
Pagi ini Putri sengaja bangun lebih awal dari biasanya. Ia ingin membuatkan nasi goreng spesial dan khusus untuk Damar.
“Tumben Put jam segini udah bangun?” terdengar suara dari belakang mengagetkan Putri.
Putri menoleh ke sumber suara, “Ah iya Ma, aku sengaja bangun pagi mau buatin nasi goreng buat Kak Damar.” jawab Putri.
Laras mengangguk mengerti, “Maaf ya Put Mama gak bisa bantu, Mama mau mandi karena sebentar lagi Mama mau berangkat ke kantor.”
Putri hanya mengangguk. “Iya Ma,”
Kini Putri tak heran lagi dengan kesibukan Laras. Ya, semenjak Wijaya sering ke luar Negeri untuk keperluan bisnis, kini Laras menjadi lebih sibuk. Ia harus menggantikan pekerjaan Wijaya di Indonesia. Putri sebenarnya kasihan melihat orang tuanya banting tulang seperti ini. Namun ia juga sedih, karena kesibukan orang tuanya, ia harus di nomor duakan.
Selesai membuat nasi goreng, Putri segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Sebelumnya ia sudah memesan taksi online karena Damar tidak bisa menjemputnya.
Sesampainya di sekolah, Putri menyusuri koridor dengan tergesa-gesa. Kotak nasi yang berisikan nasi goreng masih setia di genggamannya. Niatnya saat jam istirahat nanti ia akan memberikan nasi goreng tersebut kepada Damar.
“Susan!” teriaknya begitu melihat Susan berdiri di depan mading sekolah.
Susan menoleh begitu mendengar teriakan Putri, “Hey Put, bawa apa lo?” Putri hanya tersenyum melihat kotak nasi yang ia bawa.
“Coba sini gue mau liat!” Susan mencoba meraihnya.
“Et, jangan! Ini nasi goreng sengaja gue buatin khusus buat Kak Damar.” Susan hanya ber-oh ria mendengar jawaban Putri.
“Mau ngasih sekarang?” tanya Susan.
Putri tampak berfikir, “Nanti siang aja deh, pas istirahat. Lagipula bentar lagi bel masuk bunyi.”
“Yaudah yuk langsung ke kelas aja. Nanti gue temenin deh kalau mau nganterin nasi gorengnya.” ucap Susan.
Putri memutar bola matanya, “Modus lo, ngomong aja sekalian mau ketemu sama Kak Angga.”
“Hehe salah satunya itu.”
Bel berbunyi!
“Put jadi nggak?” tanya Susan. Putri hanya mengangguk, mereka pun mulai melangkahkan kakinya menuju kelas 12 IPA 2, dimana kelas tersebut adalah kelas Damar dan Angga.
Sesampainya di sana Putri melihat Angga sedang duduk bersama teman-teman lainnya, namun ia tidak melihat Damar. Kemana Damar?
Putri bersama Susan memberanikan diri menghampiri Angga guna menanyakan keberadaan Damar.
“Kak?” panggil Putri yang kini sudah ada di belakang Angga.
Angga menoleh, “Eh Put, ada apa?” tanyanya.
“Kak Damar kemana?”
Angga tampak berfikir, “Ke ruang OSIS kayanya. Coba lo cek aja kesana.” Putri mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya.
“Put!” teriak Susan membuat Putri menoleh.
“Gue nggak ikut ya. Gue mau disini aja sama Kak Angga.” lagi-lagi Putri hanya mengangguk.
Jarak antara kelas Damar dengan ruang OSIS lumayan jauh. Putri harus melewati kelas 12 IPS 5 yang terkenal gudangnya anak-anak rusuh. Mau tak mau ia harus menahan rasa sabarnya saat melewati kelas tersebut.
“Cantik, mau kemana sih? kok sendiri aja.”
Baru saja ia menginjakan satu kakinya di depan kelas tersebut, ia harus menerima gombalan receh yang tak bermutu.
“Mau Kakak temenin nggak Dek? Kakak jomblo lho.”
“Jangan mau Neng, mending sama Babang Ical aja.” sahut temannya yang Putri yakini bernama Ical.
“Neng kok putih banget sih, pakai racikan apa? Abang mau dong rahasianya.” rayu pria bertubuh pendek dan berkulit hitam.
Putri yang mendapat gombalan tersebut bukannya marah, malah ingin tertawa. Sepertinya mereka semua tipikal yang humoris. Putri senang dengan pria yang humoris, tapi sayang Damar bukan tipikal yang humoris. Namun meskipun begitu, Putri tetap sayang dengan Damar.
Baginya Damar adalah satu-satunya semangat hidupnya. Ia tak tahu jika tak ada Damar hidupnya akan seperti apa. Yang jelas Damar sangat berharga untuknya.