
"Bagaimana Dokter Rendy. Apakah menantuku sakit parah?" tanya Oma saat masuk setelah Dokter Rendy membuka pintu kamar Delina.
Dokter Rendy menatap Oma dengan rasa tidak tega di dalam hatinya. Tapi, ia tetap harus menjalankan apa perintah dari Delina.
"Mohon maaf, Nyonya Margaret. Sepertinya Nyonya Delina mengidap sakit kanker. Namun itu baru perkiraan. Dan untuk memastikannya. Saya akan membawa Nyonya Delina ke rumah sakit sekarang juga," ucap Dokter Rendy dengan tenang pembawaannya walau di dalam hatinya baru kali ini ia berbohong dengan masalah kesehatan Pasien.
Setelah Dokter Rendy menyetujui permintaan Delina. Delina meminta Ia di diagnosis sakit Kanker yang sudah parah. Agar Hessel tidak bisa menolak atau beralasan mengelak atas permintaannya.
Oma menganga dengan perasaan yang begitu terkejut. Begitupun dengan Nadhila.
"Ya, lakukanlah Dok. Kalau bisa beri pengobatan yang terbaik untuk menantu saya!" pinta Oma dengan wajah khawatir.
Dokter Rendy mengangguk. "Maafkan saya ya Tuhan. Saya sudah berbohong!" ucapnya di dalam hati.
Kemudian Dokter Rendy menggendong tubuh Delina agar terlihat bahwa Delina benar-benar lemah. Oma dan Nadhila mengikuti dari belakang.
Dokter Rendy mendudukkan tubuh Delina di kursi samping kemudi. Oma dan Nadhila di persilahkan duduk di kursi belakang. Dengan cepat Dokter Rendy melajukan mobilnya untuk menuju rumah sakit terbesar yang berada di kota itu. Yaitu, Rumah Sakit Harapan.
Tidak berselang lama. Mobil yang di bawa Dokter Rendy memasuki pelataran Rumah Sakit. Dan dengan cepat ia meminta para perawat untuk membawa brangkar pasien untuk Delina.
Setelah itu Delina di baringkan di brangkar pasien dan di dorong menuju UGD.
Sementara Nadhila beserta Oma menunggu di ruang tunggu dengan rasa cemas.
"Nadhila, kamu coba hubungi suamimu!" titah Oma kemudian.
Nadhila mengangguk dengan gerakan cepat ia meraih benda pipihnya yang sedari tadi ia kantongi di saku celana.
"Hallo, Assalamualaikum Mas" ucap Nadhila setelah sambungan teleponnya tersambung.
"Wa'alikum salam, ada apa Dhila?" sahut Hessel di seberang telepon.
"Mas, Mami ...," pekik Nadhila dengan terisak. Ia begitu sedih setelah mendengar perkiraan Dokter Rendy dengan penyakit Delina.
"Ada apa dengan Mami?" pekik Hessel tidak kalah kaget.
"Mas. Lebih baik ke Rumah Sakit Harapan. Kami berada di depan ruang UGD," ucap Nadhila akhirnya tanpa memberitahukan keadaan Delina yang sebenarnya kepada Hessel.
"Ya sudah. Saya akan kesana sekarang. Assalamualaikum" ucap Hessel.
"Wa'alaikum salam, Mas" sambungan telepon pun terputus.
Nadhila menghela nafas. Dan mendekati Oma kembali.
"Bagaimana? apa Hessel mau kemari?" tanya Oma memastikan.
Nadhila mengangguk, "Iya, Oma. Mas Hessel sekarang langsung menuju kesini,"
Oma menatap sendu ke arah ruangan UGD dimana menantunya sedang di chek darah dan sebagainya oleh Dokter Rendy.
"Padahal Delina itu orangnya sangat menjaga kesehatan. Dari pola makan, dan pola kehidupannya," ungkap Oma yang berwajah sendu.
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin Oma. Setelah Yang Maha Kuasa sudah Berkehendak. Maka, kita tidak bisa menolaknya," sahut Nadhila menenangkan.
"Benar, Nak. Oma juga terkadang sudah berpikir bahwa hidup Oma sudah lebih baik. Namun, ternyata masih ada yang lebih baik lagi dari Oma. Mungkin seperti itu perumpamaannya,"
Nadhila tersenyum, "Maka kita sebagai makhluk tidak bisa mengelak atau menghindar setiap takdir yang sudah Allah gariskan. Begitupun, dengan perencanaan kita sebagai umat manusia."
Oma merasa tenang mendengarkan ucapan Nadhila yang selalu mengaitkan dengan Tuhan. Merasa nyaman mendengarnya dan merasakan kesejukan. Di tambah Oma merasa dirinya sudah lama tidak mengingat Tuhan yang sudah menciptakannya.
Tidak lama Hessel datang dengan berlari menghampiri Nadhila dan Oma yang duduk di depan ruang UGD.
"Assalamualaikum," salam Hessel.
"Wa'alaikum salam," jawab Oma dan Nadhila bersamaan.
"Bagaimana dengan keadaan Mami, apa Mami sakit parah?" tanya Hessel dengan raut wajah yang khawatir.
Hessel terdiam. Kemudian tidak lama pintu ruang UGD terbuka dan keluarlah Dokter Rendy dengan wajah tegang. Bagaimanapun ia tegang karena akan menyampaikan hal kebohongan kepada keluarga Delina.
"Dokter Rendy, bagaimana dengan keadaan Mami?" tanya Hessel mendekati Dokter Rendy.
"Mari, semuanya ikut keruangan saya!" Dokter Rendy dengan berlalu. Kemudian di ikuti Hessel, Oma dan Nadhila.
"Silahkan duduk!" Dokter Rendy dengan mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya. Lalu Hessel menurut beserta Oma, dan kebetulan kursi yang berada di hadapan meja Dokter Rendy hanya ada dua. Sementara Nadhila memilih duduk di sebuah sofa single yang jaraknya agak jauh dari meja Dokter Rendy.
Dokter Rendy menghela nafas, menampilkan raut wajah yang begitu berat untuk mengungkapkan keadaan Pasien kepada keluarganya. Walau bagaimana pun Dokter Rendy harus bersikap seolah penyakit itu benar-benar seperti di derita oleh Delina agar Hessel dan Oma mempercayainya.
"Dokter, bagaimana?" tanya Hessel langsung.
"Nyonya Delina, mengidap Kanker Mesothelioma." Ujar Dokter Rendy dengan wajah yang serius.
"Kanker?" pekik Hessel dengan wajah yang begitu terkejut.
Dokter Rendy mengangguk. "Banar, Tuan Muda,"
"Apa itu sangat membahayakan?"
"Tentu, Tuan. Karena sel kanker itu akan menyebar pada tubuh Nyonya. Dan kemungkinan hidup Nyonya bertahan tidak akan lama," tutur Dokter Rendy.
Hessel terdiam. Namun, kemudian ia terisak. Walau bagaimana pun ia begitu sedih dan serasa sesak di dadanya setelah mendengar penuturan Dokter Rendy.
"Apakah ada pengobatan yang terbaik di rumah sakit ini?" tanya Hessel kemudian dengan mata yang sudah berurai air mata.
"Ada, Tuan. Semoga saja, dengan pengobatan atau kemoterapi keadaan Nyonya akan membaik. Namun, dari sekarang saya sarankan. Agar Nyonya tidak banyak pikiran dan harus selalu bahagia," ujar Dokter Rendy mengatakan apa yang di perintahkan Delina saat di ruang UGD.
"Nanti akan saya sendiri. Ambilkan obatnya, dan mengurus Administrasinya sekarang Tuan dan Nyonya. Silahkan temui Nyonya Delina, dan bisa di bawa pulang sekarang juga" lanjut Dokter Rendy.
Hessel mengangguk, kemudian ia berdiri dan di susul oleh Oma begitupula Nadhila.
"Terima kasih, Dok. Kalau begitu, kami pamit" ucap Hessel. Kemudian meraih tangan Nadhila untuk ia genggam. Saat ini, Hessel membutuhkan penenang atas hatinya yang berkecamuk menahan sakit atas apa yang menimpa Mami Delina.
Dokter Rendy tersenyum menatap tautan tangan Hessel yang menggenggam tangan Nadhila.
"Dhila, saya minta. Tetaplah di samping saya, mau apapun yang terjadi!" pinta Hessel. Ketiganya kini sedang berjalan menuju ruang UGD dimana Delina masih berada di sana.
"In syaa Allah, Mas. Aku akan tetap ada di sampingmu. Jika itu permintaanmu," sahut Nadhila.
Oma tersenyum mendengar pembicaraan Cucu dan cucu menantunya. Oma pun berharap keduanya selalu bersama.
"Mami," pekik Hessel setelah membuka pintu ruang UGD. Hessel langsung berhambur memeluk tubuh Delina, dan menangis di balik punggung Maminya.
"Ada apa sayang kenapa kamu menangis?" tanya Delina yang berwajah pucat. Tentu pucat karena tidak memakai make-up yang tebal.
"Maafkan, Hessel Mi. Hessel telah membuat Mami banyak pikiran," ujar Hessel. Kemudian ia melerai pelukannya dan menatap sendu wajah Delina.
Delina mencoba tersenyum seolah ia mengatakan bahwa ia tidak apa-apa.
"Sudahlah, Nak. Mami sekarang hanya ingin pulang saja," pinta Delina. Tanpa menjawab ucapan maaf dari putranya.
"Tapi, Mi. Mami harus mau terus berobat ya!" kini Hessel yang meminta.
"Iya, Mami akan berobat. Mami juga ingin sembuh," imbuh Delina dengan mencoba tersenyum kepada Hessel.
"Lihat, putraku sudah mulai masuk ke dalam perangkapku. Tinggal satu lagi mencari cara untuk menjauhkan Putraku dengan wanita itu!" batin Delina dengan tersenyum senang tanpa ia ekspresikan. Rencananya perlahan berhasil. Meyakinkan putra dan Mertuanya percaya bahwa ia sedang sakit berat.
"Mami, duduk di kursi roda ya. Biar Hessel yang dorong," Hessel dengan sigap memapah tubuh Maminya dan mendorong kursi roda tersebut setelah Delina di pastikan duduk dengan nyaman.
Mereka pun akhirnya meninggalkan Rumah sakit tersebut.
Bersambung...