Need You

Need You
Lima




“Daripada lo, lo beraninya nyakitin cewek. Seharusnya lo hati-hati Put sama buaya macem Darel!” ucap Damar yang mulai kesal dengan Darel.


Plakk!


Putri menatap nanar orang yang kini berada di hadapannya. Ia tak sengaja menampar Damar. Tak tahu mengapa ia begitu emosi saat Damar menjelekkan Darel.


Damar menatap Putri dengan tatapan dalam. Rasa panas pada pipinya seakan tak terasa lagi, karena terkalahkan oleh rasa kesal akibat senyuman licik milik Darel.


Setelah mendapat tamparan dari Putri, Damar berjalan pergi menuju kelasnya. Sedangkan Putri, Putri merasa bersalah karena sudah menamparnya. Sungguh, ini di luar kendali Putri. Dan jujur, Putri bukanlah tipikal orang yang kasar.



Baru saja Damar tiba di kelasnya, Angga menghampiri sambil memberikan pertanyaaan sarkatisnya. "Dari mana lo?!”


Damar menoleh ke arah Angga, "Lo tau nggak?"


"Enggak." potong Angga.


"Gue belum selesai ngomong, bego!" ucap Damar sambil menoyor kepala Angga.


Angga yang kepalanya terkena toyoran Damar pun meringis kesakitan, "Yaudah emang apa yang mau lo omongin?"


Damar menarik napas dan menatap Angga dengan serius, "Gue barusan ketemu sama cewek yang kemaren gue hukum."


Angga menaikkan sebelah alisnya, "Maksud lo Putri?" Damar mengangguk, "Terus kenapa sama dia?" lanjut Angga.


"Dia nampar gue." jawab Damar sekenanya.


"Apa?!" teriak Angga membuat seisi kelas melihat ke arahnya.


"Bisa nggak sih, lo nggak usah teriak-teriak. Lo kaya tante rempong yang kurang di belai tau nggak!" ucap Damar dengan penuh penekanan.


"Iye iye sorry. Terus kenapa dia bisa nampar lo? Lo macem-macem dia?"


Setelah mendengar penjelasan dari Damar, Angga terlihat tampak berpikir.


"Kenapa dia nggak terima ya waktu lo jelek-jelekin Darel depannya? Emang mereka ada hubungan apa?" tanya Angga sambil berfikir.


“Ya mana gue tau." ucap Damar enteng.


“Emang lo gak pengen cari tau?” Angga merasa jika sebenarnya ada ketertarikan antara Damar kepada Putri.


“Ngapain? Gak penting,” ucap Damar masa bodoh dan berjalan menuju bangkunya.


Damar yang sudah sampai bangkunya segera mengerjakan tugas yang di berikan Bu Mira. Karena Bu Mira hari ini tidak hadir, jadi mereka mendapat tugas yang di titipkan kepada guru piket.


Saat Damar sedang fokus mengerjakan tugas, Bella mengganggunya dengan melepar kertas yang mengenai kepala Damar. Damar yang sadar akan hal itu hanya mengabaikannya.


"Damar!" teriak Bella sambil menusuk-nusukan pena-nya ke punggung Damar.


"Apaan sih Bell?" tanya Damar kesal.


"Emm, Nanti ke kantin yuk." ajak Bella dengan senyum sok manisnya.


"Enggak. Gue gak laper!" tegas Damar membuat Bella kecewa.


"Yahhh, ayo dong Damar. Please temenin gue, Kali ini aja. Gue janji setelah ini gue nggak bakal gangguin lo lagi deh." mohon Bella walau sebenarnya ia berbohong.


Bella sengaja berbohong agar Damar mau menemaninya makan di kantin. Bella sangat mencintai Damar, namun Damar tidak pernah membalas cinta Bella. Damar selalu bersikap acuh kepada Bella. Meskipun begitu, Bella tidak pernah menyerah untuk mendapatkan Damar bagaimanapun caranya.


"Oke! Kali ini gue temenin lo makan di kantin, tapi lo harus janji setelah ini lo nggak akan gangguin gue lagi."


"Oke gue janji!" ucap Bella dengan senyum manis sebelum akhirnya senyum miring tercipta di wajahnya.