Need You

Need You
Tiga Puluh Sembilan




“Jadi, lo pacarnya Kak Damar?” tanya orang tersebut ketika sampai di hadapan Putri.


Putri mengernyit bingung, “Lo .. Lo siapa? Kenapa lo mirip banget sama Kak Damar?”


Orang itu terus tersenyum membuat Putri semakin penasaran.


“Gue tanya, lo siapa?” tanya Putri sekali lagi.


Orang itu mengulurkan tangannya ke arah Putri. “Kenalin, nama gue Cakra. Gue adik kembarnya Kak Damar.”


“Kembar?”


Cakra mengangguk, “Iya. Emang Kak Damar gak pernah cerita ke elo? Bukannya elo pacarnya?”


Putri tampak berfikir dan akhirnya menggeleng, “Dia gak pernah cerita kalau dia punya kembaran. Dia sih pernah bilang kalau dia punya adik, tapi dia gak bilang kalau kalian kembar.” jelas Putri membuat Cakra mengangguk mengerti.


“Lo udah lama pacaran sama Kak Damar?”


Putri menggeleng, “Baru Satu bulan.” Cakra menganggu mengerti. “Oh ya, kok lo bisa di sini? Bukannya lo udah gak tinggal lagi bareng Kak Damar?” tanya Putri bingung.


“Gue dapet kabar ini dari Bella. Karena itu gue ke sini.”


“Sama bokap lo juga?” tanya Putri.


Cakra menggeleng, “Gue gak tau kenapa Papa gak mau ke sini. Gue tau kalau sebenarnya dia sayang banget sama Kak Damar, tapi dia malu buat balik ke sini setelah apa yang udah dia lakuin dulu.” Cakra memberi jeda membuat Putri menjadi penasaran. “Dulu, Papa sering banget marahin Kak Damar, bahkan Kak Damar sering juga di pukulin, padahal situasinya Kak Damar baru sembuh dari operasinya. Gue sebenarnya kasian liatnya, tapi gue bisa apa? Sebagai adik kembarnya, gue juga sering ngerasain apa yang dia rasain.”


Putri merasa kasihan mendengar cerita Cakra tentang kehidupan Damar. “Gue juga ikut sedih denger cerita lo tentang Kak Damar,” Putri menoleh ke arah Damar yang tengah terbaring. “Siapa nama Papa kalian?” tanya Putri.


“Surya,”


“Boleh gue ketemu sama Pak Surya?”


Cakra mengernyit, “Untuk apa?”


“Gue pengen ngomong, sapa tau aja gue bisa bawa Pak Surya kesini dan ketemu sama Kak Damar, dengan begitu gue berharap Kak Damar bisa sadar dari komanya.”


Ada benarnya juga ucapan Putri. Karena selama ini Putri tahu jika Damar begitu mengharapkan Papa dan adik kembarnya kembali.


“Boleh gue pinjem kertas sama pulpen?”


Cakra tampak menuliskan alamat di kertas itu dan memberikan kembali kertas itu pada Putri. “Itu udah gue tulis alamatnya. Lo bisa ke sana. Apa perlu gue anter?” tanya Cakra.


Putri menggeleng, “Gak perlu, gue bisa ke sana sendiri.” Cakra mengangguk mengerti. “Gue titip Kak Damar ya,”


“Iya,”


Putri segera meraih tasnya dan berjalan keluar dari ruangan Damar.



Putri melambaikan tangannya saat sebuah taksi melintas di hadapannya. Taksi itu berhenti, dengan cepat Putri segera naik ke dalam taksi itu.


“Pak, ke alamat ini ya,” ucap Putri seraya memberikan secarik kertas kepada supir taksi tersebut.


Supir taksi itu meraih dan membacanya, “Wah, tapi ini lumayan jauh Mbak.”


“Gak papa Pak, anterin aja saya ke sana.”


“Baik, Mbak.” jawab supir taksi tersebut dan mulai melajukan taksinya.


Selama perjalanan Putri tampak panik memikirkan keadaan Damar. Sedih memang jika melihat orang yang kita sayangi terbaring lemah dan tak berdaya. Putri berharap dengan ia bisa mendatangkan Surya, Papa Damar, Damar dapat sadar dari komanya dan dapat tersenyum kembali.


Putri mengarahkan pandangannya ke arah jalan. Ia tampak asing dengan jalan ini. Karena sebelumnya ia tak pernah melintasi jalanan ini.


“Masih jauh ya Pak?” tanyanya pada supir taksi tersebut.


“Masih Mbak, mungkin malam kita bisa sampai sana.”


Malem? Gimana kalau Mama nyariin? Mana Papa belum pulang ke Indonesia. batin Putri.


Ya, ia takut jika kedua Laras panik karena ia belum juga pulang. Akhirnya ia meraih ponselnya dan menghubungi Laras. Ia akan menjelaskan semuanya kepada Laras jika ia akan pulang larut malam. Semoga Laras bisa mengerti dan mengijinkannya.


Setelah menghubungi Laras, Putri dapat bernapas lega. Untungnya Laras memaklumi dan mengijinkannya. Ia bersyukur memiliki Ibu sebaik Laras.


Karena rasa kantuk mulai menghampiri Putri, akhirnya Putri terlelap dalam tidurnya.