Nadhila Story

Nadhila Story
Hessel ke Kantin.



Jam istirahat kerja pun telah tiba. Nadhila dengan cepat keluar tanpa menyapa kedua Pria tampan yang berada di ruangan nya. Tio pun merasa aneh akan Nadhila yang kesal nya begitu awet, sedangkan Hessel malah tersenyum terus dengan asumsi keyakinan nya, Nadhila itu sedang cemburu.


Tio pun bangkit dari duduk nya bergegas ingin keluar ruangan, namun dengan cepat Hessel mengikuti nya. Dan menanyakan perihal Tio akan beristirahat di mana.


"Mau kemana?." Tanya Hessel


"Saya mau pergi ke kantin Pak." Jawab Tio.


"Kalau begitu saya juga ikut," ucap Hessel.


Tio pun mengangguk. Dan dengan cepat kedua pria tampan itu bergegas menuju kantin yang berada di lantai enam.


Di Kantin yang asal suara nya riuh, tiba-tiba hening karena kedatangan Sang Direktur Tampan, bersama Asisten Tampan nya.


Terlihat Nadhila sudah duduk di sebuah meja dengan kursi yang memanjang. Ricky datang menghampiri Meja Nadhila.


"Boleh aku duduk di sini?." Ijin Ricky bertanya terlebih dahulu kepada Nadhila.


"Silahkan." Jawab Nadhila tanpa senyum.


Ricky pun duduk di hadapan Nadhila dengan membawa semangkuk makanan yang sudah Ricky pesan. Ricky terus menatap Nadhila yang tidak sama sekali menoleh kepadanya. Ricky pun merasa Nadhila sedang tidak baik-baik saja.


"Are you okey?." Tanya Ricky.


Nadhila pun mendongak ke arah Ricky dengan mengangguk.


"Tapi di penglihatan ku. Kamu sedang tidak baik-baik aja Dhil." Tebak Ricky.


"Aku baik-baik saja." Ucap Nadhila.


Dengan mulai melirik ke sekelilingnya yang merasa sepi. Terlihat Tio datang menghampiri Meja Nadhila, dengan di Susul Sang Direktur.


Nadhila pun melotot akan melihat kedua pria tersebut. Tanpa berbicara sebelum nya Tio dan Hessel duduk di meja Nadhila. Dengan Tio duduk di sebelah Nadhila, sedangkan Hessel duduk di hadapan Nadhila samping Ricky.


"Pak..." Sapa Ricky kepada Hessel yang duduk di sebelahnya.


Hessel hanya sedikit mengangguk memberi jawaban kepada Ricky. Di meja itu pun hening tanpa ada yang memulai berbicara.


Nadhila yang merasa risih akan kehadiran kedua pria tersebut memilih menyudahi makan nya. Dan ia berlalu dengan begitu saja tanpa menyapa kepada pria yang duduk di meja nya.


Ricky pun merasa heran akan sikap Nadhila yang tidak menyapa atasan-atasan nya. Ricky pun kini mulai percaya akan hari kemarin Nadhila yang pulang bersama Hessel , yang di gosipkan Rere dan Bu Siska.


Jadi gosip itu benar.


Tapi kenapa mereka tampak sedang bertengkar tanpa saling **meny**apa.


Ricky berbicara di dalam hatinya.


Hessel dengan cepat berdiri, dan melangkah cepat berniat untuk menyusul Nadhila. Tio pun bergegas mengikuti kepergian bos nya itu dari belakang. Ricky yang tersisa sendiri di meja, ia bingung dengan akan sikap Nadhila bersama kedua pria itu.


Hessel menyusul Nadhila yang sedang berdiri di depan Lift. Hessel dengan cepat meraih tangan Nadhila. Sehingga Nadhila merasa kaget dan matanya melotot.


"Dhila. Kenapa kamu seperti ini, kenapa kamu mendiamkan saya?." Tanya Hessel dengan memegang tangan Nadhila.


Nadhila melotot ke arah tangan nya yang di pegang Hessel. Dengan cepat Nadhila melepaskan pegangan nya. Tio yang sedari tadi di belakang Hessel menyaksikan Bos nya itu yang memegang tangan Nadhila. Tiba-tiba rasa cemburu datang menjalar.


Tio dengan cepat menghampiri keduanya.


"Nanti di ruangan saja Pak di bicarakan nya." Saran Tio.


Hessel pun mengangguk, lalu Pintu Lift tersebut terbuka. Nadhila dengan cepat masuk ke dalam Lift tersebut, kemudian di susul Hessel dan Tio. Lift itu pun dengan cepat berhenti karena Mereka hanya turun ke lantai lima.


Nadhila melangkah berarah ke arah lain.


"Kenapa Dia belok ke sana?." Tanya Hessel kepada Tio.


"Nadhila, sepertinya pergi ke mushola Pak." Ucap Tio menjawab pertanyaan bos nya.


"Mushola?." Tanya Hessel yang merasa asing akan nama yang di ucapkan Tio.


"Iya Pak." Jawab Tio.


"Siapa Mushola?." Hessel pikir Mushola adalah orang.


"Hah...?." Tio pun tercengang akan pertanyaan Hessel yang menanyakan siapa Mushola.


Hessel yang tidak mendapat jawaban dari Tio, ia bergegas pergi ke arah Nadhila melangkah. Tio yang masih tercengang di tempat nya, Hessel tinggalkan.


Hessel melihat Nadhila yang melepaskan sepatu nya, dan mengganti dengan sendal jepit. Mata Hessel memandang mengelilingi tempat tersebut, lalu ia membaca kata Mushola di depan tempat tersebut.


Ternyata Mushola itu tempat beribadah.


Aku kira adalah Orang.


Hiss.... Ada apa dengan ku, kenapa menjadi seperti ini?.


Hessel bergumam di dalam hatinya. Kemudian Tio datang menghampiri.


"Bapak mau shalat?. Ayo kita sekalian berjamaah." Ajak Tio kepada Hessel.


"Shalat?." Hessel malah bertanya.


"Iya. Bapak Muslim kan?. Karena setahu saya Pak Wijaya seorang muslim." Tutur Tio.


Hessel menjawab dengan mengangguk.


"Ayo!." Tio dengan mulai melepaskan sepatu nya, dan menaruhnya di rak sepatu yang tersedia.


Hessel pun mengikuti semua gerakan Tio, dari berwudhu, sampai berdiri menunaikan shalat dzuhur tersebut hingga selesai.


Hati Hessel begitu tersentuh akan bacaan-bacaan yang Imam bacakan.


Kenapa keluarga ku tidak pernah menunjukan nya.


Bathin Hessel. Ia memang seorang Muslim. Namun keluarga nya tidak pernah mengajarkan apa itu islam. Karena hidup di luar negeri, Hessel hanya di berikan ilmu-ilmu kebisnisan keluarga nya untuk meraih keuntungan, dan cara menciptakan menghasilkan keuangan. Padahal semua itu harus seimbang antara bekal hidup di dunia, dan bekal hidup untuk di akhirat.


Hessel dan Tio pun masuk ke dalam ruangan. Terlihat sudah Ada Nadhila yang sedang duduk di kursi kerja nya.


"Pak Sekarang bapak selesaikan masalah bapak dengan Nadhila. Saya mau kembali ke ruangan saya." Bisik Tio memberikan Saran kepada Hessel untuk menyelesaikan masalahnya dengan Nadhila.


Hessel pun mengangguk.


Tio pun bergegas keluar ruangan memberikan kesempatan Hessel untuk berbicara dengan Nadhila.


Kini Hessel berdiri dan melangkah menghampiri Meja kerja Nadhila.


Ia duduk di sebuah kursi yang berada di hadapan meja Nadhila. Nadhila pun menoleh sebentar, lalu dengan cepat ia fokus kembali ke berkas-berkas yang sedang ia baca.


Ngapain sih Pak Hessel duduk di situ?.


*Tutur Nadhila di dalam hatinya.


Terlihat Hessel menatap lekat wajah Nadhila yang sedang fokus membaca itu. Lalu mengambil nafas dalam sebelum memulai pembicaraan nya.


"Dhila. Saya meminta waktu mu. Untuk menjelaskan perihal apa yang membuat mu seperti ini, mendiam kan saya tanpa saya ketahui apa penyebabnya." Ujar Hessel.


Nadhila pun menatap Hessel.


"Apa Bapak Sadar akan perlakuan bapak ketika tadi saat kedatangan pacar Anda?."


"Kamu cemburu?." Tanya Hessel. Akhirnya kata cemburu berhasil Hessel ucapkan.


"Hah?. Tentu Tidak." Jawab Nadhila dengan mata terbelalak.


"Lalu?. Kalau kamu tidak cemburu. Katakanlah penyebab kamu mendiami saya!." Suruh Hessel.


Nadhila menatap tajam bos nya itu.


"Bapak sudah lancang mencium tangan saya, dan memeluk saya itu penyebab nya. Walau pun saya sudah bekerja sama atas harus menjadi pacar pura-pura Bapak. Tapi Bapak tidak usah seenaknya seperti itu kepada saya yang sebagai bawahan bapak." Nadhila dengan jelas mengatakan apa penyebab dirinya mendiamkan Hessel.


Hessel malah terkekeh mendengar atas penuturan Nadhila. Seperti mencemoohkan Nadhila.


"Kamu jual mahal?." Ucap Hessel tidak memikirkan dahulu apa yang ia ucapkan.


"Tentu. Saya bukan wanita yang seenaknya bapak peluk dan cium. Saya menghormati diri saya sendiri, sebelum menghormati orang lain. Saya bukan wanita murahan Pak." Nadhila dengan merasa emosi akan pertanyaan Bos nya. Lalu ia pergi dengan meraih tas nya. Nadhila tidak perduli akan Bosnya yang akan memarahinya.


Hessel yang mendengar penuturan Nadhila Terdiam. Ia mencerna setiap perkataan Nadhila tadi. Ia tidak mencegah Nadhila yang tiba-tiba pergi dari ruangan nya. Hessel merasa ia tidak paham. Ia pun meraih ponsel nya untuk menelepon Tio.


Dan Tak lama Tio pun datang.


"Pak Bos ada apa memanggil saya?." Tanya nya setelah duduk di kursi.


Hessel pun mendekat dan menghampiri Tio.


"Saya ingin kamu menjelaskan akan wanita yang tidak mau di sentuh oleh pria." Tanya Hessel.


"Maksudnya?. Maaf saya belum paham akan ucapan bapak." Tio yang belum memahami.


"Ok. Saya jelaskan. Nadhila mendiami saya karena saya yang tadi telah lancang mencium tangan nya dan memeluk tubuhnya." Tutur Hessel.


Tio pun terperanjat akan penjelasan Bos nya, "Ya tentu itu Pak Bos lancang." Tio dengan kesal yang telah mendengar ungkapan Bos nya. Padahal tadi ia telah tahu dari Nadhila sendiri.


"Lalu apa alasan nya, Nadhila marah seperti itu?. Padahal itu hal wajar. Saya sampai berpikiran bahwa dia cemburu, lalu mendiami saya. Tapi saya salah." Tukas Hessel.


Tio menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak setuju akan ucapan Hessel yang mengatakan hal wajar.


"Hal wajar Bagi Pak Bos. Tapi tidak bagi Dhila. Nadhila itu istimewa. Tidak semua wanita membiarkan dirinya di sentuh oleh pria mana pun yang bukan Mahram nya, karena ia memegang norma-norma islam Itulah Nadhila." Tutur Tio.


Hessel mencerna semua perkataan Tio.


"Lalu apa itu Mahram?." Tanya Hessel kini.


Tio menghirup nafas dalam sebelum menjelaskan kepada Bos nya.


"Mahram adalah orang yang diharamkan untuk dinikahi karena nasab atau memiliki garis keturunan atau kekerabatan dalam syariat Islam." Jelas Tio.


Hessel Terdiam akan penjelasan Tio.


"Apa Pak Bos menyukai Nadhila?." Tiba-tiba Tio menanyakan hal itu.


Hessel yang terdiam terperanjat kaget akan pertanyaan Hessel.


Entahlah. Terkadang aku gak suka lihat ada lelaki yang mendekatinya.


Apa aku suka?. Tidak. Itu tidak mungkin.


*Bathin Hessel.


Hessel menjawab dengan menggeleng.


"Syukurlah. Kalau begitu?." Ucap Tio senang.


"Maksud nya?." Tanya Hessel heran.


"Iya Syukur. Jadi Saya tidak ada penghalang. Karena saya menyukai Nadhila sudah lama." Tutur Tio.


Hessel sedikit melotot akan penuturan Tio yang telah menyukai Nadhila pacar pura-pura nya.


Bersambung.