Nadhila Story

Nadhila Story
Bertemu Mami Hessel.



Beruntung Nadhila cepat-cepat pulang. Ternyata baru saja Nadhila masuk ke dalam kamar. Suara deru mesin mobil Hessel terdengar sudah berada di depan rumah. Nadhila langsung memasukkan pakaian yang baru saja ia beli ke dalam lemari, tanpa merapihkannya. Ia langsung bergegas keluar kamar dan menemui Hessel yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Hessel tersenyum menatap wajah Nadhila yang merasa lebih cantik di pandangan matanya. Jelas karena Nadhila baru saja pulang dari perawatan tubuh dan wajah. Dan kebetulan hari ini Nadhila sudah selesai dari masa menstruasinya.


"Mas," sapa Nadhila langsung meraih tangan Hessel, lalu ia cium punggung tangannya.


Hessel menatap terus pada wajah Nadhila tanpa menyahuti sapaan Nadhila. Membuat Nadhila malu dan salah tingkah.


"Mas ngapain terus natap aku seprti itu?" Nadhila mengatakannya seraya menunduk.


"Bentar," Hessel meraih dagu Nadhila, hingga kini mata Nadhila beradu pandang dengan mata milik Hessel.


"Ada yang aneh di sini?" ujar Hessel membuat Nadhila mengerutkan dahi tidak mengerti.


"Aneh?" kata Nadhila. "Apa Mas Hessel gak suka dengan perubahan wajahku?" lanjut Nadhila di dalam hati.


Hessel mengangguk, "Iya Aneh. Kamu terlihat lebih cantik!" tuturnya. Membuat Nadhila tersipu malu dan salah tingkah. Dan merasa lega perasaannya. Karena Hessel memujinya.


"Mas, mau mandi sekarang?" tanya Nadhila mengalihkan.


"Iya, boleh. Setelah itu kita pergi ke rumah Oma ya? ada Mami. Mami pulang mendadak setelah mendengar kita sudah menikah," ujar Hessel seraya membuka dasi yang melingkar di lehernya.


"Mami?" pekik Nadhila.


"Iya. Kamu mau 'kan ketemu Mami?" Hessel dengan menatap wajah Nadhila yang berubah menjadi sendu.


Nadhila bukan tidak mau bertemu dengan Maminya Hessel. Hanya saja Nadhila merasa minder, karena ia tahu keluarga Hessel adalah keluarga konglomerat. Sedangkan dirinya hanya dari keluarga biasa dan sekarang hidupnya hanya sebatang kara, jika tanpa Hessel.


"Aku--" Nadhila tidak melanjutkan ucapannya. Ia ragu untuk mengatakannya kepada Hessel.


"Aku, apa?" Hessel kini mengikis jarak antara dirinya dengan Nadhila.


"A-aku be-belum siap saja, Mas." Nadhila terbata karena gugup jarak tubuhnya dengan Hessel sudah sangat dekat. Hingga terasa hembusan nafas Hessel menerpa wajahnya.


Hessel mengecup bibir Nadhila sekilas, "Apa yang membuatmu tidak siap, hmm?" lalu tangannya membelai pipi Nadhila yang mulus.


Detak jantung Nadhila sudah tidak beraturan, di tambah kecupan singkat yang Hessel berikan membuat Nadhila semakin gugup saja. Apalagi dengan tangan Hessel yang kini membelai pipinya.


"Aku, hanya minder saja Mas."


Hessel menautkan kedua alisnya, "Minder?"


Nadhila menganggukkan kepala, "Aku tidak percaya diri, Mas. Bila harus bertemu dengan Mami," akhirnya Nadhila mengatakan yang sebenarnya.


Hessel menggeleng menampik apa yang Nadhila katakan. "Jangan khawatir, Mami baik kok." Hessel menenangkan. "Dan jangan kamu khawatirkan tentang itu. Yang penting saya bahagia bisa hidup bersama kamu, Nadhila Sahila Putri," tegas Hessel. Lalu merengkuh tubuh Nadhila untuk masuk ke dalam dekapannya.


Nadhila akhirnya mengangguk.


"Ya sudah. Mas mandi dulu, akan aku siapkan baju gantinya," kata Nadhila seraya lepas dari dekapan Hessel.


Hessel tersenyum lalu mengacak rambut Nadhila dengan gemas. Kemudian berlalu masuk ke dalam kamar. Nadhila pun mengikuti Hessel. Seraya menuju lemari untuk memilih baju ganti yang akan di kenakan Hessel nanti setelah mandi.


***


"Assalamualaikum," salam Hessel bersamaan dengan Nadhila saat memasuki rumah Keluarga Hessel.


Oma yang mendengar ucapan salam. Langsung bergegas menemui Nadhila dan Hessel yang masih berdiri di ambang pintu.


"Wa'alaikum salam," jawab Oma dengan tersenyum menatap Nadhila dan Hessel.


Hessel dan Nadhila silih berganti menyalami tangan Oma dengan mencium punggung tangannya.


"Ayo Masuk!" ajak Oma. Seraya tangannya merangkul bahu Nadhila menuntun untuk masuk ke dalam rumah.


Hessel tersenyum senang melihat Oma yang sepertinya menyukai Nadhila.


Ketiganya kini sudah duduk di sofa ruang tengah.


"Oma, Mami mana?" tanya Hessel.


"Mami kamu, tadi lagi keluar dulu. Katanya lagi ketemu sama temannya itu. Yang keponakannya juga di Jerman," sahut Oma.


Hessel hanya manggut-manggut saja.


Nadhila hanya tersenyum, "Bagaiamana Mas Hessel saja, Oma" ucap Nadhila menyerahkan kepada Hessel.


Lalu Oma menatap kepada Cucunya itu.


"Iya, Oma. Kami akan Nginap," Hessel dengan tersenyum.


Dan terdengar suara higheels yang di pakai seseorang melangkah ke arah ruangan dimana Nadhila, Hessel, dan Oma.


"Sayang?" Mami Hessel tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya, meminta Hessel untuk masuk ke dalam pelukannya.


Hessel dengan tersenyum ia bangkit dari duduknya, kemudian masuk kedalam pelukan Maminya.


"Mami dari mana?" tanya Hessel setelah lepas dari pelukan Mami.


"Mami baru menemui Yasmin teman baik Mami, tantenya si Rebecca itu," ujarnya. Kemudian Mami menatap ke arah Nadhila.


Nadhila yang sedari tadi menatap ke arahnya tersenyum, lalu bangkit dan menyalami tangan Mami. Membuat Mami tersenyum hangat.


"Ini istrimu?" tanya Mami dengan tatapan tertuju kepada Nadhila, seperti menatap selidik.


"Iya, Mami. Nadhila namanya," ucap Hessel memperkenalkan.


Mami terus menatap Nadhila dari atas hingga bawah. Membuat Nadhila merasa gugup walau terus menyunggingkan senyumannya.


"Ayo duduk lagi!" intrupsi dari Oma. Oma tahu kalau Mami Hessel seperti menyelidiki tampilan Nadhila. Dan Oma tahu kalau Nadhila sedang gugup.


"Ah iya, Ayo!" Mami pun duduk, begitu dengan Hessel dan Nadhila.


Pelayan datang menghidangkan minuman dan cemilan.


"Silahkan, Nyonya, Nona, Tuan Muda, dan Oma." Pelayan itu berucap seraya menunduk dan pergi berlalu.


"Nadhila, kamu sekolah lulusan apa?" Mami tiba-tiba menanyakan tentang pendidikan Nadhila. Membuat Hessel menatap Maminya sedikit memicing.


"Saya hanya lulusan Sarjana Ekonomi, Mami" ujar Nadhila merendah. Kebetulan Nadhila bisa menamatkan kuliahnya itu walau sambil bekerja paruh waktu. Hingga Nadhila lulus dan di terima di Perusahaan Milik Papinya Hessel.


Mami manggut-manggut. Kemudian bertanya kembali kepada Nadhila.


"Punya adik, atau Kakak?"


Nadhila tersenyum lalu menggeleng, "Tidak, Mami. Saya anak tunggal,"


"Jadi orang tuamu sudah meninggal?" belum puas Mami bertanya tentang Nadhila.


"Iya Mami," ujar Nadhila masih tersenyum.


"Apa tujuan mu, menikah dengan Hessel putra kesayangan kami?" Mami bertanya seperti itu, membuat Hessel ingin protes.


"Mami--"


"Diam. Mami hanya ingin tahu apa tujuannya," Mami sengaja memotong ucapan Hessel.


"Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir menikah dengan cepat. Apalagi menikah dengan Mas Hessel. Apalagi mempunyai tujuan lain. Saya hanya berharap mempunyai jodoh yang benar-benar menerima kekurangan dan kelebihan saya. Menyayangi saya, dan membimbing saya hingga dapat meraih Jannahnya," ujar Nadhila dengan tenang.


"Apa kamu tahu, Harta keluarga Hessel tidak akan habis hingga beberapa turunan?" Mami memberikan pertanyaan yang tidak dapat Nadhila mengerti.


Nadhila menggeleng, tentunya ia tidak tahu menahu soal itu.


"Delina, apa tujuanmu bertanya seperti itu?" pekik Oma. Yang sedari tadi terdiam mendengarkan apa saja yang di tanyakan Mami Hessel, menantunya.


"Aku hanya ingin tahu saja, Ma. Apa tujuannya, menikah dengan Hessel. Secara Hessel dari keluarga terpandang, dengan harta yang tidak bisa di ragukan," ucap Mami dengan bangga, seketika membuat sesak dada Nadhila.


Hessel menggeleng-gelengkan kepala, merasa tidak akan baik jika Maminya terus mengatakan tentang harta, apalagi menautkan dengan Nadhila.


"Mami. Jangan bertanya seperti itu!. Hessel tersinggung, Mi" pekiknya.


***


Bersambung...