
Nadhila dan Tio menghampiri meja yang asalnya mereka duduki. Terlihat kini hanya Hessel yang duduk. Ia terduduk dengan menunduk.
"Pak Hessel ... saya pamit duluan," ucap Tio berpamitan. Membuat Hessel mendongak, dan menatap heran kepada Tio.
"Kalian sudah selesai bicara?" tanya Hessel memastikan.
Tio mengangguk.
"Ya sudah. Saya pamit. Mari Pak ... Mari, Dhila ...," Tio setelah berpamitan kepada keduanya pun langsung melangkah pergi.
Kini Nadhila mendudukkan tubuhnya, di kursinya bekas tadi. Keduanya saling terdiam. Nadhila masih memikirkan perasaan Tio, yang sudah ia tolak. Tapi, menolak dengan halus. Dengan tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
Sedangkan Hessel terdiam. Untuk mencari cara agar menolak ajakan Rebecca tadi. Ia tidak mau menemui Rebecca, apalagi menemuinya di Hotel. Tapi, jika benar cara itu membuat Rebecca berhenti mengganggu. Maka Hessel pun mencoba untuk menemuinya saja.
"Kita pulang sekarang?" tanya Hessel memecah keheningan antara keduanya.
Nadhila mengangguk.
Hessel bangkit berdiri, dan di susul Nadhila. Kini keduanya melangkah keluar area Cafe.
***
"Dhila ... ada yang saya akan bicarakan sama kamu," ucap Hessel.
Kini keduanya sudah terduduk di sofa. Dengan duduk saling berhadapan.
"Apa yang akan bapak bicarakan?"
Hessel menggeleng, "Bisa tidak panggil suami dengan benar?!" protesnya. "Mas, ya seperti tadi kamu memanggil saat saya mau meeting!," titahnya kini. Dengan mengingatkan hal tadi yang sempat Nadhila ucapkan.
Nadhila menggigit bibir bawahnya, untuk mengurangi kegugupannya.
"Iya, Mas" ujarnya lirih.
"Nah, begitu 'kan enak di dengar," seloroh Hessel.
"Oh, iya yang akan aku bicarakan adalah tentang Rebecca," ujar Hessel.
"Mas, tidak perlu membicarakannya kepada saya. Itu adalah urusan Mas," sanggah Nadhila langsung.
"Justru ada urusannya dengan kamu juga," tukas Hessel.
Nadhila menautkan kedua alisnya, "Apa, itu?"
Hessel menghembuskan nafas dengan kasar, "Dia masih tidak terima saya putuskan. Sehingga dia akan terus mendatangi saya. Dan saat saya menyuruh untuk dia berhenti mengganggu. Dia mengajukan syarat,"
"Syarat apa?"
"Dia meminta saya, untuk menemuinya di Hotel xx," jelas Hessel. Membuat mata Nadhila membola.
"Apa jangan-jangan, wanita itu akan mengajak Pak Hessel, tidur?!" batin Nadhila menerka.
"Jadi saya mohon. Kamu ikut dampingi saya. Saya sekarang suamimu, Nadhila. Maka saya tidak pantas menemui wanita lain. Apalagi menemuinya di belakangmu," jelas Hessel dengan sengaja menekankan setiap kalimatnya.
"Apa dia tidak akan marah, jika saya juga ikut?" selidik Nadhila.
"Makanya, saya akan memperjelaskan tentang status kita. Agar dia tahu. Dan tidak mengganggu saya lagi,"
"Kenapa melihat mantan kekasih Pak Hessel, membuat dada saya serasa sesak tadi. Bahkan makan pun sampai berubah tidak berselera," gumam Nadhila di dalam hatinya.
"Kamu mau ya, ikut bersama saya?" Hessel bertanya kembali. Karena melihat Nadhila yang malah terdiam.
Nadhila mengangguk.
"Sini!" titah Hessel kini dengan menepuk sofa sisinya yang kosong.
Nadhila pun menurut, ia melangkah dan duduk di samping Hessel. Tanpa Nadhila duga. Hessel langsung memeluk tubuhnya. Mencium puncak kepala, dengan menghirup wangi sampo dari rambutnya yang hitam.
"Mas," panggil Nadhila dengan lirih. Ia merasa ritme jantungnya kini tidak normal.
"Apa? tolong, biar dulu seperti ini" pinta Hessel. Ia tahu, bahwa Nadhila meminta mengurai pelukannya.
"Dan tolong biasakan! agar rumah tangga kita selalu harmonis, dan belajarlah mencintai saya," ujarnya.
"Cinta? apakah cinta itu seperti kenyamanan? atau ketertarikan. Dan ternyata aku merasa tertarik kepada kamu Pak Hessel ... walaupun kamu nyebelin kadang-kadang. Dan aku ternyata nyaman berada di dekatmu, apalagi di peluk seperti ini." gumam Nadhila di dalam hati.
Suara dering ponsel milik Hessel memekakan telinga. Sehingga Hessel meraih ponsel yang berada di atas meja tanpa mengurai pelukannya.
"Oma," gumam Hessel saat melihat nama panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
Dengan satu tangan masih memeluk Nadhila, ia mengangkat panggilan masuk dari Oma.
"Hallo Oma," sapa Hessel saat sudah tersambung.
"Ya Ampun Hessel ... kamu kemana saja. Kenapa kemarin sampai sekarang tidak pulang ke rumah? kamu kemana saja, Cucuku?"
Hessel terkekeh, "Maaf Oma ... Hessel sampai lupa tidak mengabari Oma. Bahwa Hessel berada di rumah istri Hessel,"
"What? istri? apa kamu mengigau, cucuku?"
"Tentu tidak, Oma" sanggah Hessel.
"Kau jangan coba-coba mengibuli Oma mu yang sudah renta ini!" sarkas Oma.
"Emang Hessel tukang kibul? enggak kali," ujar Hessel, kini tangannya mengusap-usap rambut Nadhila.
"Bawa datang ke rumah, sekarang juga!" pekik Oma langsung dengan menutup sambungan teleponnya.
"Hah?" Hessel tersenyum menatap panggilan di ponselnya yang sudah terputus.
Kini Hessel menatap seseorang yang sedari tadi ia peluk.
"Kamu, mau 'kan ketemu, Oma?" tanya Hessel.
Nadhila mengangguk, ia pernah ketemu dengan Oma Hessel. Dan pertemuan pertama tidak ada kesan menakutkan. Karena Oma seperti menyukai dirinya.
"Tapi, Mas. Kita harus tahlilan hari kedua ibu," ucap Nadhila dengan sendu.
"Oh, ya? maaf. Saya sampai lupa itu. Ya sudah ... setelah habis tahlilan. Bagaimana?"
"Iya, Mas. Kalau gitu, aku mandi dulu" Nadhila beranjak melangkah ke dalam kamarnya.
Hessel tersenyum saat menyadari, Nadhila tidak berucap resmi kepadanya. Kata 'Aku' yang baru saja ucapkan, menandakan bahwa Nadhila sudah merasa menerima keadaannya.
***
Nadhila dan Hessel kini sedang melakukan perjalanan menuju kediaman keluarga Hessel. Setelah, sebelumnya melaksanakan tahlilan meninggalnya mendiang Ibu Nadhila yang kedua harinya.
Menurut Hessel, Nadhila begitu tegar. Padahal kini Nadhila tidak memiliki siapapun lagi. Mungkin, sekarang hanya suaminya yang Nadhila punya.
Hessel dengan tangan kanan yang memegang setir, kini tangan kirinya meraih tangan kanan Nadhila. Hessel menggenggamnya dengan erat.
"Dhila ... terima kasih, kamu telah mau menjadi istri saya," ucap Hessel dengan jari jemarinya yang terpaut.
Nadhila merasa gugup dengan tangannya yang Hessel genggam. Tapi di dalah hatinya seakan berubah menghangat. Dan merasakan gelenyar asing menelusup pada tubuhnya.
"Seharusnya bukan Mas yang bicara seperti itu. Seharusnya aku. Mas mau menikahi aku, karena wasiat ibu. Dan yang paling mengejutkannya lagi, bahwa ternyata Mas mempunyai perasaan lebih. Terima kasih," ucap Nadhila dengan tersenyum. Senyuman yang begitu tulus. Senyuman yang mewakili rasa bahagia karena Hessel mau menikahinya.
Hessel sejenak terpukau dengan senyuman yang Nadhila berikan.
"Saya sebenarnya. Sudah jauh-jauh hari mempunyai perasaan lebih kepadamu. Namun, saat Tio mengatakan bahwa dia juga sama mempunyai perasaan kepadamu. Dari situ saya merasa ingin menyerah saja. Dan membiarkan Tio untuk menggapaimu. Karena saya tidak mengakuinya kepada Tio."
Hessel mengambil nafas sejenak, "Namun, semakin hari saya menepis perasaan itu. Semakin sesak rasanya. Apalagi di tambah dengar Tio mau melamar kamu. Sungguh saya sangat-sangat kesal, dan cemburu. Dan pada Akhirnya Tuhan memberikan jalan yang lain untuk membuat saya bersatu denganmu. Yaitu, dengan wasiat ibu. Tentu saya mau menikah dengan mu. Wanita yang sudah mencuri hati saya," tutur Hessel dengan panjang.
Sungguh Nadhila tertegun mendengarkan penuturan panjang dari Hessel yang mengatakan semua tentang perasaannya.
"Terima kasih, Mas" hanya ucapan terima kasih yang bisa Nadhila ucapkan. Nadhila bingung harus merespon seperti apa, ia tidak tahu harus bagaimana mengekspresikannya.
***
Bersambung.
Jangan Lupa dukung Author dengan like, Comment, dan Hadiah poinnya!
Dan Vote juga.
Terima kasih.