
Cakra berjalan menghampiri Bella yang tengah duduk di sofa. Kini Bella tengah menemani Cakra menunggu Damar. Berharap Damar dapat sadar sekarang juga.
“Lo udah ngantuk?” tanya Cakra yang melihat Bella menguap.
Bella tersenyum dan menggeleng, “Gue udah biasa begadang.” jawabnya membuat Cakra terkekeh.
“Belagu lo Beel,”
Bella melipat kedua tangannya di depan dada, “Gak percaya?”
“Ya enggak lah. Gue kenal lo dari kecil, gue juga inget dulu lo sering banget ketiduran di rumah gue. Ya kali lo doyan begadang. Di kasih bantal aja paling udah molor lo.” ucap Cakra membuat Bella terkekeh geli.
“Jangan buka kartu juga kali Ka. Malu gue,” ucap Bella tersenyum malu.
Cakra tertawa, “Lo dari dulu gak berubah ya Bell?”
Mendengar ucapan Cakra, senyum Bella seakan sirna. ‘Enggak Ka, gue bukan yang dulu. Gue udah berubah, sekarang gue jahat Ka. Gue hampir ngancurin hubungan Kakak lo sama pacarnya.’
“Oh ya Bell, Gimana kabar Darel sama Angga?” tanya Cakra. Ya, Cakra memang mengenal Darel. Karena dulu Cakra, Damar, Bella, Darel adalah sahabat masa kecil. Namun Cakra harus pisah dengan mereka saat ia berusia 13 Tahun. Itu semua karena perceraian kedua orang tuanya.
Setelah beberapa tahun kepergian Cakra, Darel menyatakan suka kepada Bella. Akhirnya mereka berdua pun menjalani sebuah hubungan. Setelah Bella dan Darel berpacaran. Persahabatan mereka pun menjadi renggang. Mereka tak pernah lagi berkumpul atau pun jalan bersama.
Hubungan Bella dan Darel mulai hancur saat Bella mulai menyukai Damar dan meninggalkan Darel. Entah sejak kapan Bella menyukai Damar. Hal itulah yang membuat Darel begitu membenci Damar. Dan karena itu juga Darel berubah seperti ini. Ia menjadi playboy dan tak memperdulikan perasaan orang lain.
“Bell!” panggil Cakra mengagetkan Bella. Melihat ekspresi Bella terkejut, Cakra pun terkekeh. Sungguh, ekspresi Bella sangat lucu.
Cakra hanya terkekeh seraya menatap Bella dengan tatapan penuh makna. Bagi mereka yang sering jatuh cinta, mungkin mereka tahu arti tatapan Cakra kepada Bella.
“Mbak, udah sampai Mbak.” ucap supir mencoba membangunkan Putri.
“Mbak kita udah sampai. Ini alamat yang mbak maksud.” ucap supir taksi tersebut seraya menunjuk sebuah rumah yang alamatnya sama dengan yang di tuliskan Cakra tadi.
Putri tersenyum puas lalu menatap jam yang melingkar di tangannya. Sekarang sudah cukup malam. Dan Putri tidak memiliki banyak waktu untuk itu.
Putri pun segera keluar dari taksi itu dan berjalan menuju rumah yang supir taksi tadi tunjukan.
Berkali-kali Putri memencet bel rumah tersebut. Namun sampai saat ini tak ada yang menjawab ataupun membukakan pintu untuknya. Putri tak putus asa, ia terus mencoba mengetuk pintu itu seraya berteriak. Berharap orang yang ada di dalam rumah itu mampu mendegarnya.
“Nyari sapa Mbak?” tanya seorang laki-laki dari belakang mengagetkan Putri.
Putri menoleh, “Pak, ini bener rumahnya Pak Surya kan?”
Laki-laki itu mengangguk. “Iya Mbak, betul ini rumahnya Pak Surya.”
“Kalau gitu Pak Surya dimana ya Pak?”
“Kurang tahu Mbak. Soalnya Pak Surya memang jarang di rumah. Coba Mbak liat aja di samping itu ada mobil atau tidak. Kalau tidak ada, berarti Pak Surya gak ada di rumah.” ucap laki-laki itu.
Putri mengangguk dan menoleh ke samping rumah Surya. Namun mobilnya tak ada di sana. Hal itupun menandakan jika Surya tidak ada di rumah.
“Gak ada, Pak.” jawab Putri kecewa.
“Berarti memang gak ada di rumah Mbak. Yaudah Mbak, kalau gitu saya mau lanjut ronda lagi.” ucap laki-laki itu lalu berjalan pergi meninggalkan Putri sendiri.
Putri mengusap wajahnya frustasi. Niatnya untuk membawa Surya kepada Damar gagal. Padahal ia sudah jauh-jauh kemari, namun orang yang ia cari tak ada. Putri pun berjalan kembali ke taksi tadi dan akhirnya pulang.