
“Ting! Tong! Ting! Tong!”
Terdengar suara bel yang menandakan ada tamu di luar. Putri yang mendengar hal tersebut segera turun untuk membukakan pintu.
“Biar Putri aja Ma yang bukain,” ucap Putri saat Laras akan berjalan untuk membukakan pintu.
Laras mengangguk dan kembali ke kamarnya.
Putri membukakan pintu dan terlihat Damar, Susan dan Angga di sana.
“Gue pikir kalian gak jadi kesini.” Putri mempersilahkan mereka untuk masuk.
“Jadi dong,” jawab Susan yang sudah berjalan lebih dulu dan mendudukkan dirinya di atas sofa di ikuti oleh Angga. Sedangkan Damar masih berdiri di belakang Putri.
Damar berdiri di belakang Putri seraya memperhatikannya dengan senyuman. Sadar akan hal tersebut, Putri pun membalas senyuman Damar.
“Silahkan duduk Kak,” ucap Putri mempersilahkan Damar untuk duduk.
Damar mengangguk dan akan mendudukkan dirinya di sofa.
“Hey, bro!” teriak Putra yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Damar di sana.
Damar tersenyum pada Putra dan Putra pun berjalan menghampiri tanpa melihat Susan dan Angga di sana. Susan terlihat gugub, sedangkan Angga terlihat biasa saja karena ia tak tahu apa-apa. Bahkan Angga tidak memperhatikan Putra, ia sedang sibuk dengan ponselnya.
“Pasti ke sini mau ngelawan gue main PS lagi kan?” tanya Putra dengan percaya diri.
“Ge-er, Kak Damar tuh ke sini mau ngajarin gue belajar.” ucap Putri membuat Damar terkekeh.
Putra mengalihkan pandangan ke arah lain dan baru sadar jika ada Susan dan seorang cowok di sampingnya. Cowok itu memperhatikan Putra dengan tatapan tak terbaca.
“Angga?” ucap Putra terkejut saat melihat teman masa kecilnya dulu ada di sini.
“Ini beneran Putra kan?” ucap Angga yang tak menyangka jika di hadapannya benar-benar Putra.
“Ini Angga yang cengeng dulu kan?” ucap Putra lagi.
“Putra yang sering bawa kabur kelereng gue dulu 'kan?” ucap Angga dengan senyum di wajahnya.
Putra berjalan dan memeluk Angga erat. Ia memang merindukan sahabat masa kecilnya tersebut.
“Gue gak nyangka kalo lo ternyata anaknya Pak Wijaya dan Kakaknya Putri. Gila gue kangen banget sama lo Put.” ucap Angga.
Angga memang tak pernah tahu jika Putra adalah anak dari Wijaya. Karena waktu kecil dulu Angga memang tak pernah bertemu dengan Wijaya. Mungkin karena Wijaya terlalu sibuk dan jarang pulang ke rumah.
Sedangkan dengan Putri, ia memang tidak pernah bertemu Putri. Karena selama Putri kecil, Putri tinggal bersama Nenek dan Kakeknya. Di karenakan kedua orang tuanya yang terlalu sibuk kerja. Dan saat itu usia Putri kira-kira 3 tahun.
“Lo dari dulu gak pernah berubah ya. Kan gue selalu bilang, lo itu harus panggil gue Kak. Tapi yaudah lupain lah. Sekarang gue ajak lo main PS. Ayo buruan ke kamar gue. Gue mau liat, siapa sih yang hebat di antara kita.” ucap Putra.
“Ayo, siapa takut.” jawab Angga membuat Putra tersenyum puas. “Sayang, kamu tunggu sini dulu ya.” ucap Angga pada Susan dan di angguki oleh Susan.
Mendengar hal tersebut, Putra pun terdiam. Ia baru tahu ternyata pacar Susan saat ini adalah Angga, sahabat masa kecilnya dulu. Ia menatap Susan dengan tatapan yang sulit di artikan, sedangkan Susan hanya mampu menunduk dan sesekali mengarahkan pandangan ke arah lain.
“Ayo Put, katanya lo mau ngelawan gue.” ucap Angga, namun Putra tak mendengar ucapannya. Rupanya Putra sedang melamun.
“Put,” panggil Angga seraya menepuk pundak Putra membuat Putra tersadar dari lamunannya.
“Eh, apa?” tanya Putra.
“Wah, lo ngelamun ya? Mikirin apaan sih lo?” tanya Angga.
“Hah, enggak. Yaudah yuk ke kamar gue.” ajak Putra dan mereka pun berjalan menuju kamar Putra.
Susan menatap punggung Angga dan Putra dengan tatapan sendu. Ia benar-benar dilema saat ini. Ia menyesal karena sudah mengajak Angga kemari. Namun mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Tak ada yang bisa ia lakukan.
“San,” panggil Putri.
“Ha? Iya Put?” tanya Susan.
“Ayo belajar,” ajak Putri yang sudah siap dengan buku pelajaran di hadapannya dan Damar yang siap mengajarinya.
“Lo aja deh Put, gue gak nafsu mau belajar.” ucap Susan membuat Putri mengangguk mengerti. “Oh ya Put, gue pamit pulang aja ya. Gue kayanya gak enak badan.”
“Terus Kak Angga?” tanya Putri.
“Yaudah ntar lo aja apa Kak Damar yang nyampai-in ke Kak Angga. Gue duluan ya Put, Kak.” ucap Susan pada Damar dan Putri lalu berjalan pergi.
Setelah kepergian Susan, Damar menatap Putri bingung seakan bertanya. Namun Putri hanya mengedikkan bahunya dan mereka pun mulai melakukan kegiatan belajarnya.
Damar menjelaskan materi fisika mengenai Dinamika Partikel dan Hukum Newton yang menurut Putri susah untuk ia pelajari. Damar menjelaskan secara rinci berharap Putri mengerti dan dapat menaikkan nilainya yang sempat turun.
Bukannya memperhatikan penjelasan Damar, Putri malah menatap wajah Damar yang berjarak tak terlalu jauh darinya. Senyum Putri mengembang begitu Damar membalas tatapannya.
“Udah paham sama materinya?” tanya Damar.
Putri tersenyum dan mengangguk, “Udah kok.” jawab Putri tanpa beralih dari mata Damar.
“Coba lo jelasin kaya gue tadi.”
“Hah? Jelasin?” tanya Putri seraya mengarukan kepalanya yang tak terasa gatal.
Damar mengangguk, “Iya, jelasin.”
“Duh Kak, kok gue gerah ya di sini. Kita ke depan aja yuk. Besok lanjut lagi belajarnya.” ucap Putri beralasan.
Damar memutar bola matanya malas, “Ngomong aja lo gak memperhatiin apa yang gue jelasin tadi.” ucap Damar membuat Putri tersenyum malu. “Yaudah yuk depan, besok lanjut lagi. Tapi lo janji ya, nilai lo harus naik.”
“Oke, siap Bos!” ucap Putri antusias seraya menunjukkan ibu jarinya.
Damar terkekeh dan menarik hidung Putri, membuat rona merah di wajah Putri terlihat jelas. Putri membalikkan tubuhnya dan menahan senyumnya.