Need You

Need You
Tiga



Setelah semuanya di rasa selesai, Putri segera menghampiri Damar yang sudah menunggunya sedari tadi.


Namun saat Putri berjalan menuju Damar, ia tidak sengaja menginjak lantai yang masih basah dan seketika ia pun terpeleset.


"Aaaaaa," teriak Putri.


Happ!


Damar berhasil menangkap Putri yang akan jatuh ke lantai. Hingga mereka saling tatap menatap beberapa detik dengan jarak yang cukup dekat.


'Cantik!'


Itulah kata yang keluar dari mulut Damar saat ia menatap wajah Putri lebih dekat. Ia merasa ada sesuatu yang aneh saat ia menatap Putri. Apakah itu cinta pandangan pertama?


Entahlah! Damar tak mengerti masalah cinta, yang ia tahu hanya membuat Mamanya bangga dengannya.


"Kak!" panggil Putri.


Namun Damar tidak mendengarnya, ia masih menatap Putri bahkan lebih dekat lagi hingga hampir tidak menyisahkan jarak di antara mereka.


“Kak ketua OSIS!" pekik Putri sembari menginjak kaki Damar yang membuat Damar sadar dari lamunannya dan menjatuhkan Putri ke lantai begitu saja.


Brughhh!!


"Aww," rintih Putri.


Damar yang melihat kejadian tersebut berusaha menahan tawa akibat ulahnya sendiri. Ia pun mencoba membantu Putri bangun.


"Kakak ini gimana sih, kok akunya malah di jatuhin ke lantai?" Putri terlihat mengelus bokongnya yang terasa sakit.


"Iya kakak tuli. Aku dari tadi udah manggilin kakak. Tapi kakak malah melamun nggak jelas. Kenapa? Terpesona?”


Damar memalingkan wajahnya dan tersenyum kecut, "Kamu bisa nggak lebih sopan sama senior kamu? Saya disini senior kamu. Jadi tolong hargai saya!" ucap Damar menegaskan kepada Putri.


Putri menarik nafas dengan kasar, "Kakak ketua OSIS yang terhormat. Maaf kalau saya sudah tidak sopan dengan anda. Terima kasih atas hukuman yang telah anda berikan! Permisi," ucap Putri dan meninggalkan Damar begitu saja.


Damar hanya bisa tersenyum miris saat punggung Putri menghilang dari pandangannya.


Tanpa ia sadari, Angga telah berada di belakangnya. Angga adalah satu-satunya sahabat Damar, mereka sudah bersahabat sejak kecil.


"Ngapain lo bengong liatin cewek tadi? Naksir?" tanya Angga membuat Damar grogi.


"Ya, ya nggak mungkinlah. Gue aja baru dua kali ketemu dia, namanya aja gue nggak tau siapa. Ya kali gue naksir sama dia," ucap Damar membela diri.


"Namanya Putri, lengkapnya Putri Alia Wijaya. Dia putri bungsu Pak wijaya. Lo tau kan keluarga Wijaya adalah pemilik sekolah ini dan dia satu-satunya orang yang memegang alih sekolah ini. Kok lo berani-beraninya sih ngehukum dia?” tanya Angga dengan sarkatis.


"Emangnya kenapa kalo dia anak pemilik sekolah ini? Emang ada ya larangan buat ngehukum anak pemilik sekolah? Nggak ada kan, terus apa masalahnya? Gue ngehukum dia, biar dia tau salahnya dimana dan nggak akan ngulangin kesalahan yang sama. Gue yakin kalau Pak Wijaya ada disini dan liat semuanya, dia juga bakal setuju sama gue. Jadi kenapa gue harus takut? Gue kan di sini ngejalanin yang bener." ucap Damar dengan enteng.


"Terserah apa kata lo, gue capek ngomong sama lo." Angga pergi meninggalkan Damar sendiri.


Damar akhirnya meninggalkan gudang tersebut, ia terlalu lelah menghadapi sikap teman dan juniornya tadi. Sebenarnya ia juga merasa tak enak sudah menghukum Putri setelah tahu kalau Putri adalah anak dari pemilik sekolah ini. Namun, menurutnya tak ada salahnya jika menghukum orang yang telah melanggar peraturan. Meskipun anak sekolah itu sendiri. Orang salah tetap saja salah. Itulah prinsip Damar!