Need You

Need You
Empat Belas




“Kok lo kepo banget sih!” ucap Putri yang mulai kesal.


“Karena gue peduli sama lo," ucap Damar membuat Putri terdiam.


“Apa?”


“Ha?” tanya Damar.


“Lo tadi ngomong apa?” tanya Putri meminta Damar mengulangi ucapannya.


“Enggak, gue gak ngomong apa-apa.” jawab Damar yang terlihat salah tingkah. Damar mencoba menghela napasnya, “Lo mau makan dulu gak?” tanya Damar mencoba mengalihkan pembicaraan.


Putri tampak berpikir, namun ajakan Damar sepertinya tidak perlu di tolak. Karena kebetulan perutnya juga sudah terasa lapar.


“Oke deh.” jawab Putri mantap membuat Damar tersenyum.


Damar menghentikan laju mobilnya, ia melihat penjual bakso keliling yang ada di pinggir jalan, ia berencana ingin mengajak Putri makan bakso. Namun ia takut Putri tak mau di ajak makan bakso di pinggir jalan.


“Put,” panggil Damar membuat Putri menoleh. “Lo gak papa kan kalau kita makan bakso di pinggir jalan?” tanya Damar memastikan.


Putri terkekeh, “Ya gak papa lah. Emangnya kenapa?”


“Ya gue takut aja lo alergi makan di pinggir jalan.” ucap Damar membuat Putri tertawa. Namun Damar senang bisa melihat Putri tertawa seperti ini.


“Yaudah yuk turun,” ajak Putri yang sudah lebih dulu turun dari mobil Damar.


Damar turun dari mobilnya dan mengikuti langkah Putri yang kini tengah berjalan menuju tukang bakso yang berada di pinggir jalan.


“Pak, baksonya dua mangkuk ya.” ucap Putri lalu menjatuhkan pantatnya di sebuah kursi yang telah di sediakan.


Damar mendudukkan dirinya di samping Putri. Ia menatap Putri, ia melihat raut kesedihan di sana. Sepertinya Putri sedang ada masalah.


“Lo lagi ada masalah ya Put?” tanya Damar membuat Putri menoleh.


“Hmm? Enggak.” jawab Putri menggeleng.


Damar tersenyum sinis, “Cerita aja, sapa tau gue bisa bantu.”


Putri menghela napas dan terkekeh, “Lo gak mungkin bisa bantu gue.”


“Kenapa? Ada hubungannya sama Darel?”


Putri mengernyit, “Kok lo bisa mikir gitu?”


“Gak tau juga sih.” jawab Damar membuat Putri terkekeh. “Jadi beneran nih soal Darel?”


Putri mengangguk membenarkan. "Gue boleh cerita ke elo 'kan Kak?” tanya Putri yang sepertinya butuh teman curhat.


Mendengar pertanyaan Putri, Damar begitu antusias untuk mendengarkannya.


“Jadi, gue udah lama deket sama Kak Darel. Kira-kira hampir 1 tahun lebih. Sikap dia ke gue pun gak biasa, seakan-akan dia ngasih harapan besar ke gue. Ya sampe akhirnya gue jatuh cinta sama dia.” ucap Putri menjelaskan.


“Selama ini dia cuma ngungkapin perasaanya ke gue tanpa sekalipun minta gue buat jadi pacarnya. Ya bisa di bilang, gue terlalu berharap besar ke dia.”


Damar mengangguk mengerti.


“Dan kemaren akhirnya dia minta gue buat jadi pacarnya. Gue terima dia dengan senang hati. Tadi gue berniat buat bikinin cheese cake buat dia. Ya karena gue tau kalo dia suka banget sama cheese cake. Selama di perjalanan, gue terlalu seneng bayangin gimana reaksi Darel waktu tau kalo gue bikinin itu buat dia. Tapi,” Putri menghela napas, “Tapi waktu gue sampe di sana, gue harus terima kenyataan kalo dia punya pacar dan selama ini dia cuma maini perasaan gue.” lanjut Putri.


Damar menatap Putri dengan rasa iba. Ia turut sedih mendengarnya. Sebenarnya Damar sudah tidak heran lagi mendengar kelakuan Darel yang seperti itu. Karena ia sudah tahu seperti apa watak Darel.


“Lo—“


“Ini Mas, Mbak, baksonya.” ucap penjual bakso yang seraya menyerahkan dua mangkuk bakso kepada Damar dan Putri.


Damar dan Putri pun segera meraih bakso tersebut dan menyantapnya.


Selesai makan bakso Damar pun menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. Dan mereka pun kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanannya mengantarkan Putri pulang.


“Kak,” panggil Putri.


Damar menoleh, “Iya Put?”


“Sorry ya kalau sebelumnya gue udah gak sopan dan lancang ke elo.”


Damar tertawa, “Gak papa kali Put. Seharusnya gue yang minta maaf karena udah hukum lo waktu itu. Gue beneran gak tau kalo ternyata lo anaknya Pak Wijaya.”


“Gak papa kok Kak, gue emang seharusnya dapet hukuman itu. Lagian gue juga gak mau kok di beda-bedain cuma karena gue ini anak dari pemilik sekolah. Gue mau kaya yang lainnya. Ngejalanin hukuman atau apapun.” jelas Putri.


Damar tertegun mendengar ucapan Putri. Sungguh, ia memang lain dari yang lain.


Tak terasa mereka pun sampai di rumah Putri.


“Mau mampir dulu gak Kak?” tawar Putri seraya turun dari mobil Damar.


Damar menatap jam tangannya sebentar dan kembali menatap Putri, “Gak usah Put, gue buru-buru soalnya.” ucap Damar dan di balas anggukan oleh Putri.


Damar pun mulai menstater mobilnya dan akan melanjukannya.


“kak?!” teriak Putri.


Damar membuka kaca mobilnya dan menatap Putri dengan tatapan bertanya.


“Makasih ya,”


Dan untuk pertama kalinya Putri mengucapkan terima kasih kepada Damar.