Need You

Need You
Tujuh




Suasana kantin cukup ramai, karena waktu yang menunjukkan jam istirahat. Putri yang sedang berjalan untuk memesankan makanan untuknya dan Darel tak sengaja melihat Damar yang sedang asik makan di meja nomor 5. Namun Damar tidak sendiri, melainkan bersama perempuan yang tak asing baginya.


"Kayanya gue nggak asing lagi deh sama tuh cewe, tapi siapa ya?" umpat Putri dalam hati.


Tanpa pikir panjang, Putri kembali melanjutkan langkahnya untuk memesan makanan.


Setelah makanannya siap, ia kembali ke meja yang sudah Darel tempati.


"Kak," panggil Putri ketika tiba di hadapan Darel dengan membawa dua mangkuk siomay.


Darel yang sedang berkutik di depan ponselnya pun beralih menatap Putri, "Ini.” ucap Putri seraya memberikan semangkuk siomay kepada Darel.


“Makasih ya,” ucap Darel di angguki oleh Putri.


Putri mendudukkan dirinya tepat di hadapan Dareel dan menatap Darel, seperti ada sesuatu yang ingin ia tanyakan.


“Kak,” panggil Putri membuat Darel menatapnya bertanya. "Kok kayanya gue nggak asing lagi deh sama cewek itu. Tapi siapa ya?" ucap Putri sambil menujuk perempuan yang bersama Damar.


Darel yang melihat perempuan tersebut pun tertawa sinis, "Ya jelas lo nggak asing sama dia, Itu kan Bella, mantan gue.”


Putri menepuk jidatnya pelan, "Oh iya gue hampir aja lupa.”


“Kemana emangnya?”


“Gak papa kok. Emang mereka ada hubungan apa ya?” tanya Putri yang terlihat penasaran.


Darel menaruh ponselnya ke dalam saku dan menatap Putri lekat, “Lo kenapa sih pengen tau banget soal dia?” tanya Darel yang sepertinya tidak suka membahas Damar dan Bella.


Putri hanya diam. Ia tidak lagi bertanya pada Darel.


Darel pun menghela napas panjang dan kembali menatap Putri, "Sebenarnya waktu gue masih pacaran sama Bella, Bella selingkuh sama Damar. Gue gak tau apa kelebihan Damar sampai Bella tega ninggalin gue. Karena itu gue benci banget sama Damar Put. Gue juga gak suka kalau liat lo deket-deket sama Damar. Ya gue takut aja sewaktu-waktu lo ninggalin gue juga.”


Putri menggeleng dan tersenyum tulus, “Gue gak mungkin ninggalin lo Kak, gue sayang sama lo.”


Darel mengangguk, “Makasih ya Put lo selalu ada buat gue." Putri mengangguk pelan. Lalu Darel menarik tangan Putri dan mengecupnya. Sontak Putri pun blushing di buatnya.



Bel tanda pulang sekolah pun telah di bunyikan. Seluruh siswa-siswi SMA MERDEKA berbondong-bondong untuk pulang, tak terkecuali Putri. Putri melangkahkan kakinya menyusuri koridor yang sudah mulai sepi.


“Put,” panggil seseorang membuat Putri menoleh ke sumber suara.


Putri menatap cowok yang berdiri di hadapannya dengan tatapan bingung. Jujur, ia tak mengenalinya. Sepertinya ia Kakak kelas Putri.


“Kenalin, gue Angga.” ucap Angga memperkenalkan diri.


“Iya, kenapa ya Kak?”


“Temen lo mana?” tanya Angga membuat Putri mengerutkan dahinya bingung. “Susan maksud gue,” lanjut Angga.


“Oh, Susan. Udah pulang duluan Kak.” jawab Putri.


“Yahhh, padahal gue pengen ngajakin dia pulang bareng.” jelas Angga.


“Kakak suka sama Susan?” tanya Putri.


Angga terkekeh pelan, “Kenapa emangnya? Dia udah punya pacar ya?”


Mendengar ucapan Putri, Angga pun dapat bernapas lega. “Gue pikir dia udah punya pacar. Soalnya waktu gue mau ngajak dia kenalan, dia kaya acuh gitu.” ucap Angga.


Putri terkekeh, “Dia anaknya emang gitu kok Kak. Agak jutek-jutek gitu.”


Angga mengangguk mengerti, “Yaudah deh Put kalo gitu gue duluan ya.” Putri mengangguk, “Lo mau bareng gak?” tawarnya.


“Gak perlu kak, Mama aku jemput kok.” jawab Putri.


Angga mengangguk lalu berjalan lebih dulu.


Putri kembali melanjutkan langkahnya dan menunggu Mamanya di dekat gerbang sekolah.


Putri yang sedang menunggu Mamanya tampak risau, karena sudah lebih dari 20 menit, Mamanya belum juga menjemputnya.


Drrtt! Drrtt!


Terdengar getar notifikasi pada ponsel Putri. Dengan sigap Putri segera mengeceknya.


MAMA : Sayang, maaf banget ya. Mama gak bisa jemput kamu. Kamu pulang sendiri nggak papa 'kan?


Putri menghembuskan nafasnya gusar setelah membaca pesan dari Mamanya. Ia bingung harus pulang naik apa. Karena sedari tadi tidak ada taksi yang lewat.


Putri mengusap wajahnya gusar dan menunduk lesu.


"Kok lo masih disini?" tanya sebuah suara membuat Putri menoleh. Rupanya itu Damar. Damar baru saja keluar karena ada rapat OSIS.


“Kok lo belum pulang?” tanya Putri.


Damar memutar bola matanya malas, “Seharusnya gue yang nanya, kok lo masih di sini? Kan sekolah udah sepi. Mau jadi penjaga sekolah?”


Putri menatap Damar tajam, “Nyokap gue belum jemput!” ucap Putri ketus.


"Oh!" balas Damar tak kalah ketus.


Putri mengerutkan keningnya, "Apa? Oh doang? Dih kaku amat sih ni cowok, nggak ada basa basinya apa? Nawarin pulang bareng atau apa gitu.” gerutu Putri dalam hati.


Damar yang melihat raut wajah Putri pun tersenyum sinis, "Gue tau lo ngarep banget buat pulang bareng gue 'kan?”


"Apa lo bilang? Gue? Ngarep pulang bareng lo? Ge-er banget sih lo jadi cowok." ucap Putri ketus.


"Oh yaudah kalo gitu, gue mau pulang." ucap Damar lalu menstater motor ninjanya.


"Pulang aja sono. Ngapain pakai lapor ke gue segala, lo pikir gue pegawai sensus." ucap Putri sambil memalingkan wajahnya.


Saat Damar mulai melajukan motornya, Putri merasa merinding. Karena sekolah yang sudah mulai sepi dan tak ada satu orang pun di sana.


"Tunggu!" teriak Putri membuat Damar memberhentikan laju motornya.


"Ada apa lagi?" tanya Damar malas.


"Gue ikut." ucap Putri sambil menampilkan puppy eyes-nya membuat senyum kemenangan yang terpancar di sudut bibir Damar.