
Damar menghentikan motornya tepat di depan rumah Putri. Ia melihat rumah Putri sudah sepi. Apakah Putri sudah berangkat ke sekolah?
Karena penasaran, Damar pun melangkahkan kakinya dan memencet bel rumah Putri. Tanpa menunggu waktu lama, pintu rumah Putri pun terbuka.
Damar tersenyum, “Putrinya ada Mbak?” tanyanya pada Tuti.
“Wah, Non Putrinya udah berangkat dari tadi Mas.” jawab Tuti.
Damar mengangguk mengerti, “Berangkat sama Mama-nya ya Mbak?” tanya Damar menebak.
Tuti menggeleng, “Bukan Mas, tapi sama Mas Darel.”
“Darel?” tanya Damar tak percaya dan di angguki oleh Tuti.
Damar terlihat begitu kesal saat mendengar jika Putri sudah berangkat ke sekolah dengan Darel. Damar begitu emosi, tangannya terkepal dengan rahang mengeras. Ia segera menuju motornya. Ia melajukan motornya dengan kecepatan kencang. Ia tak mau tahu, intinya ia harus sampai di sekolah. Karena ia ingin memberi perhitungan kepada Darel.
Sesampainya di sekolah, Damar segera memarkirkan motornya di parkiran dan menyusuri koridor dengan tergesa-gesa. Yang ia mau sekarang adalah menemui Darel dan memberi perhitungan kepadanya.
Damar menyunggingkan senyumnya saat melihat Darel baru saja keluar dari kelas Putri.
‘Bugh!’
Darel sedikit terhuyung saat ia mendapat pukulan dari Damar. Damar meninju wajahnya membuat ia meringis kesakitan.
Bukannya takut, Darel malah tertawa mengejek membuat Damar naik pitam dan akan memukulnya kembali.
“Kak Damar, stop!” teriak Putri membuat Damar menghentikan perbuatan Damar. Bukannya berhenti, Damar semakin menjadi. Ia pun menarik kerah baju Darel dan meninju wajahnya kembali.
“BRENGSEK!” teriak Damar di telinga Darel seraya menarik kerah Darel.
Darel tertawa, “LO YANG BRENGSEK! SADAR GAK SIH LO ITU UDAH NYAKITIN PUTRI!” Darel membalas pukulan Damar membuat Damar tersungkur. Darel lagi-lagi tertawa, “LIAT! APA PUTRI PEDULI LAGI SAMA LO? ENGGAK!” ucap Darel saat melihat Putri diam saja saat Damar tersungkur.
Damar samakin emosi, ia pun bangkit dan memukul wajah Darel kembali membuat hidung Darel mengeluarkan darah.
Seluruh siswa maupun siswi pun sudah berkerumun menyaksikan kejadian langka ini. Bagaimana tidak, seorang Damar yang menyandang sebagai ketua OSIS dan terkenal sebagai pribadi yang tak pernah membuat masalah, kini telah membuat keonaran.
Darel tak tahan lagi, ia pun menendang tubuh Damar sampai Damar tersungkur lagi dan ini cukup jauh. “PUTRI ITU UDAH GAK TAHAN LAGI SAMA LO! JADI LEBIH BAIK LO PERGI JAUH-JAUH DARI SINI!”
Ucapan Darel cukup membuat Damar tertohok. Damar pun menatap Putri dengan tatapan yang sulit terbaca. Yang jelas ada rasa sakit dari tatapan Damar kepada Putri.
Damar hanya diam, ia tak tahu harus bicara apa lagi. Karena ia sadar, ini semua berawal darinya. Ia yang sudah membuat Putri salah paham dan kecewa. Ini semua salahnya. Ya, ini salahnya. Damar benci dirinya.
Damar melepas pelukan Putri, dan berjalan pergi meninggalkan Putri menangis.
Setelah kepergian Damar, Darel mencoba menenangkan Putri. Namun Putri menolak. Ia meminta agar Darel pergi dari sini. Karena tak ingin membuat Putri semakin sedih, akhirnya Darel menuruti kemauannya.
“Damar, lo mau kemana?” teriak Bella mengikuti langkah Damar.
“Bukan urusan lo,” ucap Damar dingin.
Bella terus mengikuti langkah Damar, “Enggak, ini urusan gue juga.” ucap Bella kekeh seraya menarik tangan Damar.
Damar risih melihat tangan Bella, “Lepasin, Bell!”
“Enggak,”
“Gue bilang lepasin,”
“Gue gak akan lepasin lo,”
“LEPASIN GUE!” tegas Damar membuat Bella diam.
Damar berjalan menuju motornya dan melajukannya dengan kecepatan kencang.
Damar butuh waktu sendiri. Damar tak ingin ada seorang pun yang mengganggunya. Ia tak butuh Bella, Angga, ataupun Putri. Yang ia butuhkan kini adalah sendiri.
Damar mempercepat kemudinya. Tak peduli dengan teriakan-teriakan orang. Pikirannya sekarang sedang kacau. Ia butuh sesuatu yang dapat menenangkannya.
Damar terus mempercepat kemudinya. Hingga tanpa ia sadari, ada sebuah truk dari arah yang berlawanan tengah melaju dengan kecepatan yang kencang juga.
Damar mencoba menghindar, namun kecepatan truk itu membuatnya tak dapat menghindar.
‘Chitt!’