Need You

Need You
Tujuh Belas




Sepulang dari sekolah, Putri segera menemui Putra untuk memastikkan ia di izinkan atau tidak untuk makan malam di luar bersama Susan dan Angga. Tadi Susan sudah meminta izin kepada Putra, namun Putra belum memberikan jawabannya. Karena itu Putri akan memastikkan jawabannya.


“Kak,” panggil Putri pada Putra yang sedang duduk di dekat kolam seraya memainkkan gitarnya.


“Kak!” panggil Putri sekali lagi karena Putra belum juga menoleh. “Kakak!” teriak Putri akhirnya Putra pun menoleh.


“Apa?” tanya Putra dengan raut wajah malas.


Putri mengheala napas, “Gue boleh gak—“


“Boleh,” jawab Putra padahal Putri belum selesai bicara.


“Serius?” tanya Putri memastikan.


“Iya,”


Mendengar jawaban Putra, Senyum pun tercipta di wajah Putri. Ia akan menuju kamarnya untuk memilih pakaian apa yang akan ia pakai nanti malam.


“Eh, Put.” panggil Putra membuat Putri menghentikan langkahnya dan menatap Putra dengan tatapan bertanya.


“Susan baru jadian ya?” tanya Putra pelan.


Putri menghela napas dan mengangguk pelan. Ia sebenarnya tak tega dengan Putra karena ia baru tahu kalau selama ini Putra memang benar-benar suka dengan Susan. Namun mau bagaimana lagi, sekarang Susan sudah menjadi milik Angga.



Sudah hampir lima belas menit Putri memilih baju, namun sampai sekarang belum ada yang cocok untuknya. Padahal sebentar lagi Susan akan datang menjemputnya.


"Putri, itu di depan ada temen-temen kamu nungguin!" teriak Laras dari luar kamarnya membuat Putri gugup karena belum melilih pakaian yang cocok untuk ia pakai.


"Iya ma. Mereka suruh masuk aja, aku mau ganti baju dulu." balas Putri sambil memilih pakaiannya.


Akhirnya Putri memilih dress merah yang tingginya selutut dan memakai flat shoes berwarna hitam yang cocok dengan dress-nya.


Setelah lima menit, akhirnya Putri keluar untuk menemui Susan di bawah.


“Kelamaan ya?” tanya Putri begitu tiba di hadapan Susan.


“Banget!” ucap Susan kesal membuat Laras yang ada di sana terkekeh.


Putri menoleh ke arah Laras, “Kak Putra mana Ma?” tanya Putri yang tidak melihat Putra.


Susan yang mendengar Putri menyebut nama Putra pun menoleh.


“Di kamar kayanya.” jawab Laras membuat Putri mengangguk mengerti.


“Yaudah Ma, Putri jalan dulu ya.” pamit Putri dan segera mengajak Susan berangkat sekarang.


Susan dan Putri berjalan menuju mobil Angga yang ada di depan. Tadi Angga memang sengaja tidak ikut masuk ke rumah Putri.


Susan pun membuka pintu mobil depan, "Put lo di belakang sama temennya kak Angga gak papa kan? Gue di depan sama kak Angga." Putri mengangguk setuju.


Saat Putri membuka pintu belakang mobil Angga, ia sedikit terkejut ketika melihat Damar sudah duduk manis di dalam.


"Hai Put," sapa Damar dan di balas senyuman oleh Putri.


"Sorry Put gue lupa bilang sama lo kalau temennya kak Angga yang ikut dinner ya kak Damar."


Putri mengangguk tanda mengerti. Kemudian Angga pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Akhirnya setelah lima belas menit perjalanan, mereka sampai di kafe yang di tuju. Putri sedikit lega karena dia bisa terbebas dari suasana yang awkward seperti tadi. Karena jujur, setelah ia baikan dengan Damar, Putri menjadi sedikit canggung dengan Damar.


"Putri sama kak Damar mau makan apa?" tanya Susan saat bangkit dari duduknya untuk memesan makanan.


"Samain aja." jawab Putri dan Damar kompak.


Susan menaikkan sebelah alisnya, "Kok bisa samaan gini ya jawabnya?"


"Jodoh kali yang." jawab Angga membuat Susan tersenyum jail ke arah Damar dan Putri. Namun mereka tidak menghiraukan ucapan Angga dan Susan.


"Yaudah kalau gitu gue pesen makanannya dulu ya. Lo mau ikut nggak kak?" tanya Susan pada Angga.


Angga bangkit dari duduknya, "Ya ikutlah. Entar kalo lo di culik om-om genit, gue sama siapa? Ya kali gue sama tante-tante yang doyan brondong." ucap Angga membuat yang lain tertawa.


Kini tinggal Putri dan Damar. Tidak ada satu pun obrolan di antara mereka. Hingga akhirnya Damar lah yang mencoba membuka bicara.


"Put," panggil Damar.


"Iya kak?"


Damar menarik nafas untuk menghilangkan rasa gugub, "Gimana masalah lo sama Darel?" tanya Damar lembut karena takut menyakiti hati Putri. Apalagi ini berhubungan dengan Darel.


"Nggak gimana gimana kak."


"Lo masih mikirin dia?"


Putri menggeleng, "Entahlah kak, gue bingung." Putri bingung dengan perasaannya.


Karena memang rasa sayang Putri terhadap Darel masih ada. Namun rasa sakit yang Darel berikan perlahan menghapus rasa sayang yang ada. Meskipun belum seutuhnya. Putri pun sadar sulit baginya melupakan orang yang di cintai.


“Oh ya gue baru tau lho Kak kalo lo temennya Kak Angga.” ucap Putri mengalihkan pembicaraan yang lain.


Damar terkekeh, “Gue juga sih gak nyangka bisa temenan sama makhluk astral kaya Angga.” ucap Damar membuat Putri tertawa.


“Ya meskipun tiap hari dia selalu cari gara-gara sama gue, tapi dia termasuk temen yang baik.” ucap Damar membuat Putri mengangguk mengerti.


Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka berdua dan menarik tangan Putri untuk keluar dari kafe tersebut.


“Put, lo ngapain di sini sama dia? Ayo kita pulang.” ucap Darel yang terus menarik tangan Putri.


"Kak lepasin gue. Gue gak mau pulang sama lo!” ucap Putri yang berusaha melepas tangan Darel dari tangannya.


“Lo itu pacar gue. Lo harus nurut sama gue!”


"Lepasin Putri!?" bentak Damar yang tidak terima dengan apa yang Darel lakukan pada Putri.


Darel memutar bola matanya, "Lo lagi lo lagi. Lo nggak capek apa ganggu hidup gue? Dulu lo ambil Bella dari gue, sekarang lo mau ambil Putri juga. Lo suka sama Putri?" tanya Darel dengan nada menantang.


Bugh!


Damar menonjok pipi Darel. "Kalo gue suka sama Putri kenapa?! Itu hak gue. Dan asal lo tahu, gue nggak pernah ngerebut Bella dari lo!" tegas Damar sambil menarik tangan Putri untuk menjauh dari Darel.


Darel tersenyum sinis saat Putri dan Damar hilang dari pandangannya, "Liat aja, gue bakal bikin kalian menderita." umpat Darel dalam hati lalu meninggalkan kafe tersebut.