Need You

Need You
Enam Belas




Pagi ini Putri sengaja berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Karena Ia ingin menceritakan semuanya kepada Susan, dan Susan pun mendengarkannya turut kasihan.


Karena dari awal memang Susanlah satu-satunya orang yang tidak setuju dengan kedekatan Putri dan Darel.


"Lo sih Put dari awal nggak mau dengerin kata-kata gue. Gue itu udah sering liat Darel jalan sama cewek lain. Tapi lo nggak pernah percaya sama gue sih." keluh Susan.


Putri menarik nafas, "Iya San gue baru sadar. Coba aja dari awal gue dengerin semua omongan lo, semuanya gak bakal kaya gini.” ucap Putri sambil menangis, Susan yang melihat Putri menangis segera memeluknya agar Putri merasa lebih tenang.


"Yaudah sekarang lupain soal Darel. Gue punya kabar gembira." ucap Susan sambil tesenyum gembira.


"Apa?"


Susan bangkit dari duduknya dan menarik nafas, "Kabar gembira untuk kita semuaa, Kulit manggis kini ada ekstraknya. Mastin hadir sehatkan tubuh kita,, penuh pesona,, pesona mastin. Mastin uhhh!!!" Susan menyanyikan iklan mastin.


Putri menatap Susan dengan malas, “Susan, serius.”


"Oke-oke, gue, Gue—“ ucap Susan dengan malu-malu membuat Putri sedikit kesal.


"Lo kenapa?" tanya Putri tidak sabar.


Susan menarik nafas dengan perlahan, "Gue, gue jadian sama kak Angga." bisik Susan malu-malu.


"Serius lo?" tanya Putri histeris. Ia terlalu senang tentang kabar tersebut.


"Ya masa gue bohong sih masalah kaya gini."


"Oke kalo gitu gue minta PJ dari lo dan kak Angga."


Susan memutar bola matanya malas, “Garian soal PJ aja, ilang sedihnya.” ucap Susan membuat Putri menyengir kuda.


"Oke deh. Entar malem gue sama kak Angga ngajak lo dinner di kafe Garden. Gimana, mau nggak?"


“Kok malem sih? Gue gak mungkin di izinin. Apalagi ada Kak Putra, pasti dia bakal ngelarang.” ucap Putri kecewa.


“Bokap lo ada gak?”


Putri menggeleng, “Bokap gue lagi keluar kota.”


Susan tersenyum, “Nah, kalo gitu gue aja yang minta izin sama Kak Putra.” ucap Susan.


Susan tampak berpikir lalu menghela napas, “Yakin kok,” jawab Susan membuat Putri tersenyum.


Tiba-tiba Putri mengerutkan keningnya, "Eh tunggu-tungu, terus gue di sana kaya baygon semprot cap tiga roda gitu ngeliatin lo berdua pacaran?" tanya Putri tidak terima.


Susan tersenyum penuh arti, "Udah lo tenang aja, entar kak Angga mau ngajakin temennya kok." ucap Susan dan di balas anggukan mengerti oleh Putri. Meskipun Putri tidak tahu siapa teman Angga yang di maksud Susan.



Sudah hampir lima belas menit Angga melamun sambil tersenyum sendiri membuat Damar yang di sampingnya bergidik ngeri.


"Lo kesambet apa sih Ga sampai ngelamun nggak jelas kaya gini?" tanya Damar sambil menyenggol tubuh Angga.


"Udah diem, nggak usah banyak tanya." ucap Angga yang masih saja tersenyum.


Damar memutar bola matanya malas. "Gue baru nanya sekali di bilang banyak nanya." Damar mendengus kesal.


Kini Angga menatap Damar dengan tatapan serius, "Dam,"


"Hmm?" gumam Damar sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Gue jadian sama Susan," ucap Angga membuat Damar mengerjitkan keningnya.


"Serius lo?" Angga mengangguk membenarkan, "Kok dia mau ya sama lo?"


"Ah lo mah emang rese," ucap Angga membuat Damar terkekeh.


“Yaudah mana PJ-nya?” pinta Damar.


"Daripada PJ PJ, mending gini aja,"


"Apa?" tanya Damar.


Angga tersenyum penuh arti lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Damar dan membisikinya. Dan terciptalah senyum di sudut bibir Damar.