
“Siang Ma,” ucap Putri begitu sampai di rumah dan melihat Laras tengah duduk di sofa dengan sebuah laptop di hadapannya.
Laras mengecup puncak kepala Putri setelah Putri mencium punggung tangannya.
“Mama lagi sibuk, ya?” Tanpa Putri bertanya pun sepertinya ia sudah tahu jawabannya. Laras memang selalu sibuk.
Laras hanya tersenyum memjawab pertanyaan Putri.
“Ma,” panggil Putri dengan nada lirih membuat Laras menoleh. “Kapan Papa pulang?”
Laras tersenyum, “Tumben kamu nanyain Papa,”
“Gak papa, kangen aja. Kapan ya kita bisa kumpul kaya dulu lagi. Main ke dufan bareng-bareng. Sama Papa, Mama, sama Kak Putra juga. Tapi sayang, sekarang udah beda. Papa sibuk ngurusin kerjaan di luar negeri, Mama sibuk sama kerjaan Papa di sini, dan Kak Putra, Kak Putri sibuk sama kuliahnya. Putri kangen Ma, Putri kangen sama keluarga kita yang dulu.”
Mendengar ucapan Putri, Laras pun menghentikan aktivitasnya dan menatap Putri bingung, “Kenapa kamu jadi mellow gini sih?” tanya Laras dengan nada bercanda.
Putri menghela napas, “Putri serius Ma,”
Laras terkekeh, “Iya, sayang. Mam ngerti, tapi kamu harus ngerti juga, Mama sama Papa sibuk demi masa depan kamu dan Kak Putra.” ucap Laras.
Putri menghela napas kasar dan bangkit dari duduknya. Ia sudah malas bicara dengan Laras. Selalu saja ia yang harus mengerti, kalau seperti ini kapan ia di mengerti?
Andainya saja Mama dn Papanya tahu dengan penyakitnya, mungkin sekarang ia sedang mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya.
Tiba-tiba ia teringat dengan masa kecilnya. Saat itu Putri tengah berusia Enam Tahun. Ia sempat mengalami deman tinggi. Kedua orang tuanya pun begitu panik dan siaga di samping Putri. Hal seperti itulah yang selalu Putri rindukan. Andai waktu dapat di putar. Mungkin Putri akan mengembalikan waktu seperti saat ia kecil dulu.
Karena terlarut dengan lamunannya, tanpa Putri sadari ponselnya sedari tadi bergetar lama. Rupanya ada seseorang yang menelponnya. Di lihatlah oleh Putri, rupanya itu adalah Damar. Putri senang Damar ada untuknya saat ia butuh.
“Halo, dengan Putri Tidur di sini. Ada yang bisa di bantu?” Putri mendengar kekehan kecil dari seberang sana.
“Hai Putri tidur, pangeran ada di sini. Apa kau butuh kecupan dariku agar kau bangun?—Namun sepertinya kau tak butuh itu. Karena kini kau sudah bangun. Sepertinya kau bangun karena kekuatan cinta kita.”
Putri tersenyum mendengar ucapan Damar. “Terima kasih pangeran.”
“Sama-sama, sayang.” Itulah pertama kalinya Damar mengucapkan kata sayang setelah ia sadar dari koma.
Putri senang mendengar Damar menyebutnya sayang. Setidaknya ia sudah merasa di perhatikan. Damar memang tahu apa yang Putri butuhkan. Bahkan saat Damar lupa ingatan pun Damar selalu bisa membuat Putri tersenyum.
“Kak,”
“Aku kangen—“ tiba-tiba dada Putri terasa sesak. Dan ini sangat sesak dari sebelum-sebelumnya. Putri tak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya, pandangannya menjadi gelap—
“Putri, bangun! Ayo bangun!” teriak seseorang membuat Putri terbangun dan membuka matanya dengan perlahan.
Putri bangun dan berjalan tak tentu arah. Kini ia tengah berdiri dan menatap Dua orang yang tengah bicara. Ralat, mereka bukan bicara. Namun salah satu dari mereka ada yang berbuat salah.
Hey kamu!" teriak seorang ketua OSIS pada seorang gadis yang sepertinya baru saja terlambat.
Gadis itu terlihat takut, "Aku Kak?"
"Iya! Kamu pikir siapa? Kenapa kamu bisa telat? Di rumah kamu nggak ada jam? Dan kenapa kamu masuk barisan OSIS? Mau jadi senior? " cerocos ketua OSIS tersebut. "kenapa diam?!” teriak ketua OSIS tersebut membuat gadis gugub.
"A-anu, Anu Kak," jawabnya dengan terbata-bata.
“Anu apa? Karena kamu telat dan sudah melanggar peraturan sekolah ini, kamu saya hukum, ayo ikut saya!"
"Baik Kak," ucap gadis itu tertunduk sambil mengikuti langkah ketua OSIS tadi.
Putri terus mengikuti langkah kedua orang itu sampai di sebuah gudang. Putri sepertinya kenal dengan Dua orang itu. Iya, dia adalah Damar dan dirinya.
Namun— mengapa kini Dua orang itu tengah tersenyum ke arahnya? Yang membuat Putri bingung, ketua OSIS tadi yang wajahnya mirip sekali dengan Damar tengah tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Seakan-akan ia memberi ucapan selamat tinggal.
Karena bingung, Putri pun mendekat ke arah Damar. Saat Putri terus melangkah mendekat, Damar semakin menjauh darinya. Namun Putri tak gencar, ia terus mengejarnya sampai ia berhenti di sebuah danau. Putri bingung, mengapa tiba-tiba ia sudah sampai di danau. Bukankah tadi ia berada di sekolah?
Putri pun menghilangkan pikiran itu dan mencari keberadaan Damar. Di lihatnya Damar yang tengah tersenyum dan duduk di bangku dekat tepi danau.
Damar menghela nafas dan menatap Putri, "Malam ini dan detik ini, gue namain dua bintang itu dengan nama Damar dan Putri. Suatu saat kalau lo kangen sama gue dan nggak bisa ketemu gue, lo liatin bintang itu aja ya Put. Terus lo anggep kalau gue ada di samping lo."
Putri menggeleng tak mengerti dengan ucapan Damar. Ia mendekat ke bangku itu namun Damar berjalan pergi.
Saat Putri ingin mengejar Damar, tangannya di tahan oleh gadis kecil. Ya, gadis kecil itu adalah anak kecil yang pernah ia temui saat ia pergi ke taman bersama Damar.
Gadis kecil itu tersenyum ke arahnya, “Kakak cantik, Kakak cantik di sini aja. Biarin Kakak ganteng tadi pergi. Dia gak kemana-mana kok. Dia akan selalu ada di sini.” ucap gadis itu searaya menunjuk hati Putri. “Kakak harus percaya, cinta sejati akan selalu menetap di sini dan tak akan pergi,” lanjut gadis itu dan tersenyum.