
“Putri.” panggil orang tersebut saat keluar dari mobilnya.
Putri menoleh, di lihatnya Darel menghampiri dengan sebuah payung. Lagi-lagi ia teringat Damar. Karena kejadian ini sangat persis saat Damar menolongnya dulu.
“Buruan naik mobil gue,”
Putri menyanggupi perintah Darel dan berjalan masuk ke mobil Darel.
“Lo kenapa?” tanya Darel yang mulai melajukan mobilnya.
Putri hanya diam, ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Darel. Darel mengerti mengapa Putri seperti ini. Akhirnya segera ia antarkan Putri pulang.
Saat di perjalanan menuju rumah Putri. Putri melihat sebuah motor yang sangat ia kenali melintas dari arah yang berlawanan. Motor itu adalah motor Damar. Dan tentunya sang pengemudinya adalah Damar. Namun yang membuat Putri semakin sakit, Damar masih bersama Bella.
Darimana sebenarnya mereka berdua?
Entahlah, Putri tak mau memikirkan itu. Namun, walaupun tidak Putri pikirkan, semua itu akan terngiang di pikiran Putri.
Darel menoleh ke arah Putri, ia melihat air mata Putri terjatuh. Ia senang melihat Putri terluka karena Damar. Karena dengan begitu, ia dapat merebut Putri kembali.
Sesampainya di rumah Putri, Darel membukakan pintu mobil untuk putri. Putri keluar dengan mata yang sedikit merah karena menangis.
“Put, besok gue jemput ya,” ucap Darel dan di angguki oleh Putri.
Darel pun tersenyum dan segera melajukan mobilnya untuk pulang.
Setelah kepergian Darel, ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Suasana rumah terlihat sepi, sepertinya Laras sedang menemani Wijaya di kantor.
“Non Putri udah pulang?” terdengar suara khas dari dapur. Siapa lagi kalau bukan Tuti.
Putri mengangguk dan tersenyum.
Tuti menghampiri Putri dengan secangkir cokelat panas di tangannya. Ia serahkan cokelat itu kepada Putri. “Ini Non cokelat panasnya. Mbak Tuti baru aja buat sengaja untuk Non Putri.” Putri meraihnya dengan senang hati. “Oh ya Non, tadi Mas Damar—“
Putri memberi isyarat kepada Tuti agar tidak melanjutkan ucapannya. Putri terlalu sakit mendengar nama Damar.
Tuti mengangguk mengerti. Kemudian Putri pun berjalan menuju kamarnya dengan membawa cokelat panas buatan Tuti tadi.
Sesampainya di kamar, ia melemparkan tasnya ke sembarang tempat. kemudian meneguk cokelat panas tersebut lalu menaruhnya di atas meja. Ia jatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan membenamkan wajahnya pada boneka panda miliknya.
Ia merutuki dirinya sendiri yang terlalu bodoh itu. Perlahan namun pasti, ia pejamkan matanya hingga tanpa ia sadari ia sudah terlelap dalam tidurnya.
Sedari tadi Damar tidak dapat berfikir tenang. Ia sedang memikirkan Putri. Sebenarnya kemana Putri. Mengapa saat ia ke rumah Putri, Putri belum juga pulang. Padahal Susan bilang jika Putri sudah pulang sejak tadi.
Damar meraih ponselnya dan mencari kontak Putri. Ia akan menghubungi Putri untuk memastikan apakah Putri baik-baik saja.
Damar tersenyum saat telponnya telah tersambung dengan Putri. Damar terus menunggu Putri mengangkatnya. Namun sampai saat ini, belum juga di angkat. Apakah Putri semarah itu sampai tak mau mengangkat telponnya.
Damar menarik napas gusar dan melemparkan ponselnya ke atas kasur. Ia sudah tak bersemangat lagi kali ini.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat ada notofikasi pesan dari Putri. Damar pun segera meraih ponselnya dan membuka pesan dari Putri.
Putri : Gue minta sekarang lo jauhin gue! Atau gue yang akan jauhin lo!
Damar mengernyit saat membaca pesan Putri. Ternyata Putri memang benar-benar marah dengannya sampai-sampai Putri mengirimkan pesan seperti itu kepada Damar. Tak adakah kata maaf untuk Damar? Sebenci itukah Putri dengan Damar?
Putri menghela napas lega saat ia sadar jika tadi adalah mimpi.
Ya, ia bermimpi Damar memanggil namanya. Terus saja memanggil namanya. Padahal ia tak mau menjawab teriakan Damar.
Jangankan menjawab, menoleh pun Putri enggan. Putri terus saja berjalan tanpa menoleh sampai teriakan Damar sudah tak terdengar lagi. Putri merasa ada yang aneh.
Akhirnya ia pun menoleh dan mendapati Damar pingsan dengan mengeluarkan cairan darah dari hidungnya. Putri berteriak memanggil nama Damar, “Kak Damar, bangun Kak!” teriak Putri seraya mengguncangkan tubuh Damar. Namun naas, Damar sudah tak bernafas lagi.
Namun syukurlah, yang ia alami tadi hanya mimpi. Walaupun itu hanya mimpi, Putri masih memikirkan Damar. Ia ingin sekali memastikan jika Damar baik-baik saja.
Akhirnya ia pun mencari ponselnya. Namun sial, ponselnya tak ada. Ia meraih tasnya dan mencari ponsel di sana. Namun sayangnya tak ada juga. Kemana sebenarnya? Apakah terjatuh?
Putri mengusap wajah gusar dan akhirnya terlintas satu ide dari dalam otaknya. Ia pun berjalan menuju dapur untuk menemui Tuti.
“Mbak Tuti, boleh minta tolong?” tanya Putri pada Tuti yang sedang mencuci piring.
Tuti mengangguk dan mencuci tangannya. “Iya Non, mau minta tolong apa?”
“Boleh minta tolong telponin Kak Damar gak?”
Tuti mengernyit, “Boleh sih Non, tapi tumben Non Putri minta tolong Mbak Tuti. Emang hp Non dimana?” tanya Putri heran.
“Hp aku gak tau kemana Mbak. Kayanya jatuh waktu di sekolah.” ucap Putri membuat Tuti mengangguk mengerti.
“Ya sudah ini Non hp Mbak Tuti, silahkan kalau Non Putri mau nelpon Mas Damar.” ucap Tuti seraya menyerahkan ponselnya kepada Putri.
Putri meraih ponsel Tuti dan langsung memasukan nomor Damar di sana. “Nih Mbak, Mbak Tuti aja ya yang ngomong.”
Tuti meraih ponselnya kembali, “Ngomong gimana Non?”
“Udah ngomong aja, terserah Mbak Tuti mau ngomong apa.”
Tuti tampak bingung dengan maksud dan tujuan Putri. Namun akhirnya ia sanggupi saja karena mau bagaimana pun Putri adalah majikannya.
Tuti pun segera men-dial nomor Damar. Dan tanpa menunggu waktu lama, telponnya pun tersambung.
“Gimana, udah di angkat?” tanya Putri namun Tuti menggeleng.
“Mbak, ini udah di angkat.” bisik Tuti pada Putri saat Damar mengangkat telponnya.
Mendengar ucapan Tuti, Putri pun dapat bernapas lega. “Suara Damar yang ngangkat?” tanya Putri lirih dan di balas anggukan oleh Tuti. “Yaudah kalau gitu matiin aja Mbak,” ucap Putri. Dan Tuti pun mematikan sambungannya.
“Kok aneh Non, Non Putri gak mau ngomong sama Mas Damar?” tanya Tuti.
Putri menggeleng, “Enggak Mbak, aku cuma mau mastiin aja kalau dia baik-baik aja. Kalau gitu makasih ya Mbak.”
“Iya, Non.”
Putri pun berjalan pergi meninggalkan Tuti.
Tuti menatap punggung Putri yang mulai menjauh. Dapat Tuti rasakan kalau Putri benar-benar mencintai Damar.