
Setelah kembalinya Putra ke Jerman, kini suasana rumah keluarga Wijaya menjadi sepi. Tak ada lagi debatan-debatan yang tercipta di sana. Semua kembali seperti sebelumnya. Mungkin dengan ini Putri akan kembali seperti awal, selalu di kamar dan menghabiskan waktu dengan membaca buku.
Kini mereka tengah duduk bersama di ruang keluarga. Namun mereka asik dengan kesibukan masing-masing. Laras yang sedang sibuk berkutik dengan laptop-nya, Wijaya yang sedang sibuk menandatangi berkas-berkas penting. Dan Putri, Putri memperhatikan kedua orang tuanya yang terlihat begitu sibuk.
“Ma,” panggil Putri pada Laras.
“Iya, Put. Kenapa?” tanya Laras tanpa menoleh ke arah Putri. Ia masih fokus dengan aktivitasnya.
Putri menarik napas panjang, awalnya ia ingin cerita kepada Laras jika ia sudah jadian dengan Damar, namun sepertinya Laras masih begitu sibuk. “Gak jadi Ma. Putri mau tidur aja.” ucap Putri lalu bangkit dari duduknya.
“Yaudah, tidur yang nyenyak ya.” ucap Laras dan di angguki oleh Putri meskipun Laras tak melihatnya.
Putri melangkah gontai menuju kamarnya. Ia sudah tak bersemangat lagi kali ini. Ia pun meraih novel dari dalam rak bukunya dan mulai melanjutkan bacaannya.
Aktivitasnya terhenti saat ponselnya berdering cukup lama. Putri meraih ponselnya dan menekan tombol hijau di sana.
“Halo,” ucap Putri pada seseorang di seberang sana.
“Halo, bisa bicara dengan pacarnya Damar?” ucap suara di seberang sana. Itu adalah suara Damar.
“Damar? Damar siapa ya?” tanya Putri **** senyumnya.
“Itu loh cowok ganteng yang berhasil naklukin hati Putri.” ucap Damar membuat Putri terkekeh. Seketika mood Putri yang tadinya buruk, sekarang membaik setelah mendengar suara Damar. Putri benar-benar sedang di mabuk asmara.
Sederhana bukan? Namun mampu membuat Putri mengembalikan senyumnya yang sempat sirna.
“Oh ya kak, lo dapet salam dari kak Putra, dia udah pulang ke Jerman siang tadi.” ucap Putri.
“Serius kak Putra udah balik ke Jerman?”
Putri mengangguk refleks, “Iya, mana pulangnya buru-buru banget. Bikin gugub aja.” ucap Putri dengan nada sebal.
Damar terkekeh mendengar nada bicara Putri. “Lo keliatannya bete banget. Mau gue nyanyiin gak?” tawar Damar.
Putri mengernyit, “Emang lo bisa nyanyi?” tanya Putri yang tampak meragukan.
“Bisa dong! Dengerin ya,” ucap Damar lalu mengambil gitar dan mulai menyanyikan sebuah lagu untuk Putri.
Putri menarik napas panjang dan ia hembuskan dengan perlahan. Ia tak sabar mendengar Damar bernyanyi. Ia pun meraba nakasnya dan meraih headset di sana lalu ia sambungkan dengan ponselnya.
“Weel you done done me and you bet ia felt it
I tried to be chill but you’re so hot that I melted
I felt right trough the cracks, now I’m trying to get back
Before the cool done run out I’ll be giving it my betsest
And nothing’s going to stop me but divine intervention
I reckon it’s again my turn to win some or learn some
But I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait, I’m yours”
Putri tersenyum mendengar Damar menyanyikan sebuah lagu milik Jason Mraz yang berjudul ‘I’m Yours’.
“Well up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love love love love
Listen to the music of the moment people, dance and sing
We’re just one big family
And it’s our God-forsaken right to be loved loved loved loved”
“So I won’t hesitate no more, no more It cannot wait, I’m sure
There’s no need to complicate, our time is short
This is our fate I’m Yours
D-d-do do you, but do you, d-d-do
But do you want to come on
Scooch on over closer dear
Putri merebahkan tubuhnya di atas kasur seraya mendengarkan suara Damar.
“I’ve been spending way too long checking my tongue in the mirror
And bending over backwards just to try to see it clearer
But my breath fogged up the glass
And so I drew a new face and laughed
I guess what I be saying is there ain’t no better reason
To rid yourself of vanaties and just go with the seasons
It’s what we aim to do, our name is our virtue
But I won’t hesitate no more, no mre it cannot wait,
I’m yours
Open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find that the sky is yours
So please don’t, please don’t, please don’t
There’s no need to complicate
Cause our time is short
This is, this is, this is our fate
I’m yours . . .”
“Yeee! bagus kak,” ucap Putri tersenyum senang begitu Damar selesai bernyanyi.
“Suaranya?” tanya Damar terkekeh.
“Lagunya.” ucap Putri membuat Damar berdecak kesal.
Putri pintar memuji, namun pintar juga menjatuhkan. Begitulah yang di rasakan Damar. Rasanya ingin sekali ia mencubit pipi Putri dengan gemas.
“Lo ini sebenarnya mau muji apa jatuhin orang lah?” tanya Damar membuat Putri tertawa.
“Dua-duanya. Abisnya lo duluan sih yang udah kepedean. Hehe,” ucap Putri membuat Damar semakin gemas.
“Coba aja kalau lo sekarang ada depan gue, gue cubit beneran pipi lo Put.” ucap Damar seperti sedang mengancam.
Bukannya takut, Putri malah tertawa semakin kencang. “Sini kalalu bisa. Whleek!” Putri menjulurkan lidahnya seakan-akan Damar ada di depannya.
“Ngece lo ya, awas lo Put!”
“Bodo, bodo, bodo.” ucap Putri seakan tak takut dengan ancaman Damar.
“Put, belum tidur apa?” terdengar suara Laras membuat Putri tersentak dan menjatuhkan ponselnya ke bawah.
“Udah Ma! Eh, belum maksudnya.” ucap Putri seraya menepuk jidatnya lalu meraih ponselnya yang tadi terjatuh.
Laras memutar knop pintu kamar Putri dan berjalan masuk. “Kenapa belum tidur? Kalau gak salah, Mama tadi denger kamu lagi ngobrol. Ngomong sama siapa?”
Putri menggigit bibir bawahnya karena malu, “Kak Damar, Ma.” ucapnya membuat Laras tersenyum penuh arti.
“Kamu udah jadian sama Damar?” tanyanya dan di angguki oleh Putri. “Kalau gitu, besok ajak Damar ke sini ya.”
“Buat apa Ma?” tanya Putri bingung.
“Mama mau ngomong sama Damar.”
“Emang ngomong apa?”
“Kamu ini kepo banget. Udah sana tidur, besok sekolah.” ucap Laras membuat Putri berdecak kesal lalu menarik selimutnya.
Laras terkekeh lalu mencium dahi Putri dan berjalan keluar dari kamar Putri. Ia keluar dari kamar Putri dengan senyum bahagia. Ia bahagia melihat Puterinya sedang di mabuk cinta.