
Setelah satu bulan menjalani pemulihan di Rumah Sakit, Putri sudah di bolehkan untuk pulang ke Rumah. Meskipun kondisinya masih sangat lemah.
Kini Putri meminta Putra agar di antarkan ke makam Damar. Karena tak ingin melukai hati Putri, akhirnya Putra pun mengantarkannya.
“Selamat siang, Kak.” sapa Putri pada makam di hadapannya. Putri menyeka air matanya yang mulai jatuh. “Gimana keadaan Kak Damar di atas sana? Pasti Kakak sekarang bahagia ya? Jangan lupain Putri ya Kak. Putri sayang sama Kakak, Putri cinta sama Kakak, sampai kapanpun Kak Damar akan selalu berharga di hati Putri.” Putri menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
“Putri kesepian Kak gak ada Kak Damar di samping Putri. Putri sedih kalau liat foto-foto kenangan kita. Rasanya Putri pengen banget kembali ke waktu itu. Waktu Kak Damar ngajakin Putri ke danau, waktu Kak Damar ngajakin Putri naik perahu, waktu Kak Damar ngajakin Putri ke taman buat beli es krim, Putri kangen semuanya Kak.” ucapnya dengan mata yang memanas.
Putra yang berdiri tak jauh dari makam Damar pun hanya bisa menatap adiknya dengan tatapan sedih. Ia sedih melihat adik yang ia sayangi terpukul seperti ini. Walaupun Putri selalu menunjukkan jika ia baik-baik saja, Putra tahu kalau sebenarnya ia rapuh. Ia tak mungkin baik-baik saja saat orang yang ia cinta telah pergi selama-lamanya.
Putra pun berjalan mendekat ke arah Putri dan memberikan sebuah kotak kepada Putri.
Putri meraihnya dan membukanya. Setelah kotak itu terbuka, terlihat sebuah surat dan gelang. Gelang itu ada dua, satu bernama ‘Damar’ dan yang satunya bernama ‘Putri’.
Putri ingat gelang itu. Gelang itu adalah gelang yang pernah ia minta pada Damar saat mereka melewati toko aksesoris. Namun saat itu Damar tak membelikannya, alasannya karena gelang itu seperti anak kecil. Akhirnya Putri pun pulang dengan waut wajah cemberut.
Putri kembali menatap gelang itu dengan tatapan kosong. Lalu ia kenangan gelang yang bertuliskan nama ‘Damar’ ke tangannya. Sedangkan yang bertuliskan nama ‘Putri’, ia taruh di depan makam Damar. Setelah menaruh gelang itu. Putri beralih ke surat yang sudah di tuliskan oleh Damar sebelum ia mendonorkan jantungnya.
Putri membuka surat itu dengan tangan bergetar dan tangis yang terus mengalir.
Dear Putri.
*Hai Put, apa kabar?Gimana keadaan kamu sekarang? Aku harap setelah ini, kamu gak akan ngerasain sakit\-sakit lagi ya. Jangan cengeng ya waktu tau kalau aku udah gak ada di samping kamu lagi. Tapi satu pesan aku, jangan pernah merasa kesepian. Karena kamu harus tau sampai kapanpun aku akan selalu ada di sini. Di hati kamu.
Aku jahat ya Put? Aku jahat karena udah ninggalin kamu. Tapi kamu gak boleh sedih Put. Hidup kamu gak semuanya tentang aku. Masa depan kamu masih panjang. Kamu harus belajar ikhlas atas kepergian aku.
Aku sekali lagi mau minta maaf Put, karena aku gak bisa nepatin janji buat selalu ada di samping kamu dan buat kamu tersenyum. Tapi kamu harus inget pesan aku tadi ya Put, kalau aku gak kemana\-mana, aku akan selalu ada di hati kamu, di hati kamu yang paling dalam. Dan kamu harus percaya, di setiap detakan jantungmu, ada aku yang salalu menemanimu.
Aku kangen kamu, Putri. kangen senyum kamu, kangen cantik kamu, kangen kamu yang nyebelin, aku kangen semua tentang kamu . .
Jaga jantung aku baik\-baik ya Put, kaya kamu jaga cinta aku. I LOVE YOU*
-Damar
Setelah membaca surat itu, tangis Putri seakan pecah. Ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk makam Damar.
Putra yang melihat hal itu pun ikut sedih dan mencoba menenangkan Putri dengan memeluknya. Mau bagaimana pun Putra bisa merasakan apa yang Putri rasakan saat ini.
“Sabar Put, biarin Damar tenang di sana.” Putra mengusap punggung Putri membuat Putri merasa sedikit tenang.
“Gue sayang Kak Damar, Kak. Sampai kapanpun, gak ada yang bisa gantiin dia di hati gue.” ucap Putri dan di angguki oleh Putra.
Pada akhirnya, tak semua kisah selalu berakhir Happy Ending :) Kadang kita perlu merasakan pahit dari hidup ini. Dan kini Putri lah yang tengah merasakan sakitnya kehilangan orang yang ia cinta dan ia sayangi.
Tetaplah tersenyum dan ikhlas atas apa yang telah terjadi. Bisa saja ini adalah rencana Tuhan yang telah Tuhan persiapkan. Tetap bersyukur dalam menjadi hidup, karena semua akan indah pada waktunya.
THE END