Need You

Need You
Dua Puluh




Sekarang Putri dan Damar semakin hari semakin dekat. Setiap hari sebelum Damar berangkat ke sekolah, Damar selalu menyempatkan waktu untuk menjemput Putri. Begitu pun saat pulang sekolah, Damar selalu mengantarkan Putri sampai di rumah dengan selamat.


Putri berjalan menghampiri Damar yang tengah menunggunya di luar untuk berangkat ke sekolah.


“Pagi Put,” sapa Damar begitu Putri tiba di hadapannya.


“Pagi kembali Kak,” balas Putri.


Damar menyerahkan helm-nya kepada Putri dan dengan segera Putri mengenakannya. Setelah mengenakan helm, Putri pun naik ke motor Damar dan Damar mulai melajukkannya dengan kecepatan sedang.


Sesekali Damar menatap wajah Putri dari kaca spion.


Sesampainya di sekolah, Damar memarkirkan motornya dan Putri pun segera turun dari motor Damar. Putri melangkah menyusuri koridor di ikuti oleh Damar di belakangnya.


Damar mencoba mengimbangi langkah Putri, “Mau gue anterin sampe kelas lo gak?” tawar Damar dan balas anggukan oleh Putri.


Damar dan Putri menyusuri kelas demi kelas dengan beriringan membuat seluruh mata menatap mereka dengan tatapan bingung. Mereka semua mengira jika Damar dan Putri telah jadian.


“Mereka ngeliatinnya kok gitu banget sih Kak?” bisik Putri yang terlihat risih di tatap seperti itu.


“Udah biarin aja,” jawab Damar yang terlihat tidak peduli akan hal tersebut.


“Lo gak punya pacar 'kan?” tanya Putri dengan nada takut. Ia takut pacar Damar marah dengannya.


Damar menatap Putri dan terkekeh, “Tenang aja, gue gak punya pacar kok.” jawab Damar membuat Putri mengangguk mengerti. “Kalo lo?”


Putri menoleh dan menggeleng pelan membuat senyum tercipta di wajah Damar.


“Kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Putri.


“Gak papa, seneng aja.”


Mendengar jawaban Damar, pipi Putri pun memanas.


"Em, Put,"


Tiba-tiba suasana di antara keduanya pun menjadi canggung.


"Sampai sini aja, gue langsung ke kelas sendiei aja ya?" ujar Putri lalu berlari meninggalkan Damar yang tengah menatap punggungnya dengan senyum di wajah.



"Jadi Putri pacaran sama Damar?" tanya Darel sedikit membentak.


"Kalau soal itu gue kurang tau. Tapi setiap gue ngajak Damar pulang bareng, dia selalu nolak. Alasannya karena udah ada janji sama Putri," ucap Bella.


Bella sengaja mendekati Darel dengan maksud agar Darel bisa segera menjauhkan Putri dari Damar.


Mendengar ucapan Bella, Darel tampak mengepalkan tangannya, "Kurang aja Damar, gue bakal kasih perhitungan sama dia karena udah berani ngambil Putri dari gue." ucap Darel dengan emosi yang meluap.


Bella mengerutkan keningnya, "Tunggu, bukannya lo nggak beneran suka sama Putri. Kenapa lo sampai segitunya mau jauhin dia dari Damar?" Darel yang mendengar pertanyaan Bella hanya tersenyum sinis.


"Gue emang nggak suka sama Putri. Tapi gue juga gak suka kalo dia deket-deket sama Damar, lo tau lah sebenci apa gue sama Damar. Dan itu semua karena lo,” ucap Darel seraya menunjukkan jarinya ke wajah Bella.


“Bisa gak, gak usah bahas-bahas yang dulu!” ucap Bella dengan penuh penekanan.


Darel tertawa sinis, “Terus mau lo apa?”


“Gue mau lo bantu gue buat jauhin mereka berdua.”


“Tanpa lo minta, gue juga bakal jauhin mereka.” ucap Darel membuat Bella tersenyum puas.


“Terus apa rencana lo?” tanya Bella yang terlihat penasaran dengan apa yang Darel lakukan untuk menjauhi Putri dengan Damar.


“Liat aja nanti,” ucap Darel lalu berjalan pergi meninggalkan Bella sendiri.