
Putri bernapas lega karena tak ada yang memarahinya ataupun menyuruhnya pergi dari barisan ini. Sampai—
"Hey kamu!" teriak seorang ketua OSIS yang tengah berdiri di tengah barisan seraya menunjuk ke arah Putri.
Seluruh mata pun menatap Putri bagaikan pemenang Miss Indonesia. Ralat! yang benar seluruh mata menatapnya bagaikan maling yang baru saja tertangkap oleh warga.
Putri menarik napas panjang untuk menghilangkan rasa gugubnya, "A-aku Kak?" tanya Putri sembari menunjuk dirinya sendiri.
Ia sangat takut ketika melihat tatapan mematikan yang ketua OSIS tersebut berikan.
"Iya! Kamu pikir siapa? Kenapa kamu bisa telat? Di rumah kamu nggak ada jam? Dan kenapa kamu masuk barisan OSIS? Mau jadi senior? " cerocos ketua OSIS tersebut membuat Putri pusing sebelum menjawabnya.
Putri bukannya menjawab pertanyaan ketua OSIS tersebut, malah menatap ketua OSIS tersebut. Ya, Putri memang sedang menatap ketua OSIS tersebut. Sepertinya ia tak asing dengan ketua OSIS tersebut.
Tapi siapa?
Hampir saja ia lupa. Ia memang mengenali ketua OSIS itu, ketua OSIS itu adalah cowok yang tak sengaja ia tabrak semalam di Mall. Putri tidak menyangka kalau cowok itu ternyata ketua OSIS.
“kenapa diam?!” teriak ketua OSIS tersebut membuat Putri gugub.
"A-anu, anu Kak," jawab Putri dengan terbata-bata.
“Anu apa?” tanya ketua OSIS tersebut dengan tegas.
Putri tampak berpikir untuk mencari alasan. Namun sayangnya otaknya kali ini tidak mau berjalan.
“Karena kamu telat dan sudah melanggar peraturan sekolah ini, kamu saya hukum, ayo ikut saya!" perintah ketua OSIS tersebut yang Putri yakini bernama Damar, karena nama yang tertera di name tag-nya.
"Baik Kak," ucap Putri tertunduk sambil mengikuti langkah Damar.
Putri sangat kesal, kegiatan MOS yang ia fikir akan mengasyikkan ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Karena hari pertamanya MOS harus di hiasi dengan sebuah hukuman. Namun nasi sudah menjadi bubur, mau tak mau ia harus menjalani hukuman tersebut akibat ulahnya sendiri.
Yang membuat Putri lebih kesal adalah cowok yang semalam ia pikir sebagai cowok idaman, ternyata salah besar. Dia bukan tipikal Putri, Putri tidak suka dengan cowok yang terlalu kasar. Apalagi ini, ia akan mendapatkan hukuman dari seorang cowok yang sama sekali tidak ia kenal. Dan ini sangat menyebalkan!
Sebenarnya bisa saja Putri menggunakan jabatan Papa-nya sebagai pemilik sekolah tersebut untuk menghindari hukuman. Namun ia tidak ingin seperti itu. Ia ingin di kenal sebagai siswi biasa lainnya. Tanpa embel-embel anak pemilik sekolah.
"Kak kita mau ngapain di sini? Kakak nggak ada niatan mau ngapa-ngapin aku kan?" tanya Putri dengan wajah memelasnya.
Damar yang melihat wajah memelas Putri, berniat untuk mengerjainya. Ia mendekat ke telinga Putri lebih dekat membuat Putri merasa takut, "Kamu pikir saya mau ngapain kamu? Dasar mesum!" pekik Damar di telinga Putri yang membuat Putri kesal dan dengan refleks memukulnya.
"Aww! kamu jadi cewek bisa lembut dikit nggak?" tanya Damar sarkatis.
"Ya lagian Kakak duluan yang cari gara-gara pakai bawa aku ke sini segala. Kan aku jadi mikir yang enggak-enggak."
"Makanya jadi orang jangan mesum. Saya bawa kamu kesini untuk nyuruh kamu bersihin gudang ini!" ucap Damar menjelaskan maksud dan tujuannya membawa Putri kesini.
Mata Putri melebar, "Bersihin gudang segede ini? Yang bener aja? Kalau aku pingsan gimana?” tanya Putri mendramatisir.
"Gak usah lebay! sekarang kamu bersihin gudang ini.”
Mau tak mau Putri akhirnya menuruti perintah Damar. Ia berjalam masuk ke dalam gudang tersebut untuk membersihkannya.
Damar yang kini tengah berdiri di ambang pintu sembari melipat tangannya di depan dada, dengan almameter yang melekat pada tubuhnya membuat ia terlihat tampan dan berwibawa. Meskipun begitu, Putri begitu kesal dengan perlakuan ketua OSIS tersebut.
"Belagu banget sih lo jadi orang, Gue sumpahin jatoh ke lantai baru tau rasa lo!" gerutu Putri dalam hati.
Tanpa menunggu waktu lama, Putri mulai membersihkan isi gudang tersebut. Mulai dari mengangkat kardus-kardus yang berserakan di lantai, manyapu lantai yang kotor, hingga mengepelnya sampai bersih.
Setelah semuanya di rasa selesai, Putri segera menghampiri Damar yang sudah menunggunya sedari tadi.
Namun saat Putri berjalan menuju Damar, ia tidak sengaja menginjak lantai yang masih basah dan seketika ia pun terpeleset.
"Aaaaaa," teriak Putri.