Need You

Need You
Dua Puluh Sembilan




Sepulangnya dari sekolah, Putri harus di buat panik karena sebentar lagi Putra akan kembali ke Jerman. Karena itu Putri dan kedua orang tuanya harus mengantarkan Putra sampai Bandara.


Belum sempat Putri mengganti seragamnya, Putra sudah berteriak memanggilnya.


“Buruan, Put!” teriak Putra yang sudah siap dan menunggunya di bawah.


“Sabar, gue ganti baju dulu.” jawab Putri tak kalah kuatnya lalu mengganti pakaiannya.


Setelah mengganti pakaiannya, Putri pun menuruni anak tangga dan melihat Putra tengah menatapnya tajam. “Kelamaan lo. Ayo buruan, Mama sama Papa udah nungguin di mobil.” ucap Putra dengan kedua tangan di lipat di depan dada.


Putri berjalan mengekori Putra menuju mobil dimana Laras dan Wijaya sudah menunggu.


“Put,” panggil Putra lirih saat mobil yang Wijaya kendarai mulai melaju.


“Paan?” tanya Putri yang masih sibuk dengan ponselnya.


Putra berdecak kesal, “Liat muka gue dulu.” ucapnya yang kesal karena Putri lebih asik dengan ponselnya.


Putri pun menoleh dan menatap Putra seakan bertanya.


Putra menghela napas, “Salamin ya buat Susan—“


“Kak,” potong Putri.


Putra tersenyum miris, “Iya gue tau Susan pacarnya Angga. Tapi apa salah kalau gue titip salam sama Susan. Lagipula gue bukan minta salamin ke Susan aja kok. Tapi ke Angga, terus ke.. siapa itu cowok yang sering maen PS ma gue?” tanya Putra lupa. Entah benar lupa, atau hanya pura-pura.


“Damar!”


“Nah, iya Damar. Salamin ya buat mereka. Bilang, dapet salam dari cowok ganteng.” ucap Putra membuat Putri memutar bola matanya malas.


“Kumat, pede-nya.” ucap Putri malas.


Putra terkekeh, “Kapan sih Put lo sekali aja bangga punya kakak seganteng gue?”


“Besok kalau Pak Tarno jadi bokap lo.” ucap Putri asal. Namun sepertinya ia sudah salah bicara.


“Wah, jadi maksud lo, lo mau nukerin Papa sama Pak Tarno? Jahat lo Put. Gue bilangin Papa ah.” ucap Putra membuat Putri merutuki kebodohannya.


Putra menarik napas dan ingin bicara pada Wijaya, “Pa, kata Putri Papa— Aw!” teriak Putra saat cubitan Putri mendarat di pinggangnya.


“Ampun, Put! Ampunn!” Putri pun akhirnya melepas cubitannya.


“Kenapa, sayang?” tanya Laras pada Putra dan Putri.


Putra pun menjawab, “Itu Ma, kata Putri Papa itu—“


“Papa itu ganteng, Ma. Mama emang gak salah pilih. He,, he,,” potong Putri membuat Wijaya yang mendengarpun tertawa.


“Bisa aja kamu Put.” ucap Wijaya terkekeh.


Wijaya tersenyum dan mencium sekilas puncak kepala Laras.


“Plis deh Ma, Pa, jangan pamer kemesraan di depan kita-kita yang jomblo.” ucap Putra seraya melipat kedua tangannya di depan dada membuat Putri tertawa renyah.


“Kita? Lo aja kali, gue mah enggak.” Putri melipat kedua tangannya di depan dada.


“JADI LO UDAH JADIAN SAMA DAMAR?!” teriak Putra membuat Wijaya yang sedang fokus mengemudi pun tersentak kaget dan mengerem mobilnya secara mendadak.


“Putra, cara kamu tadi bisa bahayain keselamatan kita!” ucap Wijaya tegas membuat Putra menggarukan kepalanya yang tidak terasa gatal.


“Mampus,” ucap Putri lirik membuat Putra menatapnya tajam.


“Lagipula ini salah Putri Pa.”


Putri mengernyit, “Kok gue?” tanya Putri tak terima.


“Iya ini salah lo. Lo duluan yang buat gue teriak kaya tadi.” ucap Putra.


“Gue kan diem aja dari tadi. Lo-nya aja yang gak bisa biasa.” Putri tak mau di salahkan.


“Kalian ini, gak di rumah, gak di luar, beranteemm aja. Gak capek apa?” ucap Laras yang mulai kesal melihat kedua anaknya selalu berdebat. Sebenarnya ia senang melihat keakraban mereka sebagai kakak dan adik. Namun Laras juga kesal jika setiap hari, jam, detik, mereka selalu saja bertengkar. Meskipun hanya masalah sepele.


“Kalau kita sehari aja gak berantem, gak seru Ma. Ya 'kan Put?” ucap Putra.


Putri mengangguk mantap, “Iya kak, bener. Karena itu kita selalu mengisi waktu kosong kita dengan berdebat. Ya kan kak?”


“Yak, betul! Ya anggep ajalah debat kita ini kaya debatnya Capres Cawapres. Ya kan Put?”


“Iya dong,” ucap Putri.


Putra merangkul pundak Putri membuat keakraban di antara mereka terlihat jelas.


“Lah, ngapain lo nempel-nempel gue?” ucap Putra yang sepertinya akan memulai kembali perdebatannya.


“Dih, orang lo yang nempel-nempel gue.” ucap Putri tak mau di salahkan.


“Elo!”


“Elo!”


“Eloooo!”


“E-L-O!”


“PUTRA! PUTRI!” teriak Laras membuat mereka berdua diam seketika.