
Putri berjalan menuju parkiran dengan perasaan bahagia, ia kembali memasang headset di telinganya. Bibirnya bersenandung kecil sambil memperhatikan sekelilingnya yang mulai sepi, ia segera mempercepat langkahnya untuk menemui seseorang yang menunggunya di parkiran.
Namun Putri menghentikan langkahnya begitu melihat Damar yang tengah berjalan mendahuluinya. Rupanya sejak tadi Damar ada di belakangnya.
Putri terus melanjutkan langkahnya hingga dari kejauhan Putri melihat Darel yang sedang menunggunya sambil memainkan ponselnya.
Tanpa tunggu lama, Putri segera berlari menghampiri Darel.
Darel menoleh ketika melihat Putri sudah ada di sampingnya, "Eh Put, yaudah yuk langsung jalan aja keburu sore." ajak Darel yang di balas anggukan oleh Putri.
Darel pun langsung membukakan pintu mobil untuk Putri.
Damar yang masih berada di parkiran pun menatap kepergian Putri bersama Darel. Ia menatap mobil Darel yang mulai keluar dari gerbang.
“Oy!” pekik Angga mengagetkan Damar.
“Ngagetin aja lo,” ucap Damar kesal.
“Lagian suruh sapa jadi cowok gak gentle!” ucap Angga membuat Damar mengerutkan keningnya.
“Maksud lo?”
Angga memutar bola matanya malas, “Udahlah Dam, gue tau lo suka kan sama Putri?”
Damar menggeleng membuat Angga tersenyum kecut.
“Yakin lo, beneran gak suka?” tanya Angga yang sepertinya begitu yakin jika Damar memiliki perasaan pada Putri.
“Emang apa yang buat lo mikir kalo gue suka sama tuh cewek?” tanya Damar mambuat Angga tertawa.
“Tatapan lo ke dia tu beda Dam. Apalagi kalo lo liat dia sama Darel, lo tu kaya gak rela.”
Damar mengedikkan bahu tanpa menghiraukan Angga. Lalu mengenakan helm-nya dan menaiki motornya untuk segera pulang ke rumah.
Selama perjalanan Putri hanya diam membisu menutupi rasa bahagianya depan Darel. Ia terlalu senang bisa jalan dengan Darel.
"Put," panggil Darel.
"Iya kak?" Putri menoleh.
"Gue sayang sama lo." ucap Darel membuat jantung Putri berdetak kencang. "Lo percaya kan sama gue kalo gue sayang sama lo?” Putri mengangguk.
“Gue minta lo jangan dengerin mereka yang nggak suka sama gue, gue cuma sayang sama lo Put. Gue nggak mau kehilangan lo." lanjut Darel mencoba meyakinkan hati Putri.
Mendengar ucapan Darel membuat senyum tipis terukir di sudut bibir Putri, "Iya kak gue percaya sama lo, gue juga sayang sama lo. Gue nggak mungkin ninggalin lo cuma karena orang-orang yang nggak suka sama lo." jawab Putri yang membuat Darel tersenyum puas.
"Makasih Put, makasih." ucap Darel dan di balas anggukan oleh Putri.
Sebenarnya Putri sangat berharap jika Darel akan memintanya untuk menjadi pacarnya. Namun sepertinya Darel memang belum siap untuk menjalani hubungan. Biarlah, Putri akan selalu sabar menunggu sampai akhirnya Darel memintanya.
Darel mendongkak ke arah langit yang tertutup kaca mobil. Ia melihat langit terlihat kelabu menandakan akan turun hujan. Tanpa menunggu waktu lama, akhirnya Darel melanjutkan perjalanannya menuju kafe.
Tak terasa mereka telah sampai di kafe yang mereka tuju. Darel segera membukakan pintu untuk Putri dan mengajaknya masuk ke dalam kafe. Karena cuaca sedang hujan, Darel memilih meja yang berada di dekat jendela agar Putri dapat menikmati setiap rintik-rintik hujan yang mengguyur penjuru Jakarta.
Karena Darel tahu, Putri dari dulu sangat suka hujan.
Darel menatap Putri dengan lekat membuat jantung Putri bereaksi lebih cepat. Ia tak mampu mengendalikan detak jantungnya.
“Put,” panggil Darel membuat Putri menoleh. “Kita deket udah lama, dan kita sadar kalo kita emang saling cinta.” ucap Darel membuat Putri tak mampu menelan salivanya.
“Lo mau jadi pacar gue?” lanjut Darel membuat Putri begitu bahagia. Ia tak mampu menutupi rasa bahagianya ini.
Putri menggigit bibir bawahnya dan menunduk. Hingga tangan Darel mengangkat dagu Putri supaya menatapnya.
“Lo mau 'kan jadi pacar gue?” tanya Darel sekali lagi. Dan di pertanyaan yang ini, akhirnya Putri pun mengangguk.
Senyum bahagia tercipta di antara mereka berdua. Yang jelas, Putri tak mampu mengambarkan rasa bahagianya ini. Ia begitu bahagia karena yang selama ini ia inginkan telah tersampaikan.