


Putri turun kasihan mendengar cerita Damar.


Damar menghela napas,


“Bokap gue selalu nyalahin nyokap, karena nggak bisa ngurus gue dengan baik. Sampai akhirnya bokap gue mutusin buat cerai. Gue nggak tahu dimana keberadaan adik dan bokap gue sekarang, karena semenjak perceraian itu mereka menghilang tanpa kabar. Gue berharap suatu saat gue bisa bertemu dan berkumpul kaya dulu lagi." Putri menatap Damar dengan rasa iba, ia tak menyangka jika kehidupan Damar begitu pahit. Karena selama ini Damar tidak pernah memperlihatkan rasa sedihnya.


"Lo yang sabar ya kak, gue yakin suatu saat nanti keluarga lo bakal utuh kaya dulu lagi."


Damar mengangguk, “Makasih Put,”


“Sama-sama Kak.” jawab Putri dan mereka berdua pun tersenyum.


Damar kembali menatap Putri membuat Putri malu dan mengarahkan pandangan ke arah lain.


“Gue suka kalo liat lo lagi malu kaya gini.” ucap Damar membuat pipi Putri memerah dan tersenyum malu.