
Bel berbunyi. Tanda kegiatan belajar mengajar hari ini telah selesai. Damar segera memasukan bukunya ke dalam tas dan berlenggang pergi meninggalkan kelasnya. Tujuannya saat ini adalah menghampiri kelas Putri dan menyelesaikan semuanya. Ia tak ingin ada kesalahpahaman di antara ia dan Putri.
Tiba-tiba ada seseorang yang menahan tangannya. Damar menoleh dan mendapati Bella tengah menatapnya.
“Apa lagi? Lo itu udah bikin hubungan gue sama Putri berantakan tau gak!” ucap Damar tegas.
“Gue minta maaf Dam. Gue gak bermaksud bikin hubungan kalian berantakan.” ucap Bella yang terlihat menyesal.
“Omong kosong!” Damar memutar bola matanya malas lalu berjalan pergi meninggalkan Bella.
“Damar, tunggu!” ucap Bella menahan Damar.
Damar menoleh dan menatapnya tajam, “Apa lagi?!”
“Lo mau ke kelas Putri 'kan?” tanyanya dan di balas anggukan oleh Damar. “Kalau gitu, gue yang akan jelasin ke Putri kalau yang dia liat tadi gak bener. Gue janji, gue bakal ngomong yang sebenarnya supaya Putri percaya dan mau maafin lo.”
Damar tampak berfikir dan akhirnya mengangguk.
Sesampainya di kelas Putri, Damar tidak melihat Putri di sana. Namun ia melihat Susan. Akhirnya ia pun menghampiri Susan.
“San, liat Putri?” tanyanya pada Susan.
“Udah pulang, kak.” ucap Susan lalu matanya beralih ke Bella. Ia heran, mengapa Damar bisa bersama Bella. Apa jadinya jika Putri melihat ini.
“Oh yaudah San, gue duluan ya.” ucapnya lalu berjalan pergi.
Melihat kepergian Damar, Bella pun berlari mengejarnya.
Kini Putri tengah berdiri di dekat motor Damar. Tak tahu mengapa ia merasa jika Damar pasti mencarinya dan akan menjelaskan semuanya. Karena itu ia akan menunggu di sini.
1 menit
2 menit
5 menit, Damar belum juga sampai di parkiran. Padahal saat ini sekolah sudah sepi karena sudah banyak siswa yang pulang ke rumah masing-masing.
Putri menghela nafasnya malas. Ia menoleh, di lihatnya Damar berjalan menuju parkiran membuat senyumnya mengembang. Ralat, itu bukan senyum. Melainkan tatapan terluka. Ia lagi-lagi terluka saat melihat Damar berjalan beriringan dengan Bella. Padahal luka yang tadi belum juga sembuh, dan kini Damar harus menambah luka itu.
Putri segera berlari untuk bersembunyi sebelum Damar melihatnya. Ia menatap Damar dari kejauhan saat Damar mulai menaiki motornya. Hatinya terasa sakit saat ia lihat Bella mengenakan helm yang biasa ia pakai dan menaiki motor Damar. Ia menggelengkan kepala tak percaya atas apa yang baru saja ia lihat.
Setelah motor Damar pergi dan tak terlihat lagi, Putri keluar dari persembunyiannya dan berjalan meninggalkan sekolah.
Kakinya terus melangkah tanpa ia sadari cuaca semakin gelap menandakan sebentar lagi hujan akan turun. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Perlahan namun pasti, tetesan air hujan mulai jatuh ke bumi dan membasahi tubuhnya. Ia terjebak di tempat ini sendirian. Ia arahkan pandangannya megelilingi jalanan yang sepi ini. Namun tak ada satupun taksi atau angkutan umum lainnya yang lewat.
Ia terus melangkahkan kakinya, tak peduli begitu derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya. Beberapa saat kemudian ada sebuah mobil yang berhenti di sampingnya. Ia menoleh sebentar ke mobil tersebut, berharap itu adalah Damar. Karena ia ingat pertama kalinya Damar menolongnya saat ia menangis di bawah derasnya hujan. Namun sepertinya itu tak mungkin untuk saat ini. Karena mungkin saja Damar sedang asik berduaan dengan Bella.
“Putri.” panggil orang tersebut saat keluar dari mobilnya.