Need You

Need You
Empat Puluh Tujuh




Putri membuka matanya perlahan, ia melihat sudah banyak orang di sini. Dimana ia sekarang? Rumah Sakit? Iya, rupanya ia sedang berada di Rumah Sakit.


Putri melihat sekeliling. Di sini ada Wijaya, Laras, Anita, Surya, Bella, Cakra, Susan, Angga. Bahkan di sini juga ada Putra.


Namun— semuanya terlihat sembab, sepertinya mereka habis menangis. Mengapa mereka menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?


“Mama, Papa, Om, Tante, Bella, Cakra, Susan, Angga, Kak Putra, kenapa kalian menangis? Aku baik-baik aja kok,” ucap Putri.


Mereka semua tersenyum mendengar ucapan Putri. Namun senyum itu tak bertahan lama, hingga akhirnya berubah menjadi air mata.


Laras memeluk Putri dan menenangkannya. “Mama sayang sama Putri, kita semua sayang sama Putri. Putri jangan pernah merasa kesepian ya,”


Putri tak mengerti dengan arah pembicaraan Laras. Apa yang sebenarnya terjadi? Damar? Mengapa Damar tak ada di sini? Mengapa semua sedang berkumpul di sini, tapi Damar malah tidak ada?


“Kemana Kak Damar? Putri kangen sama dia, Putri pengen cerita sama Kak Damar kalau tadi Putri ketemu sama dia di mimpi.”


Mereka semua menangis mendengar cerita Putri.


“Kenapa kalian nangis? Ayo, jawab! Apa yang terjadi?”


Putri menoleh ke arah Anita yang tengah menangis di pelukan Surya. “Om, Tante, ini ada apa?”


Putri menoleh ke arah Cakra dan Bella, “Bell, Ka, ini kenapa sih?” tetap diam.


Putri menoleh ke arah Angga dan Susan, “Kak, San, kenapa?” tetap diam.


Dan kini Putri menoleh ke Putra, “Kak Putra, baru kali ini Putri liat Kak Putra nangis. Ternyata Kak Putra bisa cengeng juga ya? Inget gak dulu Kakak selalu bilang kalau Putri ini cengeng, tapi coba kakak liat, sekarang malah kakak yang jadi cengeng.” Putri sempat tertawa sebentar. “Ini sebenarnya kenapa sih? Kak Damar dimana? Aku mau ketemu sama dia!”


#FlashBackOn


“Kak,”


“Iya?”


“Aku kangen—“ tiba-tiba dada Putri terasa sesak. Dan ini sangat sesak dari sebelum-sebelumnya. Putri tak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya, pandangannya menjadi gelap dan ia pun terjatuh pingsan.


Laras yang tengah berkutat di laplopnya pun mendengar ada sesuatu yang terjatuh. Laras segera berlari ke kamar Putri, namun sial. Putri terjatuh pingsan di sana.


Melihat jika ponselnya sedang tersambung dengan Damar, Laras pun segera memberi tahu Damar agar datang kemari.


Damar yang di antar oleh Cakra pun memberitahu kepada Laras tentang penyakit Putri. Laras tak menyangka jika Putri mengidap penyakit itu. Dengan panik ia pun memberitahu Wijaya dan juga Putra agar cepat pulang ke Indonesia.


Setelah semuanya sudah berada di Rumah Sakit. Damar memberitahu semuanya jika ia ingin mendonorkan jantungnya untuk Putri. Awalnya semuanya melarang, namun karena permintaan Damar yang tak bisa di ganggu gugat, akhirnya dengan berat hati mereka pun menyutujuinya. Walaupun berkali-kali Anita jatuh pingsan, ia harus bisa menerima keputusan ini. Karena bagi Damar, ini adalah keputusan yang paling terbaik. Ia ingin melihat Putri sehat, meskipun ia tak bisa di samping Putri dan menjaga Putri. Tapi Damar yakin, ia akan selalu bersama Putri, karena jantungnya telah berada di dalam tubuh Putri.


#FlashBackOff


Putri menangis sejadi-jadinya saat mendengar cerita Laras mengenai Damar yang rela mendonorkan jantungnya demi kesembuhan Putri.


Bukan hanya Putri yang menangis, tapi yang lainnya, terutama Anita. Anita tak kuasa menahan sedih saat anaknya telah tiada. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah keputusan Damar. Dan mereka harus bisa mengerti.