Need You

Need You
Sembilan




Putri tampak sibuk mencari buku fisika-nya yang hilang, ia sudah mencoba mencarinya mulai dari lemari belajar sampai lemari pakaian. Namun tetap saja belum ia temukan.


"Woy, Put! Lama amat sih, Buruan ngapa!" teriak Putra dari luar kamar Putri. Putra sengaja mengantarkan Putri agar bisa bertemu dengan Susan. Putra dari dulu memang suka menggoda teman-teman Putri, terutama Susan.


"Sabar dikit ngapa! Gue lagi nyariin buku gue yang ilang nih." balas Putri tak kalah kuat.


Saat Putri membalikkan badannya, ia melihat buku fisika-nya tergeletak di atas kasur, ia hanya menepukkan jidatnya dan meraih buku tersebut untuk di masukkan ke dalam tasnya.


"Lupa kalau semalem buat belajar, hehe."


Putri keluar dari kamarnya dengan senyum yang terpancar di sudut bibirnya, namun senyum itu hilang saat ia melihat Putra berdiri di hadapannya dengan bau parfume yang begitu menyengat.


Putri menutup hidungnya rapat-rapat, "Lo pake parfume berapa botol sih? Kok nyengat banget bau nya?"


Putra mendengus, "Nyengat-nyengat, lo pikir lebah! Udah buruan jalan, kelamaan sih lo." ucap Putra sambil menarik tangan Putri agar segera jalan.


"Sarapan dulu, sayang!" teriak Laras pada kedua anaknya tersebut.


Putri berjalan menghampiri meja makan dan meraih dua lapis roti tawar, "Putri sarapan ini aja, Ma."


"Yakin?" Putra menatapnya dengan tatapan tak percaya.


Laras mengangguki ucapan Putra, "Iya, Put. Yakin makan roti doang?"


Putri menaikkan kedua alisnya, "Lagi diet, Ma," ucapnya lalu mencium tangan Laras dan beralih pada Wijaya lalu berjalan pergi di ikuti oleh Putra di belakangnya.


"Gue nggak mau tau ya kak. Pokoknya lo harus turunin gue di seberang jalan sebelum gerbang sekolah. Gue nggak mau lo tebar pesona sama temen-temen gue," ucap Putri begitu mereka berada di perjalanan menuju sekolah.


"Iya iya bawel banget sih. Seharusnya lo itu bangga punya kakak kaya gue yang gantengnya nggak ketulungan." puji Putra pada dirinya sendiri.


Putra menaikkan sebelah alisnya, "Apa lo bilang? Oh yaudah kalau gitu gue turunin lo di depan gerbang aja. Kalau perlu di depan semua temen-temen lo," ancam Putra.


"Iya iya gue minta maaf, turunin gue sekarang." ucap Putri saat mereka sudah sampai di seberang jalan dekat sekolah Putri.


"Gak mau!"


Putri menarik napas panjang dan menatap Putra kesal, "Kak, berhenti."


Putri menghentikan lajunya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Putri.


Putri tersenyum dan meraih knop pintu mobil untuk membukanya. Namun sayang, pintu masih sengaja di kunci oleh Putra.


"Gue nggak akan bukain pintu buat lo, sebelum lo bilang kalo gue makhluk paling ganteng!" ancam Putra yang mau tak mau harus Putri turuti.


"Oke, tapi bukain pintu dulu buat gue."


Putra pun mulai membukakan pintu untuk Putri. Kemudian Putri turun dari mobil Putra.


Putri menarik nafas dengan perlahan, "Makasih ya kakak gue yang paling gue sayang. Gue akui lo itu makhluk paling ganteng—“ Putra pun mulai merasa bangga.


"Tapi di hutan." lanjut Putri sambil berlari menuju sekolahnya.


"Anjirr, Adek durhaka lo Put!" teriak Putra ketika Putri sudah berlari cukup jauh.